Erdogan Ada di 'Tengah-Tengah' Konflik Iran dan AS

Kamis, 16 Januari 2020 12:23 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Erdogan Ada di 'Tengah-Tengah' Konflik Iran dan AS Presiden Recep Tayyip Erdogan. ©2017 Bloomberg

Merdeka.com - Konflik Iran dan Amerika Serikat belum usai. Sejumlah negara sekutu kedua negara mulai terlihat keterlibatannya dalam konflik itu. Namun Turki tak terlalu nampak. Turki memiliki hubungan yang cukup baik dengan Iran maupun Amerika Serikat. Lalu bagaimana sikap Turki atas konflik kedua negara tersebut?

Ternyata Turki lebih memilih berusaha mendamaikan kedua negara itu. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggunakan jalur diplomasi untuk meredakan konflik Iran dengan Amerika Serikat.

"Kami berusaha untuk meredakan ketegangan, menggunakan semua jalur diplomasi," kata Erdogan, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (16/1).

Berikut cara-cara yang dilakukan Erdogan untuk meredakan konflik Iran dan Amerika Serikat:

1 dari 4 halaman

Menghubungi Presiden Iran dan Irak

Presiden Erdogan melakukan pembicaraan lewat telepon dengan Presiden Iran Hasan Rouhani dan Presiden Irak Barham Salih. Pembicaraan itu dilakukan saat Teheran berjanji membalas AS atas pembunuhan Mayor Jenderal Qassim Soleimani dan pemimpin milisi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis.

Menurut salah satu sumber yang dikutip dari hurriyet daily news, pembicaraan antara Erdogan dengan Rouhani dan Salih membahas soal perkembangan terakhir di kawasan itu serta hubungan bilateral. Erdogan dan Salih menekankan bahwa kerja sama regional dan internasional diperlukan untuk menyelesaikan krisis di kawasan ini.

Kedua presiden juga sepakat bahwa perang melawan terorisme dan ideologi radikal akan membantu menstabilkan kawasan melalui kerja sama antara kedua negara.

Menurut sumber tersebut, Erdogan mengatakan kepada Salih bahwa Turki tidak mengizinkan Irak menjadi ladang konflik regional dan internasional.

2 dari 4 halaman

Melakukan Diskusi dengan Sejumlah Negara

Tak hanya itu saja, Presiden Erdogan juga membahas masalah ini dengan Presiden Prancis dan Qatar. Erdogan sempat melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada 3 Januari soal perkembangan regional di Timur Tengah dan Libya.

"Kami akan terus bekerja dengan negara lain untuk menyelesaikan masalah ini atau mengurangi ketegangan dalam beberapa hari mendatang," kata Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, dikutip dari Reuters.

3 dari 4 halaman

Mempererat Hubungan dengan Rusia

Presiden Erdogan setuju dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk terus mempererat hubungan antar dunia negara untuk mengurangi konflik di kawasan Irak. Karena Erdogan tak ingin Irak menjadi ladang konflik dan berimbas pada negara tetangga Irak. Erdogan juga mengatakan akan bekerjasama dengan Rusia untuk meredakan konflik kedua negara.

"Sebagai rakyat Turki, kami tidak ingin Irak, Suriah, Lebanon atau wilayah Teluk, tempat lebih dari 30 persen perdagangan energi maritim, menjadi medan pertempuran untuk perang pengawasan," tegasnya.

Dia juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas Irak, dan berjanji akan terus merangkul rakyat Irak di masa sulit ini.

"Keamanan saudara-saudari Turkmenistan Irak sama pentingnya bagi kami dengan keamanan warga negara kami sendiri. Seluruh rakyat Irak, baik itu orang Arab, Kurdi, Turkmen, Syiah atau Sunni, adalah saudara saudari kita," katanya.

"Kita hidup di dunia yang sulit. Sayangnya, ada beberapa tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan ketegangan di wilayah kami. Tetapi Turki dan Rusia memberikan contoh yang sangat berbeda," kata Putin.

4 dari 4 halaman

Peringatan Erdogan

Presiden Erdogan memperingatkan bahwa pernyataan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamanei untuk membalas dendam tidak boleh diabaikan. Kemudian dia menambahkan, ancaman Trump untuk menargetkan situs budaya Iran juga tak sangat bahaya.

"Ketegangan ini harus dikendalikan sebelum mencapai titik di mana semua pihak hancur. (Sejumlah kalangan) telah melakukan segala daya mereka untuk mengubah Timur Tengah menjadi mandi darah," katanya.

"Kami khawatir tentang risiko yang muncul setelah kematian Soleimani, terutama perdamaian dan stabilitas kawasan kami, terutama untuk Irak, karena konflik tidak akan berakhir di sini. Pasti akan ada proses selanjutnya," kata Erdogan. [dan]

Baca juga:
Iran Minta Pasukan AS dan Uni Eropa Segera Hengkang dari Timur Tengah
Ketika Rudal Iran Menghantam, Cerita Saat Amerika Kehilangan Mata di Langit Irak
Masa Depan Pasukan Amerika di Irak Setelah Pembunuhan Qassim Sulaimani
Deretan Senjata Buatan Rusia yang Dimiliki Iran, Siap Dipakai Jika Perang dengan AS
Konflik Iran-Amerika Serikat Makin Memperjelas Kawan dan Lawan di Timur Tengah

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini