Dituding Masukkan Warga Muslim Uighur ke Kamp Tahanan, Ini Klarifikasi Kedubes China

Kamis, 20 Desember 2018 14:13 Reporter : Merdeka
Dituding Masukkan Warga Muslim Uighur ke Kamp Tahanan, Ini Klarifikasi Kedubes China Kamp Muslim Uighur di Xinjiang. ©REUTERS/Thomas Peter

Merdeka.com - Laporan terbaru dari kantor berita Associated Press (AP) menunjukkan bahwa warga Muslim etnis Uighhur di Provinsi Xinjiang, saat ini tengah ditempatkan dalam kamp-kamp penahanan yang didirikan oleh pemerintah China. Namun, China membantah kamp tersebut dibuat untuk menahan mereka.

Pemerintah menyebut bahwa fasilitas tersebut adalah lembaga pelatihan vokasi atau kejuruan. Perwakilan pemerintah China di Indonesia, melalui juru bicara kedutaan besar negara itu di Jakarta, juga memberikan klarifikasi tentang isu penangkapan muslim Uighur tersebut.

Juru bicara tersebut membuka klarifikasi dengan pernyataan bahwa China adalah negara yang tersusun atas beragam kelompok etnis dan agama.

Ditegaskan bahwa konstitusi yang berlaku di China, menjamin seluruh warganya menikmati kebebasan dalam menjalankan keyakinannya masing-masing, termasuk bagi warga muslim Uighur.

Pernyataan tersebut juga menyebut bahwa komunitas muslim mendapat tempat yang layak di Xinjiang, di mana populasinya kini mencapai lebih dari 14 juta orang. Beijing juga menyebut provinsi di China barat daya itu memiliki sekitar 24.000 masjid, hampir 29.000 ulama, dan dua institusi pendidikan muslim terkemuka.

Selain itu, pemerintah Xinjiang juga disebut selalu mengupayakan sewa pesawat untuk melayani kebutuhan ibadah haji bagi umat muslim setempat. Mereka juga menegaskan bahwa kebijakan itu disertai dengan penyediaan layanan medis dan penerjemah bagi jamaah selama di tanah suci.

Melalui penjelasan tersebut, pihak Kedubes China membantah bahwa telah terjadi diskriminasi terhadap umat Islam di negaranya. Isu tentang pembakaran terhadap literatur Islam juga dibantah dengan keras. Bahkan Kedubes China mengatakan bahwa pemerintah setempat saat ini secara bertahap sedang menerjemahkan buku-buku keagamaan dan Alquran ke dalam bahasa Uighur, Mandarin, Kazak, dan Kirgiz.

Sumber: Liputan6 [ias]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini