Identitas Salah Satu Pengebom Bunuh Diri Sri Lanka Terkuak, Pernah Kuliah Dirgantara

Kamis, 25 April 2019 16:14 Reporter : Merdeka
Identitas Salah Satu Pengebom Bunuh Diri Sri Lanka Terkuak, Pernah Kuliah Dirgantara Terduga pelaku bom gereja di Sri Lanka. ©CCTV/Siyatha News via REUTERS

Merdeka.com - Salah satu tersangka pengebom bunuh diri di Sri Lanka diketahui pernah kuliah di Inggris. Aparat keamanan menyebut namanya Abdul Latif Jamil Mohamad.

Abdul Latif pernah berkuliah di Kingston University, Inggris mengambil jurusan teknik dirgantara (aerospace), mengutip The Telegraph pada Kamis (25/4). Ia menghabiskan satu tahun di universitas yang terletak di London bagian barat daya itu untuk tahun akademik 2006 hingga 2007, menurut seorang sumber anonim.

Tidak diketahui apakah sang teroris yang terinspirasi ISIS itu sempat menyelesaikan kuliahnya. Saat ini, otoritas Inggris tengah menyelidiki di mana Abdul Latif pernah tinggal di Negeri Ratu Elizabeth itu.

Penyelidikan akan berfokus pencarian bukti terkait klaim bahwa Mohamed terlibat dalam badan mahasiswa Islam selama di Inggris, sebagaimana laporan media Inggris The Independent. Ia juga dicurigai memiliki hubungan dengan badan amal yang bekerja di Timur Tengah.

Nama Abdul Latif diberikan oleh pejabat keamanan Sri Lanka kepada agen intelijen di Inggris, menyusul pernyataan Menteri Pertahanan Ruwan Wijewardene bahwa salah satu pelaku bom bunuh diri sempat belajar di Negeri Ratu Elizabeth.

Dalam pengumuman itu, Wijiwardene mengumumkan bahwa para pelaku serangan berpendidikan baik dan berasal dari kelas menengah ke atas. Selain itu, sumber yang sama juga mengatakan mereka memiliki gelar master hukum.

Untuk diketahui, segera setelah meninggalkan Inggris sang bomber memulai program pascasarjana di Australia. Abdul lathief kemudian menetap di Sri Lanka, sepulangnya dari Negeri Kanguru.

Pelaku serangan itu adalah bagian dari sembilan bomber di delapan tempat pada Minggu Paskah, 21 April 2019. Adapun pagi ini publik kembali dikejutkan dengan sebuah ledakan di lahan kosong bagian belakang gedung pengadilan di dekat Kolombo.

Sementara itu seorang lagi dari sembilan pelaku bom diketahui berjenis kelamin perempuan, kata wakil Menteri Pertahanan Wijewardene kepada wartawan pada Rabu siang, mengutip the Straits Times.

Kesembilan pengebom bunuh diri melakukan aksinya di delapan tempat, yakni tiga gereja, empat hotel mewah, dan satu rumah warga. Sejauh ini korban tewas tercatat 359, dengan 500 orang lainnya luka-luka.

Insiden ledakan di sejumlah gereja itu terjadi saat para jemaat tengah khusyuk menunggu misa. Bom kemudian meledak pertama kali pada 08.45 di St. Anthony dan St. Sebastian. Ledakan kembali terjadi di Gereja Kota Batticaloa, pada pukul 09.05 bersamaan dengan sejumlah hotel.

Minggu siang, pukul 14.00 waktu setempat bom kembali meledak disusul dengan ledakan kedelapan 30 menit kemudian.

Saat ini, otoritas Sri Lanka telah menahan 58 orang yang dianggap terlibat serangan itu. 18 di antaranya berhasil ditangkap pada Selasa malam, 23 April 2019. Polisi mengatakan pada Rabu bahwa mereka mengendalikan ledakan dari motor trail yang mencurigakan, diparkir di dekat bioskop Savoy di ibu kota Sri Lanka, Kolombo. Tidak ada bahan peledak di dalam kendaraan.

Sebagian dari mereka diringkus dalam operasi yang menargetkan daerah-daerah dekat Gereja St. Sebastian di Negombo, utara ibu kota, menurut juru bicara kepolisian. Sejumlah tersangka lain berhasil ditahan di Sri Lanka barat, tempat kerusuhan terjadi pada 2014 lalu.

Reporter: Siti Khotimah

Sumber: Liputan6.com [pan]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini