Foto Polisi Berkuda Giring Pria Kulit Hitam Tuai Kemarahan di AS

Rabu, 7 Agustus 2019 15:51 Reporter : Hari Ariyanti
Foto Polisi Berkuda Giring Pria Kulit Hitam Tuai Kemarahan di AS polisi texas berkuda giring orang kuit hitam. ©Courtesy: Adrienne Bell/Twitter

Merdeka.com - Kemarahan publik meledak di Amerika Serikat (AS) setelah sebuah foto dua orang polisi kulit putih menunggang kuda dan menarik seorang pria kulit hitam dengan tangan terborgol menggunakan tali - menjadi viral. Foto itu mengingatkan pada kekerasan bersejarah yang panjang, perbudakan dan rasisme terhadap warga Afrika-Amerika saat era segregasi.

Kepala kepolisian Galveston, negara bagian Texas, Vernon Hale, menerbitkan permohonan maaf atas insiden tersebut, namun pernyataannya banyak dikritik karena dinilai sangat lemah.

Hale mengatakan, pria kulit hitam di dalam foto adalah Donald Neely, yang ditangkap pada Sabtu karena sebuah pelanggaran, seharusnya dibawa ke kantor dengan mobil polisi, dan bukannya oleh petugas yang menunggang kuda. Neely kemudian dikawal dengan berjalan kaki, ditarik seutas tali dan diapit oleh dua polisi.

"Meskipun ini adalah teknik yang terlatih dan praktik terbaik dalam beberapa skenario, saya percaya petugas kami menimbulkan penilaian yang buruk dalam hal ini," kata Hale, dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan pada hari Senin di Facebook, dilansir dari Aljazeera, Rabu (7/8).

"Pertama dan terutama saya harus minta maaf kepada Tuan Neely atas rasa malu yang tidak perlu terjadi ini," kata Hal seraya menambahkan bahwa kebijakan telah diubah sehingga teknik itu tidak akan lagi digunakan.

Neely kemudian dibebaskan. Dia tidak memiliki nomor telepon yang terdaftar dan tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar.

Hale mengatakan kepada The Galveston County Daily News bahwa dia secara teratur berbicara kepada para perwiranya tentang bagaimana tindakan mereka memengaruhi persepsi orang tentang departemen itu.

"Kalian harus menjaga citra yang kita perankan. Kami membicarakan ini ketika kami berbicara tentang penggunaan kekuatan, ketika kami berbicara tentang pengejaran kendaraan. Sejujurnya, saya tidak akan pernah menduganya dalam konteks para perwira tinggi," jelasnya.

Namun pernyataan Hale menimbulkan kekecewaan, sejumlah kelompok aktivis menilai tanggapan Hale lemah dan tak cukup. Dalam sebuah wawancara dengan Aljazeera, Clayborne Carson dari Universitas Stanford mengatakan insiden itu bukan hanya persoalan pelatihan para petugas polisi.

"Siapa pun yang memiliki sedikit kesadaran akan sejarah Amerika akan memahami implikasi dari melihat seorang pria kulit hitam diarak dengan cara itu. Itu beresonansi dengan aspek terburuk rasisme, kembali ke perbudakan," kata Carson.

Pihak lain menyerukan agar para perwira tersebut dihukum atau dipecat karena mempermalukan Neely dengan cara yang mengingatkan tindakan ekstrem rasisme masa lalu negara itu, atau bahkan penjahat terpidana yang dipamerkan di lapangan-lapangan publik.

"Ini 2019 dan bukan 1819," kata Presiden NAACP cabang Houston, James Douglas kepada Houston Chronicle.

Presiden NAACP Galveston, Mary Patrick mengatakan kepada Galveston County Daily News bahwa departemen itu memiliki kewajiban untuk menjelaskan tindakan para petugas kepada publik. Patrick kemudian mengatakan dia telah berbicara dengan Hale dan kepala polisi itu mendapat dukungan NAACP.

Calon presiden Demokrat 2020, Beto O'Rourke, yang berasal dari kota El Paso di Texas Barat, juga mengecam insiden itu.

"Momen ini menuntut pertanggungjawaban, keadilan, dan kejujuran - karena kita perlu menyerukan ini: rasisme di tempat kerja," tulisnya di Twitter. [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Amerika Serikat
  2. Rasis
  3. Rasisme
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini