Dahsyatnya Banjir Pakistan, "Ini Seperti Perang yang Tak Ada Habisnya"

Rabu, 5 Oktober 2022 18:57 Reporter : Merdeka
Dahsyatnya Banjir Pakistan, "Ini Seperti Perang yang Tak Ada Habisnya" Banjir di Pakistan. ©2022 REUTERS

Merdeka.com - Bencana banjir telah membawa perubahan drastis bagi penduduk Pakistan. Bencana itu telah merenggut sekitar 1,700 nyawa. Keluarga-keluarga pun kehilangan orang yang dikasihi hingga kehilangan tempat tinggal.

Pemerintah Pakistan juga dilanda kesulitan menghadapi bencana ini, terutama masalah kesehatan. Sejumlah 2,000 rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan rusak dilanda banjir.

Namun Pakistan tidak diabaikan oleh komunitas internasional. Bantuan-bantuan pun berdatangan membantu Pakistan yang hancur karena bencana itu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengajukan bantuan untuk membantu Pakistan sebesar USD 800 juta atau Rp 12,1 triliun. Dana itu akan membantu keluarga dan anak-anak Pakistan yang mengalami kekurangan gizi hingga penularan penyakit akibat bencana banjir.

Dokter-dokter diterjunkan untuk merawat warga Pakistan yang terkena bencana itu, salah satunya adalah Dr Ammara Gohar.

“Itu sangat sulit bagi kami. Kami merawat pasien selama Covid, tetapi ini lebih sulit karena melibatkan bahaya lingkungan,” jelas Dr Ammara, seperti dilansir BBC, Selasa (4/10).

Dr Ammara adalah sebagian dari tenaga kesehatan yang ditempatkan di Provinsi Sindh, yaitu provinsi yang paling parah terkena bencana banjir.

Di sini, Dr Ammara dan timnya bekerja untuk memberikan obat-obat, seperti kapsul malaria, alat tes hepatitis hingga obat oralit. Dr Ammara beserta timnya tetap membantu warga sekitar yang terputus dari dunia luar.

“Kami memberikan ini kepada orang-orang yang benar-benar terputus sejak banjir,” jelasnya.

Dr Ammara dan timnya pun harus menghadapi berbagai rintangan dalam membantu penduduk Provinsi Sindh yang 75 persen wilayahnya terendam air. Satu-satunya cara bagi warga provinsi itu mendapatkan bantuan medis adalah jika bantuan itu datang kepada mereka.

Air pun menggenang di berbagai tempat dan membentuk danau besar sehingga merusak bahan pangan. Genangan itu menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk dan penyakit.

Namun bantuan harus sampai sebab penduduk desa telah terdampar selama berminggu-minggu karena terperangkap banjir. Dr Ammara beserta timnya pun harus menyeberang danau itu dengan perahu kayu.

“Orang-orang ini tidak dapat bertahan hidup tanpa dukungan di daerah yang dilanda bencana,” jelas Dr Ammara.

“Ini adalah krisis medis. Akses adalah salah satu masalah terbesar – setiap hari kebutuhan medis masyarakat ini selalu meningkat,” jelas perwakilan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), Aadarsh Laghari.

Di awal September sendiri, tercatat 140,000 kasus malaria di Provinsi Sindh. Namun angka itu mungkin lebih besar sebab masih banyak warga yang belum diperiksa. Itulah mengapa bantuan medis sangat dibutuhkan di provinsi itu.

2 dari 2 halaman
dahsyatnya banjir pakistan, "ini seperti perang yang tak ada habisnya"

Setelah sampai ke daratan, Dr Ammara dan timnya segera membuat pusat kesehatan sementara di bawah pohon. Dari pusat kesehatan itu, Dr Ammara beserta timnya membagi-bagi obat-obat dan memeriksa warga desa.

Warga desa segera mendatangi pusat kesehatan sementara itu. Banyak yang membawa anak-anaknya untuk diperiksa. Desa bernama Noor Shah itu sebelumnya sudah mengalami kemiskinan dan bencana banjir kembali membawa kesulitan bagi warga.

Bayi-bayi pun diperiksa tim Dr Ammara dan mereka menemukan satu bayi yang sangat kurus.

“Ada begitu banyak orang seperti bayi ini. Pada usia sembilan bulan, dia mengalami kekurangan gizi parah,” jelas Dr Ammara.

Kehidupan warga desa pun semakin memburuk. Banyak warga desa tidur di tenda-tenda kumuh karena rumah mereka tersapu air banjir. Mereka pun membutuhkan bantuan medis hingga pasokan makanan dan air bersih.

Di desa lain, Dr Ammara dan timnya menjumpai anak berumur 3 tahun bernama Gulbahar. Mereka menemukan badan anak itu dipenuhi koreng dan tubuhnya lemah. Menurut Dr Ammara, anak itu minum air yang terkontaminasi.

PBB mengungkap banyak warga Pakistan yang terdampak banjir harus mandi dan minum dari air yang digunakan untuk buang air besar dan kecil.

“Karena banjir kita melihat begitu banyak anak kecil dengan infeksi kulit ini,” jelas Dr Ammara.

Pemerintah Pakistan sendiri kewalahan untuk menangani peningkatan penyakit karena mereka tidak memiliki sumber daya untuk membantu semua orang yang perlu perawatan.

Penduduk yang terkena dampak banjir pun menyalahkan pemerintah Pakistan karena tidak membantu mereka.

“Ini seperti peperangan yang tidak ada habisnya. Sampai air surut, yang akan memakan waktu dua, tiga bulan lagi, kita masih akan melihat banyak masalah kesehatan,” jelas Menteri Kesehatan Provinsi Sindh, Dr Azra Afzal Pechuho.

Menteri Pechuho pun memohon agar dokter-dokter bekerja lebih lama untuk membantu penduduk Pakistan.

“Sepuluh hari, tiga hari, empat hari – apa pun yang mereka rasa dapat mereka berikan kepada daerah yang terkena banjir,” jelas Pechuho.

Dr Ammara dan timnya bekerja keras untuk membantu penduduk Pakistan.

“Pedih, rasanya sangat pedih, saya tidak bisa melihat orang seperti ini. Saya merasa tidak enak karena kita tidak bisa berbuat lebih banyak,” jelas Dr Ammara.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan

[pan]

Baca juga:
Sekjen PBB Soal Banjir Pakistan: Saya Belum Pernah Melihat Bencana Iklim Separah Ini
Korban Tewas Banjir Pakistan Hampir 1.500 Orang, Sepertiga Anak-Anak
Penampakan Satelit Saat Banjir Pakistan Membentuk Danau Raksasa
Banjir di Pakistan Munculkan Danau Raksasa Selebar 100 Kilometer
Jembatan Tersapu Banjir, Warga Pakistan Nekat Seberangi Sungai Pakai Gondola
Sepertiga Wilayah Pakistan Terendam Banjir, Kerugian Lebih dari Rp148 triliun

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini