Demo Memanas, Toko & Restoran di Myanmar Tutup karena Mogok Massal Menentang Kudeta

Senin, 22 Februari 2021 17:23 Reporter : Hari Ariyanti
Demo Memanas, Toko & Restoran di Myanmar Tutup karena Mogok Massal Menentang Kudeta Water Canon Berusaha Bubarkan Massa Protes Kudeta. ©2021 REUTERS/Stringer

Merdeka.com - Pada Senin, tempat usaha di Myanmar ditutup dalam gerakan mogok massal untuk melawan kudeta militer dan ribuan pengunjuk rasa berkumpul terlepas dari ancaman pihak berwenang yang dapat membahayakan nyawa.

Tiga pekan setelah menggulingkan kekuasaan, junta militer gagal menghentikan unjuk rasa yang berlangsung setiap hari, termasuk gagal menghentikan seruan gerakan pembangkangan sipil sebagai bentuk protes terhadap kudeta 1 Februari dan menuntut pembebasan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi.

“Setiap orang ikut bergabung,” kata San San Maw (46), di persimpangan Hledan, Yangon, yang menjadi titik unjuk rasa.

“Kita harus keluar,” lanjutnya, dilansir Al Arabiya, Senin (22/2).

Di negara di mana tanggal kerap dikaitkan dengan keberuntungan, pengunjuk rasa mencatat pentingnya tanggal 22-2-2021, membandingkannya dengan demonstrasi pada 8 Agustus 1988 ketika generasi sebelumnya melancarkan protes anti-militer yang ditumpas dengan darah.

Tanggapan pasukan keamanan kali ini tidak begitu mematikan, tetapi setidaknya tiga pengunjuk rasa kini tewas setelah dua orang ditembak mati di Mandalay pada Sabtu. Pengunjuk rasa yang tertembak di kepala 10 hari lalu meninggal pada Jumat. Sementara itu, pihak militer mengklaim seorang polisi tewas karena cedera saat mengamankan unjuk rasa.

Kematian dua pengunjuk rasa di Mandalay yang membuat para pengunjuk rasa lainnya takut pada Minggu, ketika puluhan ribu orang turun ke jalan di kota terbesar kedua itu, termasuk di Yangon.

Televisi pemerintah, MRTV memperingatkan para pengunjuk rasa pada Senin.

“Para pengunjuk rasa sekarang menghasut orang-orang, khususnya remaja dan anak-anak muda yang emosional, ke jalur konfrintasi di mana mereka bisa kehilangan nyawa,” jelas peringatan itu.

Htet Htet Hlaing (22) mengakut takut dan berdoa sebelum bergabung dengan demonstrasi hari Senin, tetapi tidak patah semangat.

“Kami tidak menginginkan junta, kami menginginkan demokrasi. Kami ingin menciptakan masa depan kami sendiri, ”katanya.

“Ibuku tidak menghentikanku untuk keluar, dia hanya berkata 'hati-hati'.”

Baca Selanjutnya: Restoran tutup...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini