Diduga tersinggung, UAE usir eks PM Mesir

Minggu, 3 Desember 2017 11:17 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Diduga tersinggung, UAE usir eks PM Mesir Ahmad Shafiq. ©2017 AFP

Merdeka.com - Pemerintah Uni Emirat Arab dikabarkan mengusir mantan Perdana Menteri Mesir, Ahmad Shafiq, yang lari ke negara itu sejak lima tahun lalu usai kalah dari Muhammad Mursi dalam pemilihan presiden. Menurut informasi, pemerintah UEA mendepak mantan jenderal kepercayaan Husni Mubarak itu karena marah, lantaran dituding melarang Shafiq kembali ke Mesir buat maju dalam pemilihan presiden mendatang melawan petahana, Abdul Fattah al-Sisi.

Menurut sejumlah saksi dan penasihat Shafiq, deportasi itu terjadi pada Sabtu kemarin. Sejumlah aparat di UEA sebelumnya mendatangi kediaman Shafiq di Abu Dhabi, dan memintanya kembali ke Mesir menggunakan pesawat jet pribadi. Namun, keluarganya tetap dibolehkan tinggal di sana, dilansir dari laman AFP, Minggu (3/12).

"Mereka bilang dia (Shafiq) harus kembali ke Kairo, karena mereka cuma bisa mengusirnya supaya kembali ke negara asalnya," kata seorang orang dekat Shafiq.

Malah menurut salah satu kuasa hukum Shafiq, Dina Adly, kliennya itu ditangkap oleh aparat UEA dan diusir kembali ke Mesir.

Shafiq dikabarkan sudah tiba di Ibu Kota Kairo, tetapi menghilang. Sanak saudara dan kerabatnya yang menunggu kehadirannya pun dibuat cemas. Sebab menurut mereka, hingga enam jam setelah sampai Shafiq tak juga muncul.

"Kami tidak tahu dia ada di mana. Dia tidak menghubungi siapapun, termasuk pengacaranya," kata seorang kerabat Shafiq.

Setelah dia dan Husni Mubarak terjungkal dari kekuasaan, Shafiq masih berkeras maju lagi dalam pemilihan Presiden. Namun dia kalah dari Muhammad Mursi, yang kini dibui. Alhasil, Shafiq memilih kabur ke UEA buat menghindar dari perkara korupsi membelitnya.

Beberapa hari sebelum diusir, Shafiq menyatakan bakal maju dalam pemilihan presiden Mesir mendatang menantang Al-Sisi, yang sampai saat ini belum menyatakan sikap soal itu. Dia diperkirakan menjadi lawan utama Al-Sisi.

Al-Sisi naik menjadi presiden setelah Mursi jatuh. Dia juga yang menyatakan Ikhwanul Muslimin adalah organisasi terlarang dan memburu seluruh anggotanya. Namun, caranya kerasnya membungkam lawan politik bukan cuma diarahkan kepada Mursi dan pengikutnya, tetapi juga kalangan sekuler dan Nasrani.

Di bawah pemerintahan Al-Sisi, mata uang Pound Mesir malah jatuh dan menyebabkan inflasi melejit. Akhirnya dia harus meminjam USD 12 miliar dari Dana Moneter Dunia (IMF). Dia juga harus menghadapi pergolakan kelompok radikal pengikut Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Semenanjung Sinai. [ary]

Topik berita Terkait:
  1. Mesir
  2. Uni Emirat Arab
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini