Infeksi Covid di Mongolia Meningkat Setelah Setengah Penduduk Divaksinasi Penuh

Kamis, 10 Juni 2021 11:13 Reporter : Hari Ariyanti
Infeksi Covid di Mongolia Meningkat Setelah Setengah Penduduk Divaksinasi Penuh Kota Alashan Mongolia. ©AFP PHOTO/PATRICK BAZ

Merdeka.com - Kasus infeksi virus corona meningkat di Mongolia, di mana lebih dari setengah populasi telah divaksinasi penuh, memicu perhatian baru terkait efektivitas vaksin yang digunakan di negara tersebut yaitu vaksin Sinopharm China.

Mongolia melaporkan 1.312 kasus virus corona pada Rabu ketika total kasus infeksi negara itu mendekati angka 70.000, hampir semua tercatat sejak Januari. Kasus infeksi harian baru meningkat lebih dari 70 persen dalam dua pekan terakhir, menurut basis data New York Times.

Mongolia telah menandatangani kesepakatan 4,3 juta dosis vaksin Sinopharm dan 1 juta dosis vaksin Sputnik V Rusia, walaupun hanya 60.000 dosis vaksin Sputnik yang telah tiba di negara itu sejauh ini.

Vaksin China, seperti vaksin yang dibuat Sinopharm dan perusahaan lainnya, Sinovac, menggunakan virus corona yang tidak aktif untuk memicu respons kekebalan di dalam tubuh. Berdasarkan sejumlah penelitian, vaksin buatan China ini kurang efektif dibandingkan vaksin yang dikembangkan perusahaan farmasi Pfizer dan Moderna, yang menggunakan teknologi mRNA yang lebih baru.

Vaksin Sinopharm awalnya berada di bawah pengawasan karena kurangnya transparansi dalam data uji coba tahap akhir. Vaksin ini semakin dipertanyakan setelah kepulauan Seychelles, yang sangat bergantung pada Sinopharm untuk memvaksinasi populasinya, juga mengalami lonjakan kasus, meskipun kebanyakan orang tidak menjadi sakit parah.

“Vaksin yang tidak aktif seperti Sinovac dan Sinopharm tidak begitu melawan infeksi tetapi sangat efektif melawan penyakit parah,” jelas Ben Cowling, ahli epidemiologi dan biostatistik di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hong Kong, dikutip dari The New York Times, Kamis (10/6).

“Meskipun Mongolia tampaknya mengalami lonjakan infeksi dan kasus, harapan saya adalah tidak akan ada banyak rawat inap,” tambahnya.

Gelombang infeksi menimbulkan pertanyaan di Mongolia soal mengapa pemerintah mengandalkan suntikan Sinopharm daripada vaksin yang terbukti lebih efektif. Hal ini terjadi ketika warga Mongolia menuju ke tempat pemungutan suara pada Rabu untuk memilih presiden, pemilihan pertama sejak konstitusi diubah untuk membatasi presiden untuk satu masa jabatan enam tahun. Perdana menteri adalah kepala pemerintahan dan memegang kekuasaan eksekutif.

Setahun yang lalu, Mongolia termasuk di antara sedikit negara di dunia yang tidak memiliki kasus virus corona lokal, tetapi wabah pada November mengubahnya. Krisis politik terjadi dan unjuk rasa atas anggapan salah penanganan wabah menyebabkan perdana menteri mengundurkan diri pada Januari.

Perdana menteri baru, Oyun-Erdene Luvsannamsrai, telah berjanji untuk menghidupkan kembali ekonomi yang lesu dan mengakhiri pembatasan jarak sosial yang telah merugikan dunia bisnis. Gelombang kasus baru dapat mengancam batalnya janji perdana menteri ini. [pan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini