KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Dianggap mendidik, ulama Saudi bebas usai pukuli anaknya sampai mati

Kamis, 27 Agustus 2015 12:19 Reporter : Ardyan Mohamad
ulama Fayhan al-Ghamdi memukuli anaknya sampai mati. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Ulama di Kerajaan Arab Saudi bernama Fayhan Al Ghamdi, dibebaskan dari tuduhan pembunuhan serta kekerasan seksual yang dilakukan terhadap mendiang putrinya. Pengadilan Kota Dammam menyatakan semua dakwaan berat terhadap pria 40 tahun itu dicabut. Dia hanya dikenakan denda dengan dakwaan terlampau keras mendidik anak.

Gulf News melaporkan, Kamis (27/8), mantan istri Fayhan mengaku kecewa mendengar keputusan hakim. Pengadilan membatalkan kewajiban terdakwa membayar uang darah, semacam denda untuk pelaku pembunuhan dalam sistem hukum Saudi, sebesar 1 juta Riyal (setara Rp 3,7 miliar).

Pengacara Fayhan, Al Khunaizan, mengaku tidak peduli jika publik kecewa dengan putusan hakim. "Yang jelas pengadilan menyatakan klien saya bisa bebas dengan membayar jaminan, banding kami atas putusan pengadilan sebelumnya juga diterima," ujarnya.

Kasus ini terjadi pada 2012 lalu. Fayhan yang sudah bercerai dengan istrinya, seorang warga negara Mesir, marah melihat putrinya Luma (5 tahun), terus mengunjungi ibunya. Gadis kecil itu dipukuli dengan sabuk serta batangan besi, sampai akhirnya koma. Empat bulan setelah pemukulan paling parah, Luma tewas.

Pada 2013, Pengadilan Hawtat Bani Tamim mengadili pria yang sehari-hari memberi ceramah agama di Provinsi Timur Saudi itu. Hasilnya, Fayhan dianggap bersalah karena melakukan kekerasan serta diduga melakukan kekerasan seksual pada putrinya. Dia dihukum 8 tahun penjara serta dicambuk 800 kali.

Istri muda Fayhan, yang dianggap mendukung kekerasan tersebut, ikut dihukum penjara 10 bulan dan 150 cambukan.

Kasus ini menggegerkan warga Saudi, yang menuntut agar Fayhan dihukum mati. Tapi Fayhan selalu menang dalam upaya banding, sehingga hukumannya terus dikurangi.

Ada selentingan Fayhan dilindungi Kerajaan karena berprofesi sebagai ulama. Namun Kementerian Agama Saudi membantah tudingan tersebut. Menurut pemerintah Saudi, nama Fayhan tidak terdaftar secara resmi sebagai ulama yang ditunjuk oleh kerajaan. [ard]

Topik berita Terkait:
  1. Arab Saudi
  2. KDRT
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.