Dampak Nyata Perubahan Iklim di Irak: Ladang Kami Mengering dan Pohon-Pohon Mati

Sabtu, 6 November 2021 07:21 Reporter : Hari Ariyanti
Dampak Nyata Perubahan Iklim di Irak: Ladang Kami Mengering dan Pohon-Pohon Mati Lahan perkebunan yang mengering di Irak. ©Courtesy of People in Need/Al Jazeera

Merdeka.com - Empat tahun lalu, sungai kecil yang mengalir di desa al-Hamra, Irak, mengering. Sekarang, “semua pohon mati”, kata Abdullah Kamel, petani jeruk di desa yang ada di provinsi Saladin, utara Baghdad tersebut.

Para petani kemudian berusaha menggali sumur-sumur tapi menemukan air tanah cukup asin dan tidak cocok untuk pertanian.

“Itu mematikan pohon-pohon dan semua tanaman kami,” kata Kamel, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (5/11).

Kamel menarik sebiji buah delima dari pohon terdekat, dia membelahnya di di tanah berdebu itu. Pucat, biji-bijinya yang rapuh berjatuhan.

“Bijinya tidak bisa dimakan,” ujarnya.

Kamel mengatakan, tanah di sekitar al-Hamra, yang dulunya adalah ladang dan kebun buah, kini telah menjadi seperti gurun dalam beberapa tahun, disertai dasar sungai berubah menjadi parit kering kerontang.

“Saya harus berhenti berkebun,” ujarnya.

“Saya mulai mencari pekerjaan lain dan itu semua karena kekurangan air.”

Sebanyak 7 juta orang berisiko kekurangan air di Irak, menurut laporan terbaru dari kelompok bantuan di daerah tersebut. Naiknya suhu, curah hujan yang rendah, dan kurangnya akses air sungai meningkatkan bahaya dan keparahan kekerangan.

Perubahan iklim adalah salah satu faktor yang menyebabkan kekeringan di Irak, menurut dosen geologi Universitas Salahaddin, Rebrwar Nasir Dara. Dia menambahkan, berkurangnya permukaan air di sungai Tigris dan Efrat memperburuk keadaan ini.

Berkurangnya permukaan air di dua sungai yang menyuburkan Irak itu sebagian disebabkan oleh banyaknya proyek bendungan di hulu di Turki dan Iran, negara-negara yang pada gilirannya menghadapi peningkatan permintaan air dari warganya sendiri di tengah krisis iklim.

“Debit air melalui sungai-sungai yang berasal dari Iran dan Turki itu kini berkurang hingga 50 persen,” kata Dara.

Di antara faktor-faktor yang dianggap secara lokal mempengaruhi kelangkaan air di Irak adalah “Great Anatolia Project” Turki, sebuah upaya pembangunan besar selama beberapa dekade dan terdiri dari 22 bendungan dan 19 pembangkit listrik tenaga air di sungai Tigris dan Efrat.

Menurut media pemerintah Irak, kementerian sumber daya air menandatangani nota kesepahaman bersama dengan Turki pada Oktober untuk "kuota yang adil dan merata" air untuk Irak.

Saat ini kementerian sumber daya air Irak sedang dalam proses mengajukan gugatan internasional terhadap Iran karena kurangnya kerjasama atas air setelah pembicaraan tertunda dengana danya pemilu Irak dan pembentukan pemerintahan baru di Iran.
Dara mengatakan, ketika para pemimpin dunia berkumpul di Glasgow untuk KTT iklim PBB atau COP26, kerjasama internasional sangat diperlukan untuk Irak.

Hal ini sangat penting mengingat meningkatnya potensi konflik atas air di wilayah tersebut, kata Fabrizio Orsini, penasihat iklim untuk People in Need, sebuah LSM internasional yang memberikan bantuan kemanusiaan dan bantuan pembangunan di Irak.

"Pada dasarnya, Anda memiliki lebih banyak tekanan pada sumber daya yang semakin sedikit," jelasnya.

Orsini menambahkan, selain menurunnya permukaan air, banyak warga Irak yang menghadapi polusi air dan tingkat salinitas yang tinggi. Menurut Human Rights Watch, lebih dari 118.000 orang dirawat di rumah sakit pada tahun 2018 dengan gejala yang berhubungan dengan kontaminasi air di provinsi selatan Basra.

Orsini mengatakan, berkurangnya sumber daya air, kualitas air yang buruk, dan kurangnya pendekatan terpadu dapat menciptakan resep untuk destabilisasi.

“Banyak konflik air yang akan terjadi di masa depan karena situasi-situasi ini. Perubahan iklim memburuk hal ini dan semakin mengancam.”

2 dari 3 halaman

Dampak konflik

rev1

Konflik puluhan tahun di Irak telah memperburuk banuak infrastruktur air negara tersebut, di mana konflik ISIS yang paling berpengaruh terhadap akses air bagi banyak warga.

Seorang pegiat komunitas di Mosul, Ayoob Thanon, mengatakan akses air mereka terputus ketika daerah itu terkepung dari 2014 sampai 2017 oleh kelompok bersenjata.

“Karena pengeboman, kami harus menggali sumur,” kata Thanon.

Selain mengalami kelangkaan air, mengumpulkan air selama pengepungan itu merupakan kegiatan yang bisa menghilangkan nyawa.

“Banyak orang mati karena berusaha mendapatkan air dari sungai dan sumur-sumur, karena pengeboman ISIS dan pesawat koalisi,” ujarnya.

“Menggali sumur (dekat rumah-rumah warga) adalah salah satu cara kami membantu orang-orang mendapatkan air dengan aman dan tidak terbunuh.”

Thanon menambahkan, sumur-sumur tersebut juga membantu mencegah warga meninggalkan kota tersebut karena banyak saluran pipa yang hancur karena pertempuran. Namun, lanjutnya, banyak warga meninggalkan daerah sekitar Mosul.

“Banyak desa ditinggalkan karena kekurangan air.”

Menurut badan migrasi PBB (IOM), lebih dari 21.000 orang mengungsi dari provinsi pusat dan selatan pada 2019 karena kekurangan akses air bersih. IOM memperingatakan, risiko warga yang mengungsi karena kelangkaan air ini masih tinggi, di mana krisis air di Irak diperkirakan berlangsung lama.

Dara mengatakan dia mengkhawatirkan masa depan keamanan air di Irak, khususnya jika permukaan air di Tigris dan Efrat terus menurun.

“Kita mengalami krisis air di Kurditas. Bayangkan jika 7 juta orang bermigrasi ke daerah kami (karena kelangkaan air), apa yang bakal terjadi? Itu bagian dari Irak, kami harus mengakomodasi mereka,” jelasnya.

“Jika Anda mengalami kelangkaan air, keamanan makanan Anda akan dalam bahaya, karena mereka semua saling berkaitan. Untuk generasi mendatang, kita harus mengatasinya.”

Dia menambahkan, buruknya pengelolaan dan perencanaan air di Irak juga patut disalahkan.

“Kita butuh sebuah strategi. Salah kelola, kurangnya kebijakan lokal, kurangnya kebijakan air, dan (kurangnya) kerangka hukum yang efisien, itulah masalahnya.”

3 dari 3 halaman

Kami tidak ingin bantuan lain, kami hanya meminta air

Pada Oktober, media pemerintah Irak melaporkan strategi kementerian sumber daya air yang akan datang untuk musim kemarau, dimana direktur jenderal Pusat Nasional untuk Pengelolaan Sumber Daya Air menyatakan ada kekurangan air untuk pertanian, dan rencana untuk manajemen sumber daya air telah disiapkan.

Kementerian sumber daya air tidak menanggapi permintaan komentar lebih lanjut tentang strategi air mereka atau negosiasi internasional.

Menurut Orsini, banyak persoalan pengelolaan air yang bisa dilihat di sebagian besar tingkat lokal. Dia menjelaskan praktik penggunaan air di pertanian serta daerah perkotaan “tidak selaras dengan sumber daya yang mereka miliki sekarang dan yang akan mereka miliki dalam waktu dekat, yang semakin berkurang”.

Koordinator proyek mata pencaharian People in Need (PIN), Ivan Khadir juga membuktikan perlunya kesadaran yang lebih besar seputar penggunaan air di Irak.

“Banyak hal yang disalahgunakan oleh petani, bahkan pupuk,” jelasnya, seraya menambahkan oenyalahgunaan pupuk dapat meningkatkan salinitas sumber air.

Dia menambahkan, organisasi lokal dan internasional di lapangan telah berusaha mengatasi masalah ini.

“PIN (People in Need) and WFP (Program Pangan Dunia) sedang melakukan rehabilitasi kanal-kanal, pompa, dan jaringan irigasi untuk membantu petani yang sedang berjuang di Saladin, sembari juga menawarkan rumah kaca dan pelatihan bagi petani terpilih tentang praktik pertanian cerdas-iklim,” jelas Khadir kepada Al Jazeera.

 

Namun Khadir menekankan, dukungan yang lebih besar diperlukan agar petani dapat meningkatkan praktik mereka dan mengurangi limbah air.

“Sistem irigasi tetes (diperlukan) dengan dukungan lebih besar dari pemerintah untuk memberi mereka pupuk murah.”

Sebuah penelitian yang diterbitkan tahun ini menemukan bahwa memasang sistem irigasi tetes dan sprinkler akan menghemat sekitar setengah dari jumlah air yang saat ini dibutuhkan petani untuk mengairi lahan pertanian mereka.

Kendati tantangannya besar, Kamel mengaku masih memiliki harapan ke depan.

“Saya memiliki harapan yang kuat untuk Irak,” katanya.

“Kami tidak ingin bantuan lain, kami hanya meminta air, seluruh hidup saya bergantung pada air.”

[pan]

Baca juga:
Aktivis Berkepala Pemimpin Negara Sikapi KTT Iklim PBB COP26
WALHI Minta Pemerintah Susun Kebijakan yang Fokus pada Pemulihan Lingkungan
Aksi Teatrikal Suarakan Darurat Iklim Ancam Indonesia
Janji Kosong Pemimpin Dunia Tangani Krisis Iklim dan Ancaman Musnahnya Peradaban
Pertamina Siapkan USD 8,3 Miliar untuk Kembangkan Sektor Energi Bersih
CEK FAKTA: Menelusuri Klaim Pemerintah Meningkatkan Upaya Kendalikan Perubahan Iklim
Cak Imin: KTT COP26 Jadi Panggung RI Tunjukkan Kontribusi Tangani Perubahan Iklim

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini