Demi Kebebasan Mereka Turun ke Jalan Meski Kematian Sudah di Depan Mata

Rabu, 24 Februari 2021 08:25 Reporter : Hari Ariyanti
Demi Kebebasan Mereka Turun ke Jalan Meski Kematian Sudah di Depan Mata Protes kudeta militer di Myanmar. ©2021 REUTERS

Merdeka.com - Pengunjuk rasa tumpah di jalan-jalan di Myanmar kemarin, kendati mereka tahu risikonya nyawa bisa melayang. Jumlahnya bisa sampai jutaan orang, dalam unjuk rasa terbesar sejak kudeta militer tiga pekan lalu. Alat pelindung yang mereka pakai hanya sejenis penutup kepala, jimat suci, dan kekuatan bersama.

Aparat mencoba menghentikan aksi massa terbesar pada Senin itu dengan memasang barikade dan armada kendaraan militer yang diparkir di sejumlah lokasi strategis perkotaan. Kendaraan lapis baja berpatroli, sementara para penembak jitu mengambil posisi di atap-atap bangunan.

Peringatan keras diterbitkan beberapa jam sebelumnya di televisi pemerintah, berbunyi: “Para pengunjuk rasa sekarang menghasut orang-orang, khususnya remaja dan anak muda yang emosional, menuju jalur konfrontasi di mana mereka bisa kehilangan nyawa.”

Tapi ancaman militer itu tak begitu mempengaruhi pemogokan massal hari Senin, yang berlangsung secara damai di ratusan kota dan daerah di seluruh negeri.
Barisan orang-orang meluas dan semakin besar seperti terlihat di dekat lampu merah persimpangan dan sebuah pagoda di Yangon, kota terbesar di Myanmar, dan di stasiun kereta api di Mandalay, kota terbesar kedua. Mereka berkerumun di Jalan Martir di Dawei, kota pesisir, dan dekat menara jam di Monywa dan Hpa-An, di wilayah tengah dan timur negara itu.

“Saya akan mengorbankan hidup saya demi generasi masa depan kami,” ujar Ko Bhone Nay Thit (19), seorang mahasiswa di sebuah universitas di Mandalay yang meninggalkan rumahnya pada Senin pagi diiringi doa ibunya dan ritual air suci.

“Kita harus menang,” tegasnya, dikutip dari The New York Times, Selasa (23/2).

Pada akhir pekan kemarin, terjadi insiden berdarah saat demonstrasi menentang kudeta. Pada Sabtu sore, dua demonstran tak bersenjata dibunuh pasukan keamanan di Mandalay; salah satu korban merupakan remaja 16 tahun.

Sementara pada Sabtu malam, seorang anggota pasukan penjaga malam lingkungan ditembak mati di Yangon. Sehari sebelumnya, perempuan 20 tahun yang ditembak di kepala pada 9 Februari meninggal dunia. Perempuan muda ini ditembak pasukan keamanan saat ikut berunjuk rasa di Naypyidaw, ibu kota negara. Dia diyakini menjadi demonstran pertama yang dibunuh pihak berwenang.

Baca Selanjutnya: Mogok massal...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini