Deretan Satwa Liar Ini Bantu Atasi Perubahan Iklim Dunia

Jumat, 12 Agustus 2022 08:19 Reporter : Merdeka
Deretan Satwa Liar Ini Bantu Atasi Perubahan Iklim Dunia hewan lawan perubahan iklim. ©oneearth.org

Merdeka.com - Maraknya dampak perubahan iklim yang terjadi di mana-mana menyebabkan banyak daerah mengalami berbagai ketidakstabilan dalam alam, mulai dari kekeringan sampai banjir bandang.

Namun, ternyata satwa liar di alam juga bisa membantu manusia untuk menanggulangi dampak dari perubahan iklim.

Dilansir dari One Earth, Kamis (11/8), berikut beberapa satwa liar yang ternyata dapat memerangi perubahan iklim:

Gajah Afrika

Merupakan yang terkecil dari tiga spesies gajah, gajah hutan Afrika hidup di hutan hujan Kongo. Dikenal sebagai 'Tukang Kebun Kongo', mereka memangkas hutan untuk mencari makanan. Saat mereka mencari biji, buah, dan daun di vegetasi yang subur, mereka menginjak semak-semak yang tumbuh cepat yang memungkinkan pohon yang tumbuh lebih lambat menjadi mapan. Pohon-pohon ini menyerap lebih banyak karbon dioksida (CO2) dari udara daripada tanaman yang lebih kecil dan lebih agresif.

Dengan begitu setiap gajah membantu menangkap lebih dari 9.000 ton CO2 selama hidupnya. Ekonom Ralph Chami menemukan secara total, gajah hutan Afrika memberikan layanan penangkapan karbon senilai USD 150 miliar setiap tahun.

Berang-Berang Laut

Salah satu spesies yang paling dipuja di planet kita, berang-berang laut bertindak sebagai penjaga hutan rumput laut di bawah laut. Hutan rumput laut adalah salah satu penyerap CO2 yang paling efisien, menggunakan karbon dari atmosfer untuk menumbuhkan struktur daun di bawah permukaan.

Namun, hutan ini sangat lezat bagi para landak laut bulu babi. Jika dibiarkan, hewan laut kecil berduri ini berkembang biak dengan cepat, menyapu dasar laut dan melahap seluruh tegakan rumput laut. Sebagai pemangsa utama, berang-berang laut mengendalikan populasi landak laut ini. Sebuah penelitian menemukan hutan rumput laut yang dijaga oleh berang-berang laut dapat menyerap karbon dioksida 12 kali lebih banyak daripada yang tidak.

Perkiraan nilai penangkapan karbon oleh berang-berang laut ini adalah sebesar USD 200-400 juta per tahun.

2 dari 2 halaman

Tapir

Dengan tubuh mirip babi dan belalai pendek seperti gajah, tapir mungkin tampak aneh pada pandangan pertama, tetapi sangat penting untuk membantu hutan hujan hidup kembali. Tapir memakan berbagai macam buah dan meninggalkan biji di kotorannya, yang kemudian berkecambah dan tumbuh.

Sebuah penelitian menemukan tapir menyebarkan benih tiga kali lebih banyak di daerah yang rusak daripada di hutan. Regenerasi alami ini adalah salah satu cara termurah dan paling layak untuk memulihkan hutan tropis.

Para peneliti mengidentifikasi 24 spesies benih yang berbeda dalam kotoran tapir, banyak di antaranya akhirnya menjadi pohon besar di dalam hutan, menyerap karbon tambahan untuk membantu memperlambat pemanasan planet ini.

Paus

Sebagai mamalia terbesar di Bumi, paus menyerap rata-rata 33 ton CO2 selama hidupnya. Ketika mereka mati, bangkai mereka jatuh ke dasar laut dan tetap di sana selama berabad-abad, menjaga karbon yang tersimpan itu keluar dari atmosfer.

Bahkan kotoran mereka pun berjasa. Kotoran paus bertindak sebagai pupuk bagi fitoplankton, yang menarik 10 gigaton karbon dari atmosfer ke laut dalam setiap tahun. Sayangnya, populasi paus telah menurun drastis karena polusi dan perburuan. Jika populasi paus dibiarkan kembali menjadi sekitar 4-5 juta, 1,7 miliar ton karbon dapat ditangkap setiap tahun.

Serigala

Tidak ada tempat yang lebih penting bagi serigala selain di Taman Nasional Yellowstone. Pada 1926, sebagai bagian dari kebijakan untuk melenyapkan semua pemangsa, kawanan serigala terakhir di Taman Nasional Yellowstone disingkirkan oleh petugas. Seluruh ekosistem menjadi tidak seimbang. Populasi rusa meledak menyebabkan penggembalaan berlebihan pohon willow dan aspen.

Tanpa pohon-pohon itu, burung pekicau mulai menghilang, berang-berang tidak dapat lagi membangun bendungannya karena tepian sungai terkikis, dan suhu air naik hingga terlalu tinggi untuk ikan air dingin.

Pada 1995, 14 serigala dibawa kembali. Populasi rusa dan kijang segera merespons, pohon-pohon bangkit kembali, tepian sungai menjadi stabil, dan burung-burung kembali bersama berang-berang, elang, rubah, dan musang. Para ilmuwan merayakannya ini sebagai salah satu kisah terbesar kembalinya ekosistem yang pernah ada.

Satwa liar jauh lebih dari sekadar makhluk menakjubkan yang memberi kita penghiburan dan keajaiban. Mereka sangat penting dalam menjaga keseimbangan sistem iklim seluruh planet kita. Kelima spesies ini adalah bukti bahwa melindungi satwa liar Bumi sangat penting untuk mengatasi krisis iklim.

Tanpa mereka, kita tidak akan berada di sini hari ini, dan kita membutuhkan mereka untuk membantu menstabilkan iklim untuk masa depan. Kita tidak bisa melakukannya sendiri.

Reporter Magang: Gracia Irene

[pan]

Baca juga:
Orang-Orang Terkaya Dunia Danai Pencarian Harta Karun Besar-besaran di Greenland
Bencana Kekeringan Meluas Sampai Belanda
Studi: Perubahan Iklim Memicu 218 Penyakit Menular Makin Berbahaya
Dunia di Ambang Bencana Kelaparan, Jutaan Nyawa Terancam Melayang

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini