Di pengadilan, militan Al Qaidah minta maaf hancurkan Timbuktu

Selasa, 23 Agustus 2016 09:36 Reporter : Ardyan Mohamad
Di pengadilan, militan Al Qaidah minta maaf hancurkan Timbuktu Ahmad al-Mahdi di Mahkamah Internasional Den Haag. ©2016 Merdeka.com/Reuters/Patrick Post

Merdeka.com - Ahmad al-Faqi al-Mahdi, bekas petinggi kelompok teroris Ansar Dine yang beroperasi di Mali dan sekitarnya, diadili oleh Mahkamah Kriminal Internasional (ICC). Pengadilan berlangsung di Kota Den Haag, Belanda.

Dalam sidang tersebut, pemimpin militan yang dulu berbaiat kepada jaringan Al Qaidah ini mengaku menyesal atas perbuatannya. Terutama perintahnya kepada prajurit rendahan menghancurkan peninggalan sejarah di Kota Timbuktu.

Sedikitnya 14 makam raja di Timbuktu dihancurkan oleh pasukan Ansar Dine pada 2012, karena dianggap simbol berhala. Sebuah masjid kuno turut dihancurkan para militan.

"Saya merasakan penyesalan mendalam," ujarnya di hadapan majelis hakim.

Dia ingin umat Islam lainnya tidak mengikuti jejaknya merusak bangunan cagar budaya atas alasan apapun. "Tindakan semacam ini tidak menyumbang apapun kepada peradaban," kata pria berjuluk Abu Tourab ini.

Timbuktu memiliki universitas pertama di dunia, yang didirikan oleh Raja Mansa Musa pada abad ke-12 masehi. Nyaris semua pemikir Islam pada masa itu, dari Eropa, Asia, maupun Afrika, pasti pernah belajar ke Timbuktu.

Salah satu makam Raja Timbuktu dihancurkan Ansar Dine (c) 2016 Reuters



Selain menyumbang ilmuwan maupun ahli agama, kota kecil di pesisir Afrika Barat ini berhasil menjadi pusat perdagangan. Kerajaan Mali saat itu jauh lebih makmur dibanding Madinah atau Yerusalem.

Kondisi Timbuktu rusak berat akibat serangan Ansar Dine empat tahun lalu. Beruntung sebagian bangunan universitas, masjid kuno, maupun cagar budaya lain masih tersisa.

Kelompok militan Ansar Dine dipukul mundur dari utara Mali oleh Pasukan Internasional. Pada 2014, Abu Tourab ditangkap oleh tentara Prancis di perbatasan Niger.

Dia adalah salah satu anggota jaringan teroris pertama yang diajukan ke ICC. Abu Tourab juga militan pertama dikenai dakwaan pidana sengaja merusak cagar budaya. Jika dinyatakan bersalah, maka dia akan dijatuhi penjara 11 tahun. [ard]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini