Dari Pegunungan Afghanistan ISIS Diam-diam Siapkan Serangan ke Amerika dan Barat

Selasa, 11 Juni 2019 08:38 Reporter : Pandasurya Wijaya
Dari Pegunungan Afghanistan ISIS Diam-diam Siapkan Serangan ke Amerika dan Barat isis kalah di irak dan suriah. ©AFP

Merdeka.com - Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) boleh jadi sudah kalah di Suriah dan Irak tapi di pegunungan sebelah timur laut Afghanistan yang tersembunyi, mereka sedang mengumpulkan pasukan dan menyiapkan serangan ke Amerika Serikat dan negara Barat lainnya. Kabar itu diungkapkan oleh pejabat intelijen AS dan Afghanistan.

Hampir dua dekade sejak AS memimpin invasi ke Afghanistan usai peristiwa serangan 9 September 2001, kelompok ISIS dipandang sebagai ancaman yang lebih besar ketimbang Taliban karena mereka kini punya kemampuan militer yang canggih dan strategi menyerang warga sipil, baik di Afghanistan dan luar negeri. Banyak kalangan kini khawatir, Taliban yang juga pernah bentrok dengan ISIS, kini bisa menjadi sekutu ISIS.

Seorang pejabat intelijen AS di Afghanistan mengatakan serangkaian serangan baru-baru ini di Ibu Kota Kabul adalah semacam gladi resik mereka sebelum melancarkan serangan lebih besar ke Eropa dan AS.

"Itu tujuan mereka. Ini cuma masalah waktu," kata si pejabat intelijen, seperti dilansir laman South China Morning Post, Senin (10/6).

Bruce Hoffman, direktur Pusat Studi Keamanan di Universitas Georgetown, menilai Afghanistan menjadi basis paling memungkinkan bagi ISIS setelah mereka dipaksa mundur dari Irak dan Suriah.

"ISIS menaruh perhatian luar biasa terhadap sumber daya di Afghanistan dengan menyimpan senjata di wilayah timur."

Cabang ISIS muncul di Afghanistan tak lama setelah kelompok militan itu dipukul mundur dari Suriah dan Irak pada musim panas 2014.

Simpatisan ISIS di Afghanistan awalnya hanya berjumlah sekitar puluhan orang, kebanyakan orang Pakistan Taliban yang berasal dari sepanjang perbatasan dan mereka yang lebih tertarik dengan ideologi ekstrem ISIS.

Sementara Taliban berjuang untuk menguasai Afghanistan, militan ISIS bersumpah setia kepada Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS di Timur Tengah dan mereka mendukung seruan untuk berjihad melawan non-muslim di seluruh dunia.

Di Afghanistan ISIS melancarkan serangan besar-besaran kepada minoritas Syiah. ISIS awalnya sempat berantakan ketika para pentolan mereka dihabisi serangan udara AS. Tapi kelompok itu kemudian mendapat sokongan ketika Gerakan Islam dari Uzbekistan bergabung pada 2015.

REUTERS/Rodi Said

Hari ini ada sekitar ribuan anggota ISIS, sebagian dari Asia Tengah, tapi juga negara Arab, Chechnya, India, dan Bangladesh serta Uighur dari China.

ISIS selama ini bercokol di sebelah timur di Provinsi Nangarhar, kawasan sepanjang perbatasan dengan Pakistan. Tapi mereka kuat di sebelah timur laut Afghanistan dan belakangan memperluas wilayah mereka ke Provinsi Kunar.

Ajmal Umar, anggota dewan dari Provinsi Nangarhar, mengatakan ISIS kini bercokol di empat provinsi: Nangarhar, Nuristan, Kunar, dan Laghman, dan Kunar dipandang akan menggantikan pusat kekuasaan ISIS di Timur Tengah.

"Ketika mereka mulai datang ke Afghanistan mungkin ada sekitar 150 anggotanya, tapi hari ini ada ribuan," kata Umar.

Menurut pejabat intelijen AS, "Tampaknya perluasan wilayah di sebelah timur Afghanistan jadi tujuan utama mereka."

Dalam lawatannya ke Kyrgystan bulan lalu, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu menyebut Afghanistan adalah 'pangkalan' ISIS setelah mereka diusir dari Irak dan Suriah.

Martin Azizi-Yarand, pemuda 18 tahun asal Texas yang merencanakan serangan ke sebuah mal pada 2018 mengaku dia terinspirasi dari ISIS dan siap bergabung dengan kelompok itu di Afghanistan. Dia kemudian divonis hukuman penjara 20 tahun.

Rakhmat Akhilov, 39 tahun, asal Uzbek yang menabrakkan truk ke pejalan kaki di Stockholm pada 2017 juga mengaku punya kaitan dengan simpatisan ISIS di Afghanistan.

"Dalam interogasi dia mengatakan, 'ini komandan saya di Afghanistan dan dia memberi tahu apa yang harus saya lakukan'," kata pejabat intelijen. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini