Dalam 24 Jam Aparat Keamanan Irak Tembak Mati 13 Demonstran

Rabu, 6 November 2019 11:58 Reporter : Hari Ariyanti
Dalam 24 Jam Aparat Keamanan Irak Tembak Mati 13 Demonstran Demo Irak. ©2019 REUTERS

Merdeka.com - Pasukan keamanan Irak menembak mati setidaknya 13 demonstran dalam 24 jam terakhir. Dalam beberapa pekan terakhir, gelombang unjuk rasa terjadi di sejumlah kota dan di ibu kota negara, Baghdad. Para pengunjuk rasa memprotes partai-partai politik yang mengendalikan pemerintah.

Setelah delapan orang tewas pada Senin, pasukan keamanan menembak mati setidaknya lima orang dalam semalam atau pada Selasa dini hari, termasuk satu tewas dengan dengan tembakan langsung ke arah prosesi pemakaman demonstran yang meninggal beberapa jam sebelumnya, sumber keamanan dan medis mengatakan kepada Reuters, seperti dilansir dari laman Al Arabiya, Rabu (6/11).

Lebih dari 260 warga Irak tewas dalam unjuk rasa sejak Oktober memprotes pemerintah yang dinilai korup dan dikuasai pihak asing, terutama Iran.

Tewasnya para demonstran terjadi selama pekan pertama unjuk rasa, ketika penembak meletuskan tembakan ke kerumunan pengunjuk rasa dari atap bangunan di Baghdad. Namun setelah pemerintah menghentikan penggunaan kekerasan, unjuk rasa makin meningkat dalam 12 hari terakhir.

Kekerasan kembali terjadi sehari setelah Perdana Menteri Irak Adil Abdul Mahdi mengimbau para pengunjuk rasa untuk menghentikan aksi. Menurut Mahdi, tuntutan para pengunjuk rasa telah tercapai dan unjuk rasa berdampak pada perekonomian.

1 dari 1 halaman

Berdampak Ekonomi

Dalam pidatonya di televisi pada Selasa, Mahdi mengatakan unjuk rasa berdampak pada perekonomian negara dan meminta pengunjuk rasa menahan diri tidak merusak properti publik dan pribadi.

"Ada banyak cara menyampaikan pendapat tanpa mengganggu aktivitas publik," ujarnya.

Abdul Mahdi mengatakan dia bersedia mundur jika para politikus setuju untuk pergantian dan berjanji melakukan sejumlah perbaikan. Namun para pengunjuk rasa tak puas dan meminta seluruh jajaran politikus mengundurkan diri.

"Setelah gelombang pertama unjuk rasa, kami memberi pemerintah tenggat waktu sampai 25 Oktober untuk melakukan reformasi," kata pengunjuk rasa berusia 30 tahun, yang menolak menyebut namanya demi alasan keamanan, di Baghdad.

Dia juga mengatakan penggunaan kekerasan semakin membuat brutal para pengunjuk rasa yang awalnya hanya menuntut reformasi hukum dan konstitusi. Sekarang mereka ingin perubahan secara menyeluruh dalam pemerintahan. [pan]

Baca juga:
Sentimen Anti-Iran Diam-Diam Mulai Tumbuh di Irak
Temukan Tempat Aman di Irak, Militan ISIS Sedang Bangun Kekuatan untuk Bangkit Lagi
Sederet Keraguan Seputar Kematian Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi
Masa Depan ISIS Selepas Kematian Baghdadi
Aksi Protes Irak Tewaskan 40 Orang

Topik berita Terkait:
  1. Irak
  2. Iran
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini