Dua Negara Ini Jadi Ancaman Serangan Intelijen dan Siber Terbesar bagi AS

Rabu, 30 Januari 2019 07:31 Reporter : Pandasurya Wijaya
Dua Negara Ini Jadi Ancaman Serangan Intelijen dan Siber Terbesar bagi AS pejabat intelijen as di depan senat. ©Reuters

Merdeka.com - Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat Dan Coats kemarin mengatakan Rusia dan China menjadi ancaman serangan intelijen dan siber terbesar bagi AS. Ancaman itu lebih besar daripada sebelumnya.

Di saat kedua negara itu memperluas pengaruh mereka secara global, sejumlah sekutu AS kini menarik dukungan sebagai bagian dari perubahan sikap mereka terhadap kebijakan keamanan dan perdagangan AS.

"China, Rusia, Iran, dan Korea Utara, kini meningkatkan operasi siber mereka dengan berbagai cara untuk mencuri informasi, mempengaruhi warga kita, atau mengganggu infrasturktur yang rentan," kata Coats, seperti dilansir laman Channel News Asia, Selasa (29/1).

"Hubungan Moskow dan Beijing kini lebih dekat dari pada beberapa dekade sebelumnya," ujar Coats dalam pertemuan tahunan dengan Komite Intelijen Senat membahas ancaman global. Coats berbicara di depan Senat AS bersama direktur FBI, CIA, dan pejabat intelijen lainnya.

Dia juga mengatakan beberapa negara sekutu AS kini ingin independen, sebagai bagian dari respons mereka terhadpa perubahan kebijakan keaman dan perdagangan AS. Mereka kini membuka kemungkinan untuk hubungan kerja sama baru.

"Usai Perang Dunia Kedua, sistem internasional kini dalam kondisi menegangkan lantaran ancaman serangan siber, senjata pemusnah massal, kompetisi di luar angkasa, dan konflik regional," kata Coats.

Musuh-musuh AS kini tampaknya ingin campur tangan dalam pemilu AS 2020 nanti dengan kemampuan dan strategi baru.

Dia mengatakan media sosial Rusia akan terus berupaya menggoreng isu ketegangan rasial, ketidakpercayaan terhadap pemerintah, dan mengkritisi politisi yang anti-Rusia.

Senator Mark Warner, ketua panel dari Demokrat, dalam pidato pembukanya menuturkan dia khawatir dengan media sosial di Rusia yang membesar-besarkan perbedaan di tengah masyarakat dan mempengaruhi proses demokrasi serta ancaman China di bidang teknologi.

pendiri huawei ren zhengfei dan xi jinping Reuters/Matthew Lloyd

Kementerian Kehakiman Amerika Serikat mendakwa perusahaan telekomunikasi China, Huawei, dan kepala keuangannya Meng Wanzhou.

AS mendakwa Huawei dan putri bos perusahaan itu, Meng dengan tuduhan penipuan bank, menghalangi proses hukum, dan pencurian teknologi, demikian seperti dilansir BBC, Selasa (29/1).

Kasus ini disebut-sebut bisa meningkatkan ketegangan antara China dan AS, dan berdampak pada upaya ekspansi global Huawei. Sejauh ini Meng Wanzhou dan Huawei membantah tuduhan AS.

Meng Wanzhou ditangkap di Kanada bulan lalu atas permintaan AS yang menuduh putri pendiri Huawei itu menghindari sanksi Amerika terhadap Iran.

"Selama bertahun-tahun, perusahaan-perusahaan China telah melanggar undang-undang ekspor kami dan merusak sanksi, seringkali menggunakan sistem keuangan AS untuk memfasilitasi kegiatan ilegal mereka. Ini akan berakhir," kata Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross mengumumkan dakwaan itu.

Dalam sebuah pernyataan, Huawei menolak tuduhan itu, dengan mengatakan pihaknya tidak melakukan "salah satu dari pelanggaran yang dinyatakan" dan bahwa "tidak mengetahui adanya kesalahan oleh Nona Meng." [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini