Guru dan Pelajar di Myanmar Tolak Masuk Kelas Ketika Junta Membuka Kembali Sekolah

Selasa, 1 Juni 2021 13:47 Reporter : Hari Ariyanti
Guru dan Pelajar di Myanmar Tolak Masuk Kelas Ketika Junta Membuka Kembali Sekolah Aksi Protes Kudeta Militer Myanmar. ©2021 REUTERS/Stringer

Merdeka.com - Sekolah di Myanmar dibuka kembali pada Selasa (1/6) untuk pertama kalinya sejak kudeta militer, tapi para guru dan siswa berencana menentang seruan junta untuk masuk kelas sebagai tanda perlawanan.

Junta bersikeras sekolah dibuka pada Selasa setelah setahun tutup karena Covid-19, tetapi banyak guru memutuskan mereka tidak dapat kembali bekerja.

“Saya tidak takut dengan penangkapan dan penyiksaan mereka,” kata Shwe Nadi (nama samara), guru dari Yangon kepada AFP.

“Saya takut menjadi guru yang mengajarkan propaganda kepada siswa,” lanjutnya, dilansir France 24, Selasa (1/6).

Pria berusia 28 tahun merupakan salah satu dari ribuan guru dan akademisi yang dipecat karena mendukung gerakan pembangkangan sipil.

“Tentu saja saya merasa tidak enak kehilangan pekerjaan karena saya senang menjadi guru. Meskipun tidak dibayar dengan baik, kami memiliki kebanggaan menjadi guru karena orang lain menghormati kami,” katanya.

Nu May - bukan nama sebenarnya - di negara bagian selatan Mon juga menolak kembali ke sekolah.

Guru SD ini tidak digaji selama berbulan-bulan setelah bergabung dengan gerakan boikot nasional.

"Ketika saya melihat bagaimana mereka telah membunuh banyak orang, saya merasa saya tidak ingin menjadi guru mereka lagi," tambahnya.

Baca Selanjutnya: "Kami tidak ingin pengkhianat"...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini