Hot Issue

Elit Militer Myanmar Makin Didera Ketakutan karena Meningkatnya Perlawanan Rakyat

Kamis, 5 Mei 2022 07:27 Reporter : Hari Ariyanti
Elit Militer Myanmar Makin Didera Ketakutan karena Meningkatnya Perlawanan Rakyat Jenderal Min Aung Hlaing. ©istimewa

Merdeka.com - Para elit militer Myanmar tengah didera ketakutan. Ketakutan semacam ini tidak pernah terlihat sebelumnya sejak militer melakukan kudeta pertama kali pada 1962 yang dipimpin mendiang Jenderal Ne Win.

Ketakutan dan kecemasan yang melingkupi para diktator dan pengikutnya setelah merebut kekuasaan dengan paksa adalah kondisi psikologi normal, namun meningkatnya ketakutan yang mendera para elit militer Myanmar dan keluarganya saat ini sangat nyata dan rasional. Salah satunya karena gerakan perlawanan anti-kudeta yang semakin kuat di berbagai daerah.

Setelah kudeta pada 1 Februari 2021, militer melancarkan tindakan keras terhadap para pengunjuk rasa damai anti-kudeta di seluruh negeri. Muncul kekacauan dan teror di mana-mana. Militer membantai warga sipil, membakar desa-desa. Kekejaman itulah yang mendorong semakin menguatnya kelompok perlawanan anti kudeta di berbagai negara bagian.

Di samping itu, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) dan Dewan Permusyawaratan Persatuan Nasional (NUCC) membentuk aliansi politik nasional. NUG terdiri dari para politikus yang dilengserkan militer pada kudeta 2021. Meskipun aliansi ini masih dalam tahap awal, rezim militer dapat dikepung secara politik dalam waktu dekat. Sedangkan pada saat yang sama, militer sedang berjuang untuk mengatasi meningkatnya perlawanan bersenjata di seluruh negeri. Demikian analisis mantan aktivis pro demokrasi Myanmar,Zaw Tuseng, yang dimuat laman The Irrawaddy, situs berita independen Myanmar berbahasa Inggris.

Institut Strategi dan Kebijakan Myanmar melaporkan hampir 300 bentrokan antara Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF) bentukan NUG dan militer Myanmar di Sagaing dari Juli 2021 sampai Maret 2022. Lebih dari 20.000 orang Bamar mengungsi karena pertempuran dan penyerbuan pasukan junta serta serangan pembakaran.

Saat ini rezim militer menghadapi perlawanan bersenjata yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Pada saat bersamaan, bentrokan antara organisasi etnis bersenjata meningkat di sejumlah negara bagian seperti Kayah, Karen, Kachin, dan Chin. Perlawanan bersenjata terhadap rezim militer yang tidak sah meningkat di seluruh negeri.

Di Yangon, serangan pasukan perlawanan urban meningkat. Ini memaksa keluarga para pegawai negeri yang bekerja di Dewan Pemerintahan Negara (SAC) pindah ke markas junta militer di Naypyitaw, seperti dilaporkan Myanmar pada 22 April lalu.

Ketakutan yang dirasakan para keluarga personel junta militer juga meningkat. Mereka khawatir SAC tidak bisa melindungi mereka dari semakin meningkatnya kehadiran kelompok gerilya di Yangon.

Menurut seorang sumber yang dekat dengan satu keluarga militer di Yangin mengungkapkan, lebih dari 500 anggota keluarga tentara mengajukan visa tinggal di Thailand. Sementara itu, pendukung elit pro militer seperti Aye New Win, cucu mantan diktator Ne Win, terlihat menghabiskan lebih banyak waktu di Dubai.

Lebih dari 1.000 personel junta juga menjadi target serangan kelompok perlawanan di Yangon. Penembakan terbaru menargetkan Wakil Gubernur Bank Sentral Myanmar yang dikuasai junta, Than Than Swe. Mantan letnan komandan angkatan laut, Thein Aung, yang juga pejabat di Mytel Telecommunications Co yang dimiliki militer, ditembak di Yangon pada akhir 2021. Selain itu, lebih dari 80 menara Mytel di seluruh Myanmar dibom PDF.

2 dari 2 halaman

Sumber dana PDF

pdf rev1

Laporan Kementerian Pertahanan NUG pada Maret 2022 mengungkapkan, NUG telah menggelontorkan USD 30 juta atau sekitar Rp 432 miliar untuk mendukung PDF.

Meskipun jumlah itu kecil dibandingkan dengan anggaran militer junta sekitar USD 3 miliar untuk 2022-2023, gerakan perlawanan memiliki teknologi dan dukungan berkelanjutan dari publik yang percaya bahwa kediktatoran dapat diakhiri di Myanmar. Itu adalah elemen penting dalam perang melawan junta.

Bantuan dana untuk PDF juga berasal dari Helping Hands for Burma, diaspora Myanmar di New Jersey, Amerika Serikat, yang mengumpulkan hampir USD 150.000 pada 24 April tahun ini dari penjualan obligasi NUG dan pameran penggalangan dana.

PDF juga melakukan inovasi untuk merakit persenjataan sendiri. Senapan yang dirakit PDF harganya kurang dari USD 100. PDF lainnya menggunakan teknologi mutakhir seperti drone dan bom yang dikendalikan dari jarak jauh. [pan]

Baca juga:
Serangan Militer Myanmar Paksa Warga Tinggal di Dalam Gua
Bayang-Bayang Kelam Masa Lalu Menghantui Proses Perdamaian di Myanmar
Tangis Haru Ibunda Henz Anaknya Kini jadi TNI, Pangdam Pattimura Berpesan Begini
Junta Myanmar Tangkap Ratusan Anak-Anak dan Jadikan Mereka Tebusan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini