Donald Trump Serang Anggota Kongres Perempuan dengan Pernyataan Rasial

Senin, 15 Juli 2019 16:05 Reporter : Hari Ariyanti
Donald Trump Serang Anggota Kongres Perempuan dengan Pernyataan Rasial Debat Hillary Clinton dan Donald Trump. ©REUTERS/Brian Snyder

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kemarin menyerang anggota kongres perempuan dengan pernyataan rasial. Dalam cuitannya di Twitter, Trump menyerang anggota kongres kulit hitam dengan sebutan pengacau warga asing yang harus kembali ke tempat asal mereka yang penuh kejahatan, mengabaikan fakta bahwa para perempuan tersebut adalah warga negara Amerika dan lahir di AS.

Cuitan tersebut menuai kecaman dari Demokrat, yang mengejek perkataan Trump sebagai rasis. Ketua DPR AS, Nancy Pelosi menyampaikan Trump ingin 'membuat Amerika kembali putih'. Anggota Kongres dari Republik, Justin Amash, seorang kritikus Trump yang baru-baru ini mengambil langkah untuk meninggalkan partainya, menyebut pernyataan itu "rasis dan menjijikkan."

Cuitan Trump dipastikan tertuju pada anggota kongres, Alexandria Ocasio-Cortez dan beberapa anggota kongres lainnya seperti Ilhan Omar, Ayanna Pressley, dan Rashida Tlaib. Dari empat perempuan tersebut, hanya Omar, imigran dari Somalia, yang lahir di luar negeri.

Dengan cepat Ocasio-Cortez membalas cuitan Trump. "Bapak Presiden, negara dimana saya berasal, & negara tempat kita berbakti adalah Amerika Serikat. Anda marah karena Anda tidak bisa membayangkan seorang Amerika termasuk kami. Anda mengandalkan Amerika yang menyeramkan demi rampasan Anda," cuitnya, dilansir dari laman Time, Senin (15/7).

Melalui cuitannya, Trump ikut campur dalam keretakan antara Pelosi dan perempuan anggota kongres setelah menawarkan pembelaan yang tidak diminta dari para pembicara Demokrat beberapa hari sebelumnya. Pelosi berusaha meminimalkan pengaruh Ocasio-Cortez dalam beberapa hari terakhir, membuat Ocasio-Cortez menuduh Pelosi ingin meminggirkan perempuan kulit berwarna. "Dia bukan rasis," bela Trump pada Jumat lalu.

Dalam cuitannya Minggu kemarin, nada Trump berubah.

“Sangat menarik untuk melihat perempuan Kongres Demokrat 'Progresif', yang awalnya berasal dari negara-negara yang pemerintahannya lengkap dan penuh bencana, yang terburuk, paling korup dan tidak kompeten di mana saja di dunia (bahkan kalau saja mereka memiliki pemerintahan yang berfungsi sama sekali), sekarang dengan keras dan dengan kejam memberi tahu orang-orang Amerika Serikat, bangsa terbesar dan paling kuat di dunia, bagaimana pemerintah kita harus dijalankan," cuitnya.

"Kenapa mereka tidak kembali dan membantu memperbaiki tempat yang benar-benar rusak dan penuh kejahatan di mana mereka berasal. Kemudian kembali dan tunjukkan kami bagaimana hal itu dilakukan. Tempat-tempat ini sangat membutuhkan bantuan Anda, Anda tidak dapat pergi dengan cukup cepat. Saya yakin Nancy Pelosi akan sangat senang dapat dengan cepat mengatur biaya perjalanan!" lanjutnya.

Wali Kota New York, Bill de Blasio yang juga kandidat capres dari Demokrat sangat menyayangkan cuitan rasis yang ditulis seorang presiden.

"Sayangnya ada tradisi Amerika yang mengatakan kepada orang-orang agar kembali ke tempat asalnya. Itu adalah tradisi buruk bahwa kita harus menyingkirkan bangsa kita karena kita adalah bangsa imigran, itulah diri kita dengan sifat kita selama ratusan tahun. Tetapi Anda tidak pernah berharap untuk mendengarnya dari presiden," jelasnya kepada CNN.

Sementara itu, kandidat capres lainnya, Beto O'Rourke membalas cuitan Trump dan menyebutnya rasis.

“Ini rasis. Perempuan anggota kongres ini sesama bangsa Amerika dengan Anda - dan mewakili nilai-nilai kami dengan lebih baik daripada yang pernah Anda lakukan," balasnya.

Ocasio-Cortez merupakan keturunan Puerto Rico, lahir di Bronx, New York, dan dibesarkan di pinggiran kota Westchester County. Sementara itu, Pressley, perempuan kulit hitam pertama yang terpilih menjadi anggota kongres dari Massachusetts, lahir di Cincinnati.

Omar, seorang muslim dan imigran Somalia yang terpilih menjadi anggota kongres. Omar lahir di Somalia namun menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di sebuah kamp pengungsi Kenya ketika perang saudara pecah di negara asalnya. Dia berimigrasi ke Amerika Serikat pada usia 12 tahun, belajar bahasa Inggris dengan menonton TV Amerika dan akhirnya menetap dengan keluarganya di Minneapolis.

Sementara itu, Rashida Tlaib merupakan keturunan Palestina namun lahir di Detroit. [pan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini