Donald Trump Tak Yakin Rusia Berada di Balik Serangan Siber Sasar Lembaga Pemerintah

Minggu, 20 Desember 2020 14:14 Reporter : Hari Ariyanti
Donald Trump Tak Yakin Rusia Berada di Balik Serangan Siber Sasar Lembaga Pemerintah Donald Trump asyik main golf. ©REUTERS/Carlos Barria

Merdeka.com - Presiden AS, Donald Trump meremehkan serangan siber masif yang menargetkan sejumlah badan pemerintah. Serangan siber ini disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah AS.

Dalam pernyataannya di Twitter pada Sabtu pagi, Trump mengatakan semuanya bisa dikendalikan. Padahal serangan tersebut mengenai sistem komputer sejumlah departemen. Namun Trump justru menyalahkan media yang telah memperbesar masalah tersebut.

“Peretasan Siber dibesar-besarkan Media Berita Palsu dari yang sebenarnya terjadi. Saya telah mengarahkan sepenuhnya dan segalanya terkendali,” ujarnya, yang merupakan komentar pertamanya sejak pejabat AS pertama kali melaporkan peretasan tersebut, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (20/12).

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo meyakini Rusia berada di balik serangan tersebut. Namun Trump mengatakan Rusia secara tak adil dituding dalam serangan ini.

“Rusia, Rusia, Rusia adalah teriakan prioritas ketika sesuatu terjadi karena Lamestream, untuk sebagian besar alasan keuangan, ketakutan membahas kemungkinan bahwa itu bisa jadi China (mungkin!),” ujarnya.

Pada Kamis, Microsoft mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi 40 badan pemerintah, kelompok non profit, kontraktor pemerintah dan perusahaan IT telah diretas di antara yang lain – dan mengatakan 80 persen dari target serangan ini berada di AS.

2 dari 2 halaman

Wartawan Al Jazeera, Heidi Zhou-Castro, melaporkan dari Washington, DC, mengatakan Pompeo mengindikasikan perlu waktu berbulan-bulan untuk memulihkan kerusakan sistem keamanan akibat serangan ini.

Namun komentar Trump tersebut nampaknya untuk menunjukkan di pekan-pekan terakhirnya di Gedung Putih, dia tak akan mengambil tanggung jawab apapun untuk memperbaiki kerusakan tersebut, namun mengalihkan tanggung jawab tersebut ke presiden terpilih Joe Biden.

Dalam sebuah pernyataan, Biden mengatakan dia akan "meningkatkan keamanan siber sebagai keharusan di seluruh pemerintahan" dan "mengganggu dan menghalangi musuh kita" dari melakukan peretasan yang signifikan seperti itu ketika dia mulai menjabat bulan depan. [pan]

Baca juga:
AS Sangat Yakin Rusia Berada di Balik Serangan Siber Masif Targetkan Badan Pemerintah
Deb Haaland, Anggota Kongres Keturunan Suku Asli Amerika Dipilih Biden Jadi Mendagri
Jelang Natal, Badai Es Melanda New York
Demi Bertahan Hidup di Hutan, Ini Aksi Ekstrem TNI Bikin Tentara Amerika Takjub
Pelantikan Presiden Joe Biden 20 Januari, Pendukung Diminta Tak Datang ke Washington
Sejarah 18 Desember: Penghapusan Perbudakan di Amerika Serikat

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini