Gagalnya Aparat Keamanan AS Cegah Penembakan Massal yang Direncanakan Berbulan-Bulan

Selasa, 17 Mei 2022 12:52 Reporter : Pandasurya Wijaya
Gagalnya Aparat Keamanan AS Cegah Penembakan Massal yang Direncanakan Berbulan-Bulan Penembakan supermarket di AS. ©2022 AFP/JOHN NORMILE

Merdeka.com - Pemuda 18 tahun yang menjadi tersangka penembakan massal di Buffalo, New York, Amerika Serikat, Sabtu lalu sebelumnya sudah mengunjungi kota itu pada Maret lalu dan sehari sebelum menjalankan aksinya, kata polisi.

Badan Penyelidiki Federal (FBI) mengatakan Payton Gendron, 18 tahun, kulit putih, melakukan tindakan "kekerasan ekstrem bermotif rasial" ketika dia melepaskan tembakan dari senapan semi-otomatis Sabtu lalu di supermarket Tops Friendly Market di kawasan yang dihuni mayoritas warga kulit hitam. Sebelas dari 13 korban yang dia tembak adalah orang kulit hitam.

Sepuluh korban tewas dalam serangan yang disiarkan langsung di media sosial Twitch itu. Mereka adalah sembilan orang yang sedang berbelanja dan seorang pensiunan polisi yang bekerja sebagai petugas keamanan dan sempat kontak senjata dengan pelaku.

Gendron yang menurut polisi menyerahkan diri kepada petugas di lokasi kini ditahan tanpa jaminan dan dituntut atas kasus pembunuhan tingkat pertama. Dia mengaku tidak bersalah.

Para penyelidik mengatakan mereka kini tengah mencari jejak lewat catatan sambungan telepon, komputer, dan unggahan daring, serta bukti fisik setelah gambaran tentang sosok Gendron di masa lalu dan rencana yang dibuatnya muncul ke publik.

Harian the Washington Post (the Post) melaporkan, Gendron, warga Conklin, New York, dekat perbatasan Pennsyvania, menempuh perjalanan sejauh 320 kilometer dari Buffalo, lalu mampir ke supermarket Tops pada Maret lalu untuk melihat situasi lapangan dan menyiapkan penyerangan.

Waktu itu dia sempat ditegur oleh petugas keamanan yang mencurigainya, kata the Post, mengutip sebuah unggahan daring yang dilakukan seseorang yang mengaku bernama Gendron.

Komisaris Polisi Buffalo Joseph Gramaglia mengatakan dalam jumpa pers kemarin, pelaku pernah mendatangi Buffalo pada Maret lalu tapi dia menolah membenarkan rincian yang dilaporkan oleh the Washington Post atau media lain.

Dilansir dari laman Reuters, Selasa (17/5), aparat mengatakan pelaku kembali ke Buffalo Jumat lalu untuk mengecek tahap akhir pengenalan lokasi.

Gendron sudah masuk dalam radar perhatian aparat keamanan sejak Juni tahun lalu ketika polisi menangkapnya karena dia membuat ancaman terhadap sekolahnya, kata Gramaglia kepada wartawan. Dia sempat diberi evaluasi kesehatan mental dan dibebaskan 1,5 hari kemudian.

2 dari 2 halaman
gagalnya aparat keamanan as cegah penembakan massal yang direncanakan berbulan-bulan

The Post mengungkapkan perjalanan Gendron ke Buffalo Maret lalu ada dalam rincian pesan yang dikumpulkan sebanyak 589 halaman dan diunggah secara daring di situs media sosial tapi sekarang sudah dihapus.

Dalam dokumen itu disebutkan supermarket Tops sebagai "area serangan 1" dan menyebut dua lokasi di dekat situ juga sebagai target untuk "menembak semua orang kulit hitam", kata the Post. Penulis dokumen itu mengatakan dia menghitung ada 53 orang kulit hitam di Tops ketika dia mampir ke sana.

Polisi membenarkan mereka kini tengah menyelidiki unggahan daring Gendron, termasuk 180 halaman manifesto yang diyakini ditulisnya tentang "Teori Penggantian Besar", sebuah konspirasi rasis yang menyebut orang kulit putih akan tergantikan oleh kaum minoritas di AS dan di tempat lain.

Ahli mengatakan tren ini melibatkan sejumlah anak muda kulit putih yang terinspirasi tindakan pembunuhan massal bermotif rasis yang kini meningkat, seperti kasus penembakan di sebuah gereja kulit hitam pada 2015 di Charlestonm South Carolina, penembakan di sebuah sinagog di Pittsburgh 2018, dan penembakan di Walmart di lingkungan hispanik (keturunan latin) di kawasan El Paso.

Pemerintah federal, daerah, aparat setempat mengatakan mereka kini melipatgandakan kewaspadaan akan munculnya ancaman rasial baru yang beredar di media sosial. [pan]

Baca juga:
Rentetan Kasus Penembakan Massal Paling Mematikan di AS
Media Sosial Terbukti Gagal Mencegah Penyebaran Video Penembakan Massal di AS
Benarkah Video Game Jadi Pemicu Penembakan Massal di AS?
Imigran China Pelaku Penembakan di Gereja California Punya Motif Benci Orang Taiwan
Penembakan Massal di Gereja California, Satu Orang Tewas
Bermotif Rasial, Begini Detik-Detik Penembakan Brutal di Supermarket Buffalo AS

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini