Dua Sisi Mata Uang, Cerita Tentang Langit Biru India di Tengah Pandemi Corona

Kamis, 9 April 2020 08:03 Reporter : Pandasurya Wijaya
Dua Sisi Mata Uang, Cerita Tentang Langit Biru India di Tengah Pandemi Corona Taj Mahal. rajivawijesinha.wordpress.com

Merdeka.com - Di luar sana ada banyak cerita mencemaskan akibat pandemi corona ketika penduduk bumi harus menjalani karantina wilayah di daerahnya masing-masing.

Namun di salah satu kota paling parah polusinya di muka bumi, tempat di mana warga rutin memakai masker karena udara yang tidak sehat, sesuatu yang indah dan langka muncul ke permukaan: birunya langit di New Delhi, India.

Kendaraan di jalanan kota kini hanya segelintir, pabrik juga berhenti mengeluarkan asap pekat dan hampir tidak ada proyek bangunan yang kerap memicu debu kotor. Pencemaran udara di New Delhi kini turun drastis secara mengejutkan.

Bintang-bintang kini bertaburan di langit malam. Di siang hari udara sangat bersih, bebas dari partikel-partikel metal berbahaya. Buruknya pandemi corona ini adalah taman-taman kini ditutup, warga diharuskan tetap berada di rumah kecuali ada keperluan mendesak dan suramnya perekonomian membuat jutaan orang tak bisa bekerja.

Tapi bagi warga lama Delhi, udara di kota itu tak pernah sebersih ini selama bertahun-tahun.

"Saya jadi sering menatap langit dan menikmati birunya cakrawala dari balkon rumah saya," ujar Sudhir Kumar Bose, 80 tahun, seorang pensiunan profesor, seperti dikutip dari laman the New York Times, Rabu (8/4).

"Saya tidak tahu ini akan berapa lama. Tapi saat ini saya merasa lebih nyaman."

1 dari 2 halaman

Bukan hanya Delhi, tapi Chennai, Ahmedabad, Bengalurun dan Ghaziabad. Di seantero India, kota-kota kini bisa bernapas. Los Angeles, Beijing, New York, Seoul, Milan, semuanya mengalami penurunan polusi udara lantaran pandemi corona yang membuat orang tidak bisa bergerak bebas keluar rumah. Tapi kota-kota itu sebelumnya tidak separah India. Tahun lalu India berada di ranking pertama sebagai negara paling berpolusi. Sebanyak 14 dari 20 kota di India memiliki kondisi udara yang berbahaya bagi kesehatan. Delhi juga termasuk di antaranya. Tapi pekan lalu indeks polusi udara di Delhi berada di angka 38, sama bagusnya dengan di lokasi lain di dunia.

"Pasien tua saya bilang mereka tidak percaya dengan ini," kata Dr Arvind Kumar, dokter bedah di Delhi yang mempelajari dampak buruknya kualitas udara di suatu tempat.

"Mereka merasa lebih ringan, tidak banyak memakai alat bantu pernapasan. Sebagian besar merasa lebih nyaman."

2 dari 2 halaman

Tentu saja semua orang merasakan, ini semua adalah pertanda mandeknya ekonomi. Seperti dua sisi dari sekeping mata uang, langit biru adalah konsekuensi dari ketatnya karantina wilayah. Salah satu kota terbesar di dunia ini kini menutup pabrik-pabrik, penerbangan dihentikan, taksi dilarang, becak dan bus penuh penumpang di jalanan kini tinggal cerita. Sebagian besar rakyat India menaati aturan untuk tetap berada di rumah. Inilah peristiwa karantina wilayah yang mencakup 1,3 miliar manusia.

Para aktivis lingkungan menyoroti hal ini untuk menegaskan maksud mereka selama ini. Salah satunya adalah Jai Dhar Gupta, aktivis lingkungan yang bertahun-tahun berupaya menentang stigma yang menyebut India sudah ditakdirkan punya udara yang buruk karena posisi geografi dan iklimnya.

"Sudah jelas," kata dia. "Ini (polusi udara) bukanlah sesuatu yang tidak bisa kita pulihkan. Kita baru saja memulihkannya."

Sejumlah kota yang berjarak ratusan kilometer dari Pegunungan Himalaya sekarang bisa melihat puncak salju dari kejauhan. Sebagian orang kemudian berseloroh mereka bisa melihat Kanada dari Punjab. Yang lain bilang, saking bersihnya langit mereka akan segera bisa melihat Tuhan. [pan]

Baca juga:
Lahir di Tengah Pandemi, 5 Bayi Ini Diberi Nama Unik
Pandemi Corona, Maut Mengintai di Sudut-Sudut Paling Kumuh India
Menyalakan Lilin dan Obor Jadi Simbol Melawan Corona di India
India Kerahkan Drone untuk Awasi Aktivitas Warga

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini