Ini Penjelasan Mengapa Intelijen Sri Lanka Bisa Kebobolan

Kamis, 25 April 2019 07:26 Reporter : Pandasurya Wijaya
Ini Penjelasan Mengapa Intelijen Sri Lanka Bisa Kebobolan Serangan di gereja Sri Lanka. ©REUTERS/Dinuka Liyanawatte

Merdeka.com - Serangan bom bunuh diri ke tiga gereja dan empat hotel di Sri Lanka Minggu lalu masih menyisakan teka-teki soal siapa dalang di balik kejadian memilukan ini. Tapi pertanyaan lain yang juga mengusik sebenarnya adalah mengapa kejadian ini tidak bisa dicegah?

Pemerintah Sri Lanka tidak perlu waktu lama untuk menuding kelompok militan Jemaah Tauhid Nasional (NTJ) sebagai dalang serangan yang menewaskan lebih dari 300 orang dan melukai 500 lainnya ini. Sementara kelompok ISIS mengklaim serangan itu lewat corong media mereka, Amaq.

Meski sekian bukti bisa muncul di kemudian hari namun gambaran atas bagaimana serangan ini bisa terjadi cukup menyesakkan hati. Serangan ini sesungguhnya bisa dicegah tapi sejumlah kesalahan membuat peristiwa ini terjadi.

Dikutip dari laman Foreign Policy, Selasa (23/4), pemerintah Sri Lanka gagal mengantisipasi ancaman dari kelompok militan yang punya hubungan dengan jaringan internasional. Mereka juga mengabaikan peringatan intelijen dan gagal untuk saling berbagi informasi di lingkaran mereka sendiri.

Setidaknya dua pekan lalu pejabat intelijen India dan Amerika Serikat memperingatkan intelijen Sri Lanka tentang adanya potensi serangan ke sejumlah gereja dan lokasi wisata di negara itu. Sepekan kemudian Kementerian Pertahanan menyampaikan informasi itu kepada kepolisian, lengkap dengan daftar nama dan alamat orang-orang yang berpotensi melancarkan serangan. Di antara nama-nama itu ada beberapa nama para pelaku serangan bom yang sebenarnya. Tapi aparat tidak berbuat apa-apa.

©CCTV/Siyatha News via REUTERS

Sejumlah catatan yang dirilis kantor inspektur kepolisian ke beberapa direktur instansi pemerintah, termasuk kepala Divisi Keamanan Kementerian, Divisi Keamanan Yudisial, dan Divisi Keamanan Diplomatik, juga mengabaikan ancaman dan daftar nama itu.

Para pejabat Sri Lanka juga sebelumnya sudah mendapat peringatan soal NTJ dari sejumlah komunitas muslim di sana. Wakil presiden Dewan Muslim Sri Lanka mengaku dia sudah memperingatkan pejabat intelijen militer soal kelompok ini sekitar tiga tahun lalu.

Tapi mengapa tidak seorang pun menanggapi dan mengambil tindakan atas peringatan ini? menurut Lydia Khalil, mantan penasihat intelijen di kepolisian Boston sekaligus pengamat kontra-terorisme di Kepolisian New York, jawabannya mungkin karena alasan politik: pemerintahan Sri Lanka saat ini terbelah dua. Satu pihak mendukung presiden dan satu lagi mendukung perdana menteri. Kedua kubu kini dalam keadaan bertikai.

Sri Lanka masih mengalami krisis konstitusi sejak tahun lalu ketika sang presiden (sekaligus menteri pertahanan) Maithripala Sirisena berupaya mencopot Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe dari jabatannya dan menggantinya dengan manta pemimpin otoritarian, Mahinda Rajapaksa.

Meski kudeta ini gagal tapi pertentangan kedua kubu terus berlanjut dan kendali lembaga keamanan masih menjadi perebutan. Di tengah kondisi ketika informasi bisa menjadi alat politik dan Sirisena memegang kendali pertahanan dan kepolisian sekaligus mengabaikan perdana menteri dari dewan keamanan, sudah tidak heran rasanya kalau pejabat di level rendah tidak mengambil tindakan apa pun atas informasi intelijen itu.

Tapi meski begitu, sejumlah pejabat keamanan harusnya tahu soal ancaman itu dan mengambil tindakan. Lagipula, dua kantor kementerian: menteri Telekomunikasi Harin Fernando dan Menteri Integrasi Nasional Mano Galesan, juga mengatakan mereka sudah mengetahui ada peringatan itu. Dalam pemerintahan yang terbelah, semuanya masalah biarkan jadi urusan orang lain.

Meski sudah ada peringatan soal potensi serangan teroris ke gereja dan tujuan turis, tidak ada peningkatan keamanan dari aparat atau penambahan petugas keamanan di lokasi-lokasi yang berisiko jadi target serangan di saat hari besar keagamaan. Tidak ada satu pun peringatan disampaikan ke pihak gereja atau lokasi wisata secara keseluruhan.

Kenyataan itu cukup aneh mengingat sejarah panjang kekerasan di Sri Lanka. Di masa ketegangan sektarian perang saudara, kelompok Macan Tamil kerap memakai pengebom bunuh diri untuk melancarkan aksinya. Tapi memang serangan semacam itu tidak pernah dipakai dalam pertikaian antara warga Buddha dan muslim dalam satu dekade terakhir. Maret lalu kerusuhan dipicu serangan massa terhadap warga muslim.

Para pejabat Sri Lanka tampaknya masih terjebak pada pertempuran melawan pemberontak Macan Tamil. Seperti disampaikan Samir Patil, direktur Pusat Gateway House untuk Keamanan Internasional dalam wawancara dengan Bloomberg: "Lembaga keamanan Sri Lanka masih terhanyut dengan pengalaman panjang mereka menghadapi pemberontakan berdarah. Otak mereka pola pikirnya masih untuk menghadapi serangan teroris yang berasal dari ekstremis Macan Tamil.

Di saat ketegangan di tengah masyarakat yang kian meningkat dan keberadaan ISIS di negara tetangga seperti Maladewa, Bangladesh, India, pengeboman di Sri Lanka lagi-lagi menunjukkan lemahnya antisipasi.

©REUTERS/Dinuka Liyanawatte

NTJ memang belum mengaku bertanggung jawab atas serangan ini. Tapi meski mereka terlibat, kecil kemungkinannya NTJ punya kemampuan untuk melancarkan aksi serangan bunuh diri yang terkoordinasi baik semacam ini.

ISIS memang sudah mengaku bertanggung jawab meski tanpa bukti, tapi tampaknya serangan di Sri Lanka ini tidak ada perintah langsung dari tokoh jihadis yang selama ini dikenal dunia internasional.

Serangan terkoordinasi dan canggih semacam ini butuh pendanaan dan jaringan logistik. Jaringan ini, jika terbukti benar dan sebelumnya sudah diawasi, bisa memberikan informasi berharga untuk mencegah serangan bom itu terjadi.

Secara keseluruhan, serangan bom di Minggu Paskah itu memperlihatkan betapa berbahayanya krisis politik yang masih terjadi di Sri Lanka dan ketegangan sektarian yang tak kunjung usai. Aparat juga tampaknya merasa masalah terorisme sudah berakhir ketika mereka berhasil mengalahkan Macan Tamil, padahal di sudut sana bahaya masih mengancam. [pan]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini