Helikopter Militer Myanmar Tembaki Sekolah, 13 Orang Tewas Termasuk Anak-Anak

Selasa, 20 September 2022 12:00 Reporter : Hari Ariyanti
Helikopter Militer Myanmar Tembaki Sekolah, 13 Orang Tewas Termasuk Anak-Anak Militer Myanmar membakar sejumlah desa. ©Screengrab video Reuters

Merdeka.com - Helikopter militer Myanmar menyerang sekolah dan desa di utara negara tersebut pada Jumat lalu, menewaskan sedikitnya 13 orang termasuk tujuh anak-anak.

Serangan ini terjadi di desa Let Yet Kone, Tabayin atau dikenal juga sebagai Depayin, sekitar 110 kilometer di barat laut Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar.

Pengelola sekolah, Mar Mar mengatakan dia berusaha membawa para siswa bersembunyi di ruang kelas lantai bawah ketika dua dari empat helikopter Mi-35 yang berputar di utara desa itu mulai menyerang, menembak menggunakan senapan mesin dan senjata berat lainnya ke sekolah. Sekolah ini berlokasi di dalam area sebuah biara Buddha di desa itu.

Mar Mar bekerja di sekolah itu bersama 20 relawan yang mengajar 240 anak dari TK sampai Kelas Delapan. Dia bersembunyi di desa itu bersama tiga anaknya sejak melarikan diri dari kekerasan militer tahun lalu setelah ikut dalam gerakan pembangkangan publik untuk menentang kudeta militer. Dia menggunakan nama samaran Mar Mar untuk melindungi diri dan keluarganya.

"Karena para siswa tidak melakukan hal yang salah, saya tidak pernah terpikirkan mereka akan menembak dengan kejam menggunakan senapan mesin," jelasnya melalui telepon pada Senin, dikutip dari laman South China Morning Post, Selasa (20/9).

Saat dia dan para siswa serta guru berhasil berlindung di dalam kelas, satu guru dan seorang siswa berusia 7 tahun ditembak di leher dan kepala. Mar Mar harus menggunakan kain untuk menghentikan pendarahan.

"Mereka tetap menembak ke halaman dari udara selama satu jam," ujarnya.

"Mereka tidak berhenti semenit pun. Yang bisa kami lakukan saat itu hanya mengucapkan mantra-mantra Buddha."

Setelah serangan udara berhenti, sekitar 80 tentara memasuki halaman biara, menembak ke tempat ibadah tersebut.

Para tentara kemudian memerintahkan setiap orang di tempat tersebut keluar. Mar Mar melihat sekitar 30 siswa dengan luka di punggung, paha, wajah, dan bagian tubuh lainnya.

"Anak-anak itu mengatakan pada saya teman-teman mereka sekarat," ujarnya.

"Saya juga mendengar seorang siswa teriak, 'Sakit sekali. Saya tidak tahan. Tolong bunuh saja saya.' Suara itu masih bergema di telinga saya."

Dia mengatakan sedikitnya enam siswa tewas dan seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang bekerja di kolam ikan dekat desa itu juga tewas tertembak. Enam orang dewasa juga tewas dalam serangan tersebut. Jasad anak-anak tersebut dibawa tentara.

Lebih dari 20 orang, termasuk enam anak yang terluka dan tiga guru juga dibawa para tentara. Dua dari mereka yang ditangkap dituding menjadi anggota Pasukan Pertahanan Rakyat yang anti pemerintah, kelompok perlawanan terhadap militer.

Para tentara juga mmebakar sebuah rumah di desa itu, mendorong warga melarikan diri.

Seorang relawan di Tabayin yang membantu para pengungsi mengatakan jasad anak-anak tersebut dikremasi para tentara di dekat daerah Ye U.

Komite Hak-Hak Anak PBB mendokumentasikan, ada 260 serangan yang menyasar sekolah dan tim pendidik sejak kudeta. [pan]

Baca juga:
Selepas Kudeta Muncul Lonjakan Penyelundupan Narkoba & Hewan Langka di Asia Tenggara
Tembakan Mortir dari Myanmar Tewaskan Pemuda Rohingya di Bangladesh
Kian Pudarnya Kuasa Junta Seiring Bangkitnya Perlawanan Bersenjata
Aung San Suu Kyi Divonis Penjara Tiga Tahun dan Kerja Paksa

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini