Huawei Nyatakan Bersedia Tandatangani Perjanjian 'Tanpa Mata-Mata'

Rabu, 15 Mei 2019 14:56 Reporter : Hari Ariyanti
Huawei Nyatakan Bersedia Tandatangani Perjanjian 'Tanpa Mata-Mata' Huawei. © Businessweek.com

Merdeka.com - Pimpinan perusahaan Huawei, Liang Hua menyampaikan pihaknya bersedia menandatangani perjanjian tanpa mata-mata dengan pemerintah termasuk Inggris. Ini akibat kekhawatiran dari beberapa negara bahwa China memanfaatkan produk yang dibuat oleh perusahaan telekomunikasi untuk kegiatan mata-mata.

Perusahaan China ini telah membantah aktivitasnya menimbulkan risiko spionase atau sabotase. Huawei juga menyampaikan pihaknya independen dari pemerintah China, namun sejumlah negara telah memblokirnya dari jaringan 5G dengan alasan keamanan nasional.

Sebuah laporan baru-baru ini menyarankan Inggris mengizinkan perangkat telekomunikasi Huawei menjadi bagian dari jaringan 5G negara itu, dengan beberapa batasan.

"Kami bersedia menandatangani perjanjian tanpa mata-mata dengan pemerintah, termasuk pemerintah Inggris, untuk berkomitmen membuat peralatan kami memenuhi standar tanpa mata-mata, tanpa standar rahasia," kata Liang Hua melalui seorang penerjemah di sebuah konferensi bisnis di London pada Selasa, dilansir dari BBC, Rabu (15/5).

Huawei adalah perusahaan pembuat peralatan telekomunikasi terbesar di dunia. Perusahaan ini menghadapi serangan dari negara-negara Barat karena kekhawatiran atas keamanan produk-produknya yang digunakan dalam jaringan 5G generasi berikutnya.

Australia dan Selandia Baru memblokir penggunaan perangkat Huawei di jaringan seluler 5G mereka.

Amerika Serikat melarang pemerintah federal menggunakan produk Huawei dan menekan negara sekutunya untuk melakukan hal yang sama. Pada Rabu, Reuters melaporkan AS kemungkinan akan memperketat pembatasan pada Huawei. Hal ini karena Presiden Donald Trump diperkirakan akan menandatangani perintah eksekutif pekan ini yang melarang perusahaan-perusahaan AS menggunakan peralatan telekomunikasi yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan yang menimbulkan risiko keamanan nasional.

Langkah ini diambil saat ketegangan AS-China tengah meningkat. AS menaikkan lebih dari dua kali lipat tarif masuk barang-barang China sebesar USD 200 milyar pada hari Jumat dan China membalas dengan menaikkan tarifnya pada produk-produk AS. [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Huawei
  2. Mata Mata
  3. Intelijen
  4. China
  5. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini