Hari Pertama Idulfitri, Suatu Tempat di Gaza Sunyi Diliputi Ketakutan dan Teror

Jumat, 14 Mei 2021 16:35 Reporter : Hari Ariyanti
Hari Pertama Idulfitri, Suatu Tempat di Gaza Sunyi Diliputi Ketakutan dan Teror Kepanikan warga Palestina hindari gempuran Israel di Gaza. ©MOHAMMED ABED/AFP

Merdeka.com - Taksi itu dipenuhi berbagai barang keperluan keluarga untuk merayakan Idul Fitri, hari raya yang biasa penuh makanan lezat dan kue-kue serta baju baru, berubah menakutkan dengan serangan udara Israel yang menghantam Gaza.

Di dalam empat koper mereka, keluarga Al-Hatu – ibu, ayah, putra, putri – telah memastikan mengemas kaak dengan selai kurma, semacam kue yang biasanya disajikan untuk kawan dan kerabat selama Idul Fitri. Mereka juga membawa baju dan makanan untuk beberapa hari – tidak ada yang tahu kapan mereka bisa kembali pulang dengan aman ke rumah.

Sampai kondisi aman, untuk menghindari serangan udara, mereka akan tinggal bersama putri mereka lainnya, di Jalan Al Mughrabi, yang berjarak lima menit berkendara.

Mereka semua sepakat: merasa lebih aman jika mereka semua bersama-sama. Demikian disampaikan putra Al-Hatu, Mohammed al-Hatu (28).

Mereka masih menurunkan sedan Skoda putih milik pengemudi taksi di luar rumah sementara mereka sesaat sebelum Rabu siang ketika drone pertama menyerang.

Adik perempuan Mohammed Al-Hatu sudah membawa satu koper ke dalam. Mohammed, yang telah membawa koper lain, terhuyung-huyung ke ambang pintu gedung, berdarah, dan pingsan.

Di pinggir jalan, ayahnya, Said al-Hatu (65) dan sopir taksi berbaring tak bernyawa. Beberapa meter dari sana, ibunya, Maysoun al-Hatu (58), masih hidup tapi terluka parah.

“Selamatkan aku,” dia memohon kepada Yousef al-Draimly, seorang tetangganya yang bergegas turun, seperti disampaikan Yousef.

“Saya butuh ambulans. Selamatkan aku.”

Ambulans datang, tapi nyawa Maysoun tak tertolong.

Kurang dari semenit setelah serangan pertama, serangan drone kedua membelah jalanan, menewaskan dua pria: pegawai laundry di blok tersebut dan seorang pejalan kaki.

Seorang pria lain, seorang tukang cukur yang tokonya dekat laundry, terluka parah dan kakinya harus diamputasi.

Pada Kamis, hari pertama Idul Fitri, dan hari keempat pecahnya konflik terparah antara Israel dan Palestina selama bertahun-tahun, Kota Gaza sunyi dalam ketakutan dan penuh teror: serangan udara Israel yang tiba-tiba, deru roket Hamas yang meluncur ke arah Israel, teriakan orang-orang yang saling mencari, rintihan terakhir orang yang sekarat.

Pada hari raya yang biasanya dilakukan dengan mengunjungi kawan dan kerabat, jalan-jalan di Gaza hampir kosong, kecuali beberapa anak yang bermain dengan baju lebaran mereka.

Toko-toko yang menjual kacang-kacangan, cokelat, dan kue kaak ditutup, ribuan orang yang biasanya mereka layani berdesakan di rumah. Di sepanjang jalan biasanya ramai dengan kafe yang menawarkan jus, kopi, dan lainnya, hanya beberapa restoran yang buka, dan itu hanya untuk layanan pesan antar.

“Tadinya ada kehidupan di sini, tapi sekarang mengerikan,” kata Maher Alyan (55), yang tinggal di jalan di mana orang tua Mohammed al-Hatu terbunuh, dan yang menelepon ambulans setelah serangan udara.

“Ini bukan perasaan yang normal, melihat seorang pria sekarat di depanmu,” lanjutnya, dikutip dari The New York Times, Jumat (14/5).

2 dari 2 halaman

Jalan Al Mughrabi dipenuhi blok dan bangunan beton, dengan kabel listrik yang kusut di atas etalase kecil. Binatu, kios pangkas rambut, toko falafel, dan apotek berada di ujung jalan dari lokasi parkir taksi al-Hatus. Pada Kamis, darah masih mengotori trotoar.

Salah satu video yang diambil setelah serangan drone pertama dan diunggah di Facebook menunjukkan seorang pria bertopi putih dan berlumuran darah berbaring telungkup di sebuah gang dekat Skoda putih, yang atap dan sisi ringsek, jendela belakangnya pecah.

Video lain menunjukkan awan debu menggantung di atas TKP, dengan pria lain berbaring di trotoar. Orang ketiga terlihat bergerak ke arahnya, terhalang oleh debu kuning kecoklatan serangan kedua.

Kemudian pada hari itu, sebuah foto menunjukkan, dua mayat di dekat mobil telah ditutupi dengan tanda kuning. Salah satu koper abu-abu keluarga al-Hatus masih berdiri di trotoar.

Ketika drone pertama menyerang, pecahannya menewaskan seorang pekerja toko falafel dan mengenai Nader al-Ghazali, yang sedang menyetrika pakaian di laundry itu. Walaupun berdarah, Nader Al-Ghazali mencoba merangkak meninggalkan TKP.

Tukang cukur, Muawiyah al-Whaidi, berlari ke jalan, mencoba membantunya. Saat itulah serangan kedua mengguncang segalanya, gemuruh ledakan bercampur dengan jeritan kekagetan dan teriakan anak-anak.

Osama al-Sharafi (32) mengatakan dirinya bergegas keluar dari apotek tempatnya bekerja untuk membantu.

Dia berhenti di korban pertama, Mansour al-Draimly (65). Tubuhnya tertusuk pecahan yang beterbangan. Tongkatnya tergeletak miring di trotoar di sampingnya.

Dr Osama al-Sharafi mencoba menahan pendarahan, tetapi Mansour al-Draimly telah meninggal.
Bersamaan, Dr Osama al-Sharafi melihat seorang pria terluka terhuyung-huyung ke dalam apotek, berlumuran darah.

“Dia tercabik-cabik,” ujar Al-Sharafi.

“Dia seperti hantu.”

Belum pernah, katanya, dia melihat pembantaian seperti itu.

Ketika apoteker melihat ke jalan, dia melihat Muawiyah Al-Whaidi, tukang cukur, tergeletak di tanah, kakinya terluka parah. Dia tidak datang tepat waktu untuk membantu Nader al-Ghazali.

Saat itu, kata tetangga, temannya tidak bergerak. [pan]

Baca juga:
Tragis, Tiga Bocah Bersaudara di Jalur Gaza Tewas Akibat Gempuran Israel
Menteri Dalam Negeri Prancis Minta Polisi Larang Demo Pro Palestina di Paris
Hari Pertama Idulfitri, Suatu Tempat di Gaza Sunyi Diliputi Ketakutan dan Teror
Diserang dari Darat & Udara, Warga Gaza Sebut Hadapi Dua Musuh Yakni Israel & Covid
Kepanikan Warga Palestina Hindari Gempuran Israel di Jalur Gaza

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini