Dubes Iran Nilai 'Kesepakatan Abad Ini' Hasil Negosiasi AS dan Israel

Rabu, 5 Februari 2020 13:07 Reporter : Hari Ariyanti
Dubes Iran Nilai 'Kesepakatan Abad Ini' Hasil Negosiasi AS dan Israel Dubes Iran untuk RI, Mohammad Azad. ©Hari Ariyanti/Merdeka.com

Merdeka.com - 'Kesepakatan Abad Ini' atau Deal of the Century adalah proposal perdamaian Palestina-Israel yang ditawarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Proposal ini mendapat penolakan dari Palestina karena dinilai hanya menguntungkan Israel.

Penolakan juga disampaikan Iran. Iran menilai proposal ini sebagai 'pengkhianatan abad ini' yang akan menjadi mimpi buruk bagi negara di kawasan Timur Tengah. Demikian disampaikan Dubes Iran untuk Indonesia, Mohammad Azad saat bertemu dengan wartawan di rumah dinasnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (4/2) malam.

Azad menyampaikan, Iran siap bekerja sama dengan negara kawasan untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah. Melihat proposal yang ditawarkan Trump, menurutnya penyusunannya tak sesuai dengan norma internasional.

"Kelihatannya ini hasil negosiasi antara Amerika Serikat dengan rezim zionis Israel dan mereka sepakat atas pelaksanaannya. Terus di mana posisi negara lain?" kata dia.

Iran, lanjutnya, sejalan dengan Indonesia dalam menyikapi hal ini. Sebagaimana tertuang dalam UUD 1945, penjajahan dalam bentuk apapun di dunia harus dilawan.

"Tentu rezim zionis Israel sedang menjajah berbagai wilayah Palestina," tegasnya.

Azad menyampaikan, telah 70 tahun penjajahan Israel atas tanah Palestina berlangsung dan belum ada solusi atas persoalan tersebut. Menurutnya saat ini kedaulatan Palestina di wilayahnya sendiri hanya tinggal 5 persen.

1 dari 1 halaman

Tawarkan Referendum

Melalui perwakilan tetap di PBB, Iran menawarkan referendum di seluruh wilayah Palestina. Rakyat Palestina harus menentukan nasibnya sendiri.

"Kebijakan rezim zionis Israel yang menjajah dan menghegemoni sebaiknya adalah jalan keluar yang menyeluruh agar masyarakat di wilayah tersebut yang menentukan nasibnya di kemudian hari," ujarnya.

Usulan Iran ke PBB ini memiliki empat pilar. Salah satu pilarnya adalah seluruh pengungsi dari Palestina harus kembali ke wilayah mereka. Dalam referendum, akan ditanyakan langsung kepada seluruh masyarakat Palestina (Palestina sebelum Deklarasi Balfour). Penduduk Palestina dari berbagai golongan dan agama harus terlibat dalam referendum.

"Suara terbanyak akan menentukan rezim perpolitikan negara dan suara terbanyak juga akan menentukan nasib para pendatang ke wilayah Palestina. Dalam usulan ini tentu ada mekanisme pelaksanaannya juga. Seluruh golongan masyarakat, apapun kepercayaan mereka, mereka harus ikut berpartisipasi," jelasnya.

"Kemudian ada proyek internasional untuk mengidentifikasi Palestina sendiri. Proyek ini melakukan identifikasi terhadap para pengungsi Palestina di berbagai belahan dunia. Siapa yang melakukan eksekusi? Eksekusinya dilakukan oleh salah satu badan internasional di bawah pengawasan langsung PBB, melakukan identifikasi terhadap pengungsi Palestina," lanjutnya.

Azad menambahkan, usulan Iran ini telah disampaikan sejak lama. Dan usulan ini didasari nilai-nilai demokrasi dan HAM. [pan]

Baca juga:
Sederet Objek Wisata Iran yang Tak Banyak Diketahui Pelancong
Pesawat Maskapai Iran Tergelincir Hingga ke Jalan Raya
Misteri Jatuhnya Pesawat Militer AS & Sosok Agen CIA Otak Pembunuhan Qassim Sulaimani
Ancaman Amerika Serikat untuk Iran
Amerika Ancam Bunuh Pemimpin Baru Garda Revolusi Pengganti Qassim Sulaimani
Indonesia Nilai Tidak Ada Indikasi Perang Terbuka Iran Lawan Amerika Serikat

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini