Erdogan Berkeras Deportasi Tahanan ISIS ke Eropa dan AS

Rabu, 13 November 2019 15:05 Reporter : Hari Ariyanti
Erdogan Berkeras Deportasi Tahanan ISIS ke Eropa dan AS Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan memperingatkan negara-negara Barat bahwa pihaknya akan melanjutkan pembebasan anggota ISIS dan mendeportasi mereka ke negara asal jika Barat tetap menekan Turki dengan sejumlah sanksi.

Pada Selasa, sebelum bertolak dari Ankara menuju Amerika Serikat, Erdogan menyampaikan kepada wartawan dia mengincar negara-negara Uni Eropa yang telah mengusulkan sistem untuk menjatuhkan sanksi pada Turki atas pengeboran gasnya yang dinilai ilegal di Mediterania timur. Pernyataan tersebut disampaikan Erdogan sehari setelah Turki mengatakan mulai mendeportasi anggota ISIS yang telah ditangkap, memulai program memulangkan para tahanan yang berasal dari negara Eropa.

Erdogan juga menindak tegas seorang tahanan Amerika yang dideportasi pada Senin dan terdampar di perbatasan Yunani-Turki setelah ditolak polisi perbatasan Yunani. Pejabat Turki mengatakan pada hari Senin bahwa anggota ISIS yang merupakan warga AS itu ditangkap bulan lalu di Suriah timur laut.

"Kami mulai mengembalikan anggota ISIS ke negara mereka dan tentunya ada desakan serius," kata Erdogan dilansir dari New York Times, Rabu (13/11).

Dia menambahkan, Turki bertanggung jawab untuk menangani eksodus anggota ISIS, dan sekarang negara asal mereka harus memutuskan apa yang harus dilakukan.

"Bukan urusan kami jika mereka terjebak di perbatasan atau tidak," ujarnya menanggapi tahanan ISIS asal AS.

"Kami akan tetap memulangkan mereka, jadi jika mereka mau menerima atau tidak itu sama sekali bukan urusan kami," lanjutnya.

Berdasarkan pernyataan polisi Yunani, tahanan tersebut dikawal ke pos perbatasan Yunani pada hari Senin oleh petugas Turki. Namun tahanan itu mengatakan dia tidak ingin memasuki Yunani dan dikirim kembali ke Turki.

Kemudian pada hari itu, pria itu kembali ke pos perbatasan Yunani dan meminta izin memasuki wilayah Yunani, namun dia ditolak penjaga perbatasan Yunani. Pejabat Turki membantah bahwa pria itu telah dideportasi secara paksa dan mengatakan kepada media Turki bahwa ia telah meminta pergi ke Yunani daripada kembali ke AS.

Pada Senin dan Selasa, media berita Turki menayangkan gambar pria yang mondar-mandir dan melambai ke arah kamera dari zona penyangga antara kedua negara. Pria itu diidentifikasi sebagai Muhammad Darwish B, dalam laporan berita Turki, namun tidak mengungkapkan nama keluarganya. Dia keturunan Yordania tetapi memiliki paspor Amerika, kata laporan itu.

Pejabat Turki di perbatasan menggunakan kendaraan polisi untuk menghalangi pandangan daerah penyangga dan untuk mencegah pria tersebut berbicara kepada jurnalis melalui pagar. Juru bicara Kedutaan AS di Ankara mengatakan mengetahui kasus ini tetapi tidak dapat memberikan rincian lebih lanjut. Dia menambahkan bahwa layanan konsuler untuk pria itu sedang diatur.

1 dari 1 halaman

Prosedur Deportasi Mulai Pekan Ini

mulai pekan ini rev1

Warga Amerika tersebut adalah salah satu dari sejumlah orang yang dideportasi dari Turki, yang memiliki keterkaitan dengan ISIS. Prosedur deportasi 11 warga Prancis dan tujuh warga Jerman, bersama sejumlah orang lainnya dari Denmark dan Irlandia, akan dimulai pekan ini, menurut Menteri Dalam Negeri Turki.

Warga negara Prancis tersebut terdiri dari empat perempuan dan tujuh anak-anak, menurut laporan media Prancis. Lima dari anak-anak tersebut, berusia di bawah 4 tahun, menurut pengacara mereka, Marie DosÃ, yang mengatakan para perempuan tersebut itu telah meminta dipulangkan bertahun-tahun lalu dan ingin diadili di Prancis.

"Mereka telah mempertaruhkan nyawa dan anak-anak mereka untuk bergabung dengan Turki dan diusir ke Prancis," kata DosÃ.

Tiga perempuan melarikan diri bulan lalu dari kamp Ain Issa di timur laut Suriah setelah tempat itu ditinggalkan pasukan Kurdi. Para perempuan itu melarikan diri ke perbatasan Turki, 25 mil di utara, dan berada di bawah surat perintah penangkapan internasional, menurut DosÃ.

Ini bukan pertama kali warga negara Prancis dideportasi dari Turki. Ratusan anggota ISIS dan keluarganya telah kembali ke Prancis sejak negara tersebut menandatangani perjanjian pada 2014. Pada September, Turki mendeportasi tiga perempuan dan sembilan anak-anak, termasuk keponakan Fabien dan Jean-Michel Clain, dua tokoh penting ISIS yang dilaporkan tewas di Suriah pada Februari lalu.

Ancaman Erdogan untuk membebaskan tahanan ISIS dan juga untuk membuka pintu gerbang ke Eropa bagi pengungsi Suriah telah menyebabkan kekhawatiran di Eropa, pemimpin Turki akan menghadapi tekanan yang berbeda pada kunjungannya ke AS. Erdogan dijadwalkan bertemu Presiden Donald Trump di Washington pada Rabu.

Agenda lainnya adalah membahas terkait pembelian sistem rudal pertahanan S400 Rusia milik Turki. Para pejabat Amerika telah mendesak Turki untuk menjauh dari sistem Rusia atau menghadapi serangkaian sanksi. Erdogan awalnya melontarkan gagasan untuk membeli sistem rudal Patriot buatan Amerika, tetapi tidak jelas apakah langkah itu akan cukup untuk menghindari sanksi.

Erdogan mengatakan kepada wartawan Turki pada hari Selasa bahwa ia akan kembali meningkatkan permintaan lama yaitu ekstradisi Fethullah Gulen, seorang ulama yang dituduh berada di balik upaya kudeta Turki 2016. Erdogan juga akan mempertanyakan dukungan Amerika terhadap milisi Kurdi di Suriah yang dianggap Turki sebagai organisasi teroris. [pan]

Baca juga:
Buruh Migran Perempuan Asal Indonesia Jadi Target Perekrutan ISIS
Ditangkap Otoritas Turki, Istri Al-Baghdadi Banyak Bocorkan Soal ISIS
Temukan Tempat Aman di Irak, Militan ISIS Sedang Bangun Kekuatan untuk Bangkit Lagi
Turki Akan Pulangkan Tahanan ISIS ke Negara Asalnya
Sederet Keraguan Seputar Kematian Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi
Menlu Rusia: Baghdadi adalah Ciptaan Amerika

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini