Dokumen Rahasia: Vladimir Putin Rencanakan Kemenangan Trump Bersama Agen Mata-Mata

Sabtu, 17 Juli 2021 07:16 Reporter : Hari Ariyanti
Dokumen Rahasia: Vladimir Putin Rencanakan Kemenangan Trump Bersama Agen Mata-Mata Mural Donald Trump cium Vladimir Putin. ©REUTERS/Ints Kalnins

Merdeka.com - Berdasarkan sebuah dokumen Kremlin yang bocor, Presiden Rusia Vladimir Putin secara personal menyetujui operasi agen mata-mata rahasia untuk mendukung Donald Trump “yang tidak stabil secara mental” dalam pemilihan presiden AS 2016.

Pertemuan penting itu berlangsung pada 22 Januari 2016, seperti disebutkan dokumen tersebut, dihadari Putin, kepala agen mata-mata, dan para menteri senior.

Mereka setuju dengan adanya Trump di Gedung Putih akan membantu mengamankan tujuan strategis Moskow, termasuk “kekacauan sosial” di AS dan melemahkan posisis negosiasi presiden AS.

Tiga agen mata-mata Rusia diperintahkan menemukan cara-cara praktis untuk mendukung Trump, dalam sebuah dekrit yang juga berisi tanda tangan Putin. Demikian dikutip dari The Guardian, Jumat (16/7).

Sebuah laporan yang disiapkan para tim ahli Putin merekomendasikan Moskow menggunakan “segala kekuatan yang memungkinkan” untuk memastikan kemenangan Trump.

Badan-badan intelijen Barat diketahui telah mempelajari dokumen-dokumen tersebut selama beberapa bulan dan memeriksanya dengan cermat. Dokumen tersebut, yang dilihat oleh Guardian, tampaknya mewakili kebocoran serius dan sangat tidak biasa dari dalam Kremlin.

The Guardian telah menunjukkan dokumen tersebut kepada para ahli independen yang mengatakan dokumen itu tampak asli. Detail insidental dianggap akurat. Gaya dan dorongan keseluruhan disebut konsisten dengan pemikiran keamanan Kremlin.

Saat dihubungi The Guardian pada Kamis pagi, juru bicara Kremlin, Dmitri Peskov menanggapi dengan acuh, mengatakan laporan para pemimpin Rusia bertemu dan setuju untuk mendukung Trump pada pertemuan pada awal 2016 adalah “fiksi murahan yang luar biasa”.

Dokumen “No 32-04 vd” tersebut diklasifikasikan sebagai rahasia. Dalam dokumen itu disebutkan Trump adalah “kandidat paling menjanjikan” dari sudut pandang Kremlin. Kata dalam bahasa Rusianya yaitu “perspektivny”.

Ada penilaian psikologi singkat soal Trump, yang digambarkan sebagai seorang “impulsive, tidak stabil secara mental, dan orang yang tidak seimbang yang mengalami rasa inferior atau rendah diri”.

Ada juga konfirmasi yang jelas bahwa Kremlin memiliki “kompromat”, atau materi yang berpotensi membahayakan, terkait presiden masa depan, yang dikumpulkan – menurut dokumen tersebut – dari “kunjungan tidak resmi Trump sebelumnya ke wilayah Federasi Rusia”.

Dokumen ini mengacu pada “peristiwa tertentu” yang terjadi selama perjalanan Trump ke Moskow. Anggota dewan keamanan diundang untuk menemukan rincian dalam lampiran lima, pada paragraf lima. Namun tidak jelas apa isi lampiran tersebut.

“Sangat penting untuk menggunakan semua kekuatan yang memungkinkan untuk memfasilitasi terpilihnya (Trump) untuk menduduki jabatan presiden AS,” kata dokumen tersebut.

Dokumen ini juga memprediksi, kemenangan Trump akan membantu mewujudkan “skenario politik teoretis” yang disukai Rusia. Kemenangan Trump “pasti akan mengarah pada destabilisasi sistem sosial politik AS” dan melihat ketidakpuasan yang tersembunyi meledak ke tempat terbuka.

2 dari 3 halaman

Pertemuan Kremlin

rev1

Tidak ada keraguan bahwa pertemuan berlangsung pada Januari 2016, dan digelar di dalam Kremlin.

Sebuah foto resmi pertemuan itu menunjukkan Putin di kepala meja, duduk di bawah bendera Federasi Rusia dan elang emas berkepala dua. Perdana Menteri Rusia saat itu, Dmitry Medvedev, hadir, bersama dengan menteri luar negeri, Sergei Lavrov.

Turut hadir Sergei Shoigu, menteri pertahanan yang bertanggung jawab atas GRU, badan intelijen militer Rusia; Mikhail Fradkov, kepala dinas intelijen asing SVR Rusia saat itu; dan Alexander Bortnikov, bos agen mata-mata FSB. Nikolai Patrushev, mantan direktur FSB, juga hadir sebagai sekretaris dewan keamanan.

Menurut siaran pers, diskusi mencakup ekonomi dan Moldova.

Dokumen yang dilihat oleh Guardian menunjukkan tujuan nyata dan terselubung dewan keamanan adalah untuk membahas proposal rahasia yang disusun oleh layanan analitis presiden sebagai tanggapan atas sanksi AS terhadap Moskow.

Penulisnya tampaknya adalah Vladimir Symonenko, pejabat senior yang bertanggung jawab atas departemen ahli Kremlin – yang memberikan materi dan laporan analitis kepada Putin, beberapa di antaranya didasarkan pada intelijen asing.

Dokumen tersebut menunjukkan, pada 14 Januari 2016 Symonenko mengedarkan ringkasan eksekutif tiga halaman dari kesimpulan dan rekomendasi timnya.

Dalam perintah yang ditandatangani dua hari kemudian, Putin menginstruksikan kepala direktorat kebijakan luar negerinya saat itu, Alexander Manzhosin, untuk mengadakan pengarahan tertutup kepada dewan keamanan nasional.

Tujuannya adalah untuk mempelajari lebih lanjut dokumen itu, kata perintah itu. Manzhosin diberi tenggat waktu lima hari untuk membuat perencanaan.

Apa yang disampaikan di dalam ruang gedung senat Kremlin lantai dua tidak diketahui. Tetapi presiden dan pejabat intelijennya tampaknya telah menandatangani rencana multi-lembaga untuk ikut campur dalam demokrasi AS, yang dibingkai dalam kerangka pembelaan diri yang dibenarkan.

Berbagai tindakan dikutip bahwa Kremlin mungkin mengadopsi dalam menanggapi apa yang dilihatnya sebagai tindakan bermusuhan dari Washington. Dokumen ini memaparkan beberapa kelemahan Amerika, termasuk "jurang politik yang semakin dalam antara kelompok kiri dan kanan", ruang "informasi media" AS, dan suasana anti kemapanan di bawah Presiden Barack Obama.

Dokumen itu tidak menyebutkan nama Hillary Clinton, saingan Trump pada pemilihan presiden 2016. Dokumen itu menyebutkan penggunaan sumber daya media untuk melemahkan tokoh-tokoh politik terkemuka AS.

Ada paragraf tentang bagaimana Rusia bisa memasukkan "virus media" ke dalam kehidupan publik Amerik. Ini disebut akan mengubah kesadaran massa, terutama dalam kelompok tertentu.

Setelah pertemuan itu, menurut dokumen lainnya yang bocor, Putin mengeluarkan dekrit untuk membentuk komisi antardepartemen baru dan rahasia. Tugasnya yang mendesak adalah untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan dalam "bagian khusus" dari dokumen No 32-04 vd.

Anggota badan kerja baru itu termasuk Shoigu, Fradkov dan Bortnikov. Shoigu ditunjuk sebagai ketua komisi. Dekrit – ukaz dalam bahasa Rusia – mengatakan kelompok itu harus mengambil langkah-langkah praktis melawan AS sesegera mungkin. Ini dibenarkan dengan alasan keamanan nasional dan sesuai dengan undang-undang federal 2010, 390-FZ, yang memungkinkan dewan untuk merumuskan kebijakan negara terkait masalah keamanan.

Menurut dokumen itu, setiap agen mata-mata diberi peran. Menteri pertahanan diinstruksikan untuk mengoordinasikan pekerjaan subdivisi dan layanan. Shoigu juga bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan mensistematisasikan informasi yang diperlukan dan untuk "menyiapkan langkah-langkah untuk bertindak pada lingkungan informasi objek" - sebuah perintah, tampaknya, untuk meretas target siber Amerika yang sensitif yang diidentifikasi oleh SVR.

SVR diperintahkan untuk mengumpulkan informasi tambahan untuk mendukung kegiatan komisi. FSB ditugaskan kontra-intelijen. Putin menyetujui dokumen tertanggal 22 Januari 2016, yang distempel departemennya.

Dekrit itu mengatakan, langkah-langkah itu efektif segera setelah tanda tangan Putin. Para kepala agen mata-mata diberi waktu lebih dari seminggu untuk kembali dengan ide-ide konkret, yang akan diserahkan paling lambat 1 Februari.

Putin telah berulang kali membantah tuduhan ikut campur dalam demokrasi barat. Dokumen tersebut tampaknya bertentangan dengan klaim ini.

Beberapa minggu setelah pertemuan dewan keamanan, peretas GRU menyerbu server Komite Nasional Demokrat (DNC) dan kemudian merilis ribuan surel pribadi dalam upaya untuk merusak kampanye Hillary Clinton.

Laporan yang dilihat oleh Guardian menampilkan detail pekerjaan intelijen Rusia, kata sumber diplomatik.

Dokumen itu mengatakan Moskow akan mendapatkan keuntungan dari kemenangan Partai Republi. Hal ini dapat menyebabkan “ledakan sosial” yang pada gilirannya akan melemahkan presiden AS. Ditekankan juga akan ada manfaat internasional dari kemenangan Trump. Disebutkan juga Putin akan mampu secara sembunyi-sembunyi untuk mendominasi setiap pembicaraan bilateral AS-Rusia, untuk mendekonstruksi posisi negosiasi Gedung Putih, dan untuk mengejar inisiatif kebijakan luar negeri yang berani atas nama Rusia.

Bagian lain dari laporan berlembar-lembar itu membahas tema lain yang tidak berkaitan dengan Trump. Disebutkan sanksi yang dijatuhkan AS setelah pencaplokan Krimea oleh Rusia pada 2014 berkontribusi pada ketegangan domestik. Kremlin harus mencari cara alternatif untuk menarik likuiditas ke dalam ekonomi Rusia.

Dokumen tersebut merekomendasikan reorientasi perdagangan dan ekspor hidrokarbon ke China. Fokus Moskow seharusnya adalah mempengaruhi AS dan negara-negara satelitnya, sehingga mereka menjatuhkan sanksi sama sekali atau melunakkan sanksinya.

3 dari 3 halaman

Cerminkan kenyataan

Andrei Soldatov, seorang ahli agen mata-mata Rusia dan penulis The Red Web, mengatakan materi yang bocor itu “mencerminkan kenyataan”.

“Ini konsisten dengan prosedur dinas keamanan dan dewan keamanan,” jelasnya.

“Keputusan selalu dibuat seperti itu, dengan penasihat memberikan informasi kepada presiden dan rantai komando.”

“Kremlin mengatur sebagian besar operasi ini. Putin telah menjelaskan kepada mata-matanya setidaknya sejak 2015 bahwa tidak ada yang bisa dilakukan secara independen darinya. Tidak ada ruang untuk tindakan independen.”

Soldatov mengutip sumbernya sendiri mengatakan, Putin memutuskan untuk merilis surel DNC yang dicuri setelah pertemuan dewan keamanan pada April 2016.

Sir Andrew Wood, dari lembaga pemikir Chatham House dan mantan duta besar Inggris di Moskow, menggambarkan dokumen-dokumen itu sebagai "menakjubkan".

“Mereka mencerminkan jenis diskusi dan rekomendasi yang Anda harapkan. Ada kesalahpahaman total antara AS dan China. Itu ditulis untuk seseorang (Putin) yang tidak percaya dia melakukan kesalahan.”

“Tidak mungkin Rusia melakukan kesalahan dengan menginvasi Ukraina. Laporan ini sepenuhnya sesuai dengan apa yang saya harapkan di 2016, dan terlebih lagi sekarang. Ada banyak paranoia. Mereka percaya AS bertanggung jawab atas segalanya. Pandangan ini sangat mendalami jiwa para pemimpin Rusia.”

Trump awalnya tidak menanggapi permintaan komentar.

Kemudian, Liz Harrington, juru bicaranya, mengeluarkan pernyataan atas namanya.

“Ini menjijikkan. Itu adalah berita palsu, sama seperti RUSIA, RUSIA, RUSIA adalah berita palsu. Hanya orang-orang gila Kiri Radikal yang melakukan apa pun yang mereka bisa untuk merendahkan semua orang di kelompok kanan.”

“Ini fiksi, dan tidak ada yang lebih keras terhadap Rusia daripada saya,” lanjutnya.

“Dan dunia adalah tempat yang jauh lebih aman daripada sekarang dengan kepemimpinan yang tidak stabil secara mental.” [pan]

Baca juga:
Joe Biden: Putin “Akan Tanggung Akibatnya” Karena Ikut Campur dalam Pilpres AS 2020
Rusia Bantah Laporan Intelijen AS Soal Dugaan Putin Ikut Campur dalam Pilpres AS 2020
Laporan Intelijen AS Sebut Rusia Manfaatkan Sekutu Trump untuk Pengaruhi Pilpres 2020
Joe Biden Pertama Kali Telepon Putin, Bahas Dugaan Campur Tangan Rusia di Pemilu AS
Bayang-Bayang Kerusuhan di Tengah Pelantikan Joe Biden
FBI Selidiki Keterlibatan Negara Lain dalam Kerusuhan Capitol
Sejarah Kelam Jelang Pelantikan Abraham Lincoln 160 Tahun Lalu Dikhawatirkan Terulang

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini