Ini Alasan Mengapa Tidak Ada Kasus Covid-19 di Negara-Negara Pasifik

Jumat, 22 Mei 2020 16:10 Reporter : Merdeka
Ini Alasan Mengapa Tidak Ada Kasus Covid-19 di Negara-Negara Pasifik negara kecil Vanuatu. South China Morning Post

Merdeka.com - Sejak Desember lalu pandemi Covid-19 menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hingga kini sudah lebih dari lima juta orang di berbagai negara terpapar virus corona dan angka kematian mencapai lebih dari 330.000.

Sejumlah negara masih berupaya menangani kasus positif sementara yang lainnya mulai melonggarkan pembatasan.

Namun beberapa negara hingga kini terhindar dari krisis Covid-19, misalnya kebanyakan negara pulau yang tersebar di Samudra Pasifik. Bagaimana mereka melakukannya?

Alasannya adalah kondisi geografis.

Jarak fisik yang saling berjauhan dari negara lain, ditambah dengan respons cepat pada tahap-tahap awal pandemi, tampaknya telah berhasil mengisolasi negara-negara pulau di Pasifik dari pandemi Covid-19. Negara-negara seperti Palau, Tuvalu, Kepulauan Marshall, Negara Federasi Mikronesia, Kiribati, Nauru, Kepulauan Solomon, Tonga dan Vanuatu hingga kini terhindar dari krisis virus corona Covid-19.

"Ada sejumlah alasan mengapa negara-negara ini dapat menghindari infeksi, tetapi yang terbesar adalah mereka diberkahi oleh isolasi geografis," kata Sheldon Yett dari Badan Anak-Anak PBB UNICEF, yang bertugas di 14 negara pulau di Pasifik seperti dikutip dari DW Indonesia, Jumat (22/5).

1 dari 3 halaman

Kapal Induk AS jadi "Hot Spot" di Pasifik

as jadi hot spot di pasifik

"Mereka juga sangat cepat melakukan pembatasan, kemudian memberlakukan larangan penerbangan komersil masuk, termasuk juga lalu lintas kapal. Artinya, sangat sulit bagi siapa saja yang mungkin memiliki virus untuk sampai ke tempat-tempat ini," kata Sheldon Yett, sambil menambahkan bahwa motivasi pemerintahan di pulau-pulau tersebut "sangat sederhana" dan tidak muluk-muluk.

Tapi ada beberapa pulau yang tidak mampu mencegah penyakit itu, misalnya Fiji, yang melaporkan sejumlah kasus, dan Guam, yang melaporkan jumlah signifikan dan menjadi salah satu "pusat penyebaran" di Pasifik.

Sebagian besar dari kasus infeksi di Guam berasal dari kapal induk AS, USS Theodore Roosevelt, yang merapat di Guam, setelah hampir 1.200 awak kapalnya dikonfirmasi terkena Corona COVID-19, dari total 5.680 awak kapal.

Sheldon Yett percaya, pemerintahan negara-negara Pasifik bertindak cepat karena mereka masih memiliki ingatan segar tentang penyakit lain yang telah menghantam komunitas mereka sebelumnya. Papua Nugini misalnya, selama setahun terakhir berjuang keras melawan wabah malaria dan TBC yang resistan terhadap obat. Selain itu masih ada wabah-wabah lain seperti demam berdarah.

2 dari 3 halaman

Pelajaran dari wabah campak

wabah campak

Namun wabah terburuk di Pasifik adalah wabah campak di Samoa, Agustus tahun lalu. Seorang penumpang yang datang dengan penerbangan dari Selandia Baru ternyata membawa penyakit campak, tanpa terdeteksi. Penyakit ini menyebar dengan cepat di Samoa dan baru dapat dikendalikan pada Januari tahun ini. Diperkirakan sekitar 5.520 orang telah terinfeksi - hampir 3 persen dari seluruh populasi - dan 83 orang telah meninggal.

Menghadapi pandemi Corona COVID-19, orang Samoa masih ingat betul wabah campak, kata Sheldon Yett. Jadi bagi mereka, kebutuhan menjaga jarak aman, mengenakan pelindung wajah, menutup sekolah dan bisnis, tetap tinggal di rumah dan membatasi kontak sosial bukan hal yang asing. Selain itu, mereka juga sudah mengenal langkah-langkah higienis untuk mencegah penyebaran virus.

"Kami mengalami masa yang sangat sulit dengan wabah campak, jadi ketika saya mendengar tentang virus baru ini, yang secara khusus menyebabkan penyakit paru-paru kronis atau masalah pernapasan, saya tahu kami harus bertindak cepat," kata Dr. Leausa Naseri, direktur jenderal kesehatan Samoa.

3 dari 3 halaman

Fasilitas kesehatan terbatas

"Kami yang paling cepat mengeluarkan peringatan perjalanan, pada 20 Januari lalu, dan langsung melarang penerbangan masuk dari Selandia Baru, Australia, Fiji, dan AS," katanya kepada DW. Selain pembatasan perjalanan, pemerintah Samoa juga melancarkan program edukasi kesehatan melalui media sosial, pusat-pusat komunitas dan gereja. Kapal-kapal yang membawa barang-barang kebutuhan dasar ke Samoa diperiksa dengan ketat di bawah peraturan karantina.

Sheldon Yett mengatakan, sangat beruntung bahwa begitu banyak pulau di Pasifik yang berhasil mencegah penyebaran Covid-19.

"Ini sangat penting, mengingat betapa rentannya masyarakat di sini," jelasnya.

Fasilitas layanan kesehatan kerap sangat terbatas, dengan hanya sedikit tempat untuk perawatan intensif, apalagi ventilator dan dokter terlatih yang sangat dibutuhkan jika infeksi kian meluas.

Sumber: Liputan6.com [pan]

Baca juga:
Uji Coba ke Hewan Sukses, Peneliti China Kian Dekat dengan Vaksin Corona
Para Pakar di Iran Sebut Gejala Infeksi Covid-19 Berubah, Tak Hanya Batuk & Demam
Arab Saudi Ancam Deportasi Pemilik Toko Jika Biarkan Ada Kerumunan Pembeli
Bank Dunia: 60 Juta Orang Bisa Jatuh Miskin Karena Pandemi Virus Corona
Hasil Penelitian: Monyet Kebal Virus Corona Setelah Terinfeksi
Pemerintah Wuhan Resmi Larang Konsumsi Hewan Liar
Cara Aman Bersosialisasi Menjalani Keadaan Normal Baru di Tengah Pandemi Covid-19

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini