Donald Trump Usul Hentikan Badai dengan Bom Nuklir

Senin, 26 Agustus 2019 11:41 Reporter : Merdeka
Donald Trump Usul Hentikan Badai dengan Bom Nuklir trump usul hentikan badai dengan nuklir. ©Zach Gibson/AF

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan beberapa kali menanyakan, mengapa militer tidak dapat meluncurkan nuklir untuk mencegah badai.

Dalam pertemuan dengan pejabat keamanan nasional yang membahas soal ancaman badai, Trump mempertanyakan kemungkinan menghalau badai dengan bom nuklir.

"Badai mulai terbentuk di lepas pantai Afrika, saat dia (badai) bergerak melintasi Atlantik, kami menjatuhkan bom di dalam mata badai dan itu mengacaukannya. Kenapa kita tidak bisa melakukan itu?" ungkap Trump di tengah pembahasan, seperti yang dikutip oleh The Guardian, Senin (26/8).

Seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya menanggapi komentar Trump dengan mengatakan akan meninjau kemungkinan tersebut.

Pada kesempatan lain di tahun 2017, Trump dilaporkan pernah mengemukakan masalah yang sama dengan seorang pejabat administrasi senior. Percakapan kala itu direkam dalam memo dewan keamanan nasional.

Tak lama setelah Trump berkuasa, National Geographic pernah menerbitkan sebuah artikel tentang seberapa sering ide melawan badai dengan nuklir itu diutarakan.

"Ini adalah pemikiran yang menarik, terutama ketika selama musim badai kita setiap tahun diingatkan akan kehancuran yang luar biasa," tulis artikel tersebut.

National Geographic juga melaporkan, setiap tahunnya selama enam dekade terakhir, lembaga pemerintah telah menerima laporan resmi dari warga yang mendesak serangan terhadap badai dengan menggunakan nuklir.

Dalam artikel berjudul Nuking Hurricane: The Surprising History of a Really Bad Idea, tercatat kutipan pihak Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional yang mengatakan bahwa ide melawan badai dengan nuklir adalah ide yang buruk.

Sementara itu, pihak Gedung Putih menolak memberi tanggapan soal kelanjutan rencana Trump dan tim keamanan nasional untuk melawan badai.

"Kami tidak mengomentari diskusi tertutup bahwa presiden mungkin atau tidak memiliki (kesepakatan) dengan tim keamanan nasional," pungkasnya.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini