Emmanuel Macron, Awalnya Dipuji Kini Dicaci dari Berbagai Sisi

Jumat, 20 November 2020 08:34 Reporter : Pandasurya Wijaya
Emmanuel Macron, Awalnya Dipuji Kini Dicaci dari Berbagai Sisi Presiden Prancis Emmanuel Macron. Reuters

Merdeka.com - 7 Mei 2017. Di hari Minggu yang cerah itu Emmanuel Macron terpilih sebagai presiden Prancis termuda pada usia 39 tahun. Perayaan kemenangan digelar di depan Piramida di Museum terkenal Louvre.

Hari itu terasa begitu cepat di tengah massa yang merayakan kemenangan Macron. Sebanyak 66 persen pemilih memilih Macron dan sebagian besar Eropa bernapas lega.

Macron mengalahkan kandidat beraliran kanan Marine Le Pen di pemilu putaran kedua. Peristiwa itu seolah memecah tren sosok populis yang menang pemilu di sejumlah negara Barat hingga menimbulkan gempa politik: terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS dan referendum di Inggris memilih pro-Brexit.

Di acara perayaan kemenangan di Museum Louvre itu, warga muslim Prancis keturunan Afrika Utara dan para pengungsi Suriah berdansa dan menari bersama banyak pasangan gay serta imigran Afrika. Mereka meneriakkan kata-kata penuh kegembiraan "Macron, sang presiden!"

Macron berjalan di atas panggung mengenakan jas hitam dan dasi diiringi lagu Ode to Joy, lagu kebangsaan Uni Eropa, ketimbang lagu kebangsaan Prancis La Marseille. Itu adalah simbol. Seandainya Marine Le Pen menang tentu dia tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk segera membawa Prancis keluar dari Uni Eropa.

"Mari cintai Prancis," kata Macron. "Hari ini kalian menang. Prancis menang."

Baca Selanjutnya: Gerakan Jaket Kuning...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini