Human Rights Watch: Putra Mendiang Raja Saudi Abdullah Ditangkap

Minggu, 10 Mei 2020 12:15 Reporter : Pandasurya Wijaya
Human Rights Watch: Putra Mendiang Raja Saudi Abdullah Ditangkap Raja Abdullah. ©www.english.rfi.fr

Merdeka.com - Lembaga pembela hak asasi Human Rights Watch kemarin mengatakan pemerintah Arab Saudi menahan putra mendiang Raja Abdullah.

Pangeran Faisal bin Abdullah ditahan tanpa bisa berkomunikasi dengan siapa pun dan kemungkinan dipaksa dihilangkan, kata HRW yang berbasis di New York, mengutip seorang sumber dekat kerajaan.

"Meski menuai kritikan, tindakan pemerintah Saudi di bawah kepemimpinan Muhammad bin Salman (MBS) tidak terbendung," kata MIchael Page, wakil direktur HRW untuk Timur Tengah, seperti dilansir laman Middle East Eye, Sabtu (10/5).

"Sekarang ada tambahan Pangeran Faisal yang ditahan selain ratusan orang lainnya tanpa alasan hukum yang jelas."

HRW mengatakan aparat keamanan mendatangi kediaman Pangeran Faisal pada 27 Maret lalu di sebelah timur laut Riyadh ketika dia tengah menjalani karantina mandiri lantaran pandemi corona. Dia ditangkap tanpa tuduhan pelanggaran hukum.

Keluarga tidak mengetahui di mana Pangeran Faisal kini berada dan khawatir dengan kondisi kesehatan dan jantungnya.

1 dari 2 halaman

Pangeran Faisal menempuh pendidikan di London, Inggris dan menjalin kedekatan dengan komunitas intelijen Saudi. Dia juga pernah menjabat sebagai kepala Palang Merah di Kerajaan Saudi.

Pangeran Faisal termasuk salah satu dari ratusan bangsawan, pengusaha, dan menteri yang ditahan di Hotel Ritz Carlton pada November 2017 karena menyerukan kampanye anti-korupsi. Mereka kemudian dilaporkan ditekan untuk menyerahkan sejumlah aset jika ingin dibebaskan.

Kerajaan Saudi mengklaim berhasil meraup lebih dari USD 1 miliar dari hasil penahanan itu. Sejumlah orang yang ditangkap mengaku dipukuli dan dipaksa patuh.

Di antara mereka yang ditangkap kala itu adalah putra dari Pangeran Faisal, termasuk Pangeran Mishal bin Abdullah; mantan gubernur Makkah, Pangeran Mutaib bin Abdullah, mantan Menteri Garda nasional; dan Pangeran Turki bin Abdullah, mantan gubernur Riyadh. Pangeran Turki kini masih dalam penahanan tanpa tuntutan apa pun.

2 dari 2 halaman

Pangeran Al-Waleed bin Talal yang dijuluki "Warren Buffet dari Arab" dan merupakan salah satu oransg terkaya di dunia ditahan selama tiga bulan sebelum akhirnya mencapai kesepakatan dengan aparat.

Maret tahun ini sebanyak 20 bangsawan kerajaan juga ditahan, termasuk Pangeran Ahmad bin Abdulaziz, kakak kandung Raja Salman dan Pangeran Muhammad bin Najef, mantan putra mahkota dan menteri dalam negeri yang posisinya sebagai calon pewaris takhta kerajaan digeser oleh MBS pada Juni 2007.

Middle East Eye melaporkan, kebijakan itu adalah tindakan aparat untuk memuluskan langkah Putra Mahkota dinobatkan sebagai Raja sebelum pertemuan G20 pada November nanti di Riyadh. [pan]

Baca juga:
Acara Televisi Arab Saudi Dikritik Karena Promosikan dan Puji Israel
Saudi Uji Coba Aplikasi 'Tawakkalna' untuk Pantau Pergerakan Warga Saat Jam Malam
Trump Ancam Saudi: Pangkas Pasokan Minyak atau Kehilangan Dukungan Militer
Setelah Hukum Cambuk, Arab Saudi Juga Hapus Hukuman Mati Bagi Anak di Bawah Umur
Saudi Akan Larang Hukuman Cambuk Tapi Potong Tangan dan Penggal Tetap Ada
Khawatir Tertular Corona, Raja Salman dan Pangeran MBS Isolasi Diri di Saudi
Mengupas Kekayaan Pangeran MBS yang Disebut-Sebut Bakal Dikudeta di Saudi
Pangeran Muhammad bin Salman, Penangkapan Keluarga Kerajaan & Kursi Kekuasaan

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Arab Saudi
  3. Ragam Konten
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini