Cuma Tersedia Bagi 200 Ribu Pasien Covid-19, Siapa Berhak Mendapat Remdesivir?

Sabtu, 9 Mei 2020 06:30 Reporter : Hari Ariyanti
Cuma Tersedia Bagi 200 Ribu Pasien Covid-19, Siapa Berhak Mendapat Remdesivir? RS Pertamina Jaya. ©2020 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Merdeka.com - Remdesivir adalah obat pertama dan satu-satunya yang sejauh ini terbukti efektif melawan virus corona dalam uji coba yang ketat. Efeknya sederhana tetapi signifikan - memperpendek waktu perawatan pasien di rumah sakit menjadi hanya sekitar empat hari.

Spesialis penyakit menular Amerika Serikat (AS), Anthony Fauci menyebutnya sebagai "standar perawatan" baru untuk Covid-19.

Namun menurut produsen obat ini, Gilead Sciences, saat ini hanya ada sekitar 200.000 remdesivir untuk pasien di seluruh dunia. Siapa yang berhak mendapatkan obat ini?

Pemerintah AS, yang memutuskan ke mana remdesivir disalurkan, telah menawarkan beberapa jawaban dan sedikit panduan sejak obat itu diizinkan untuk digunakan pada pasien yang dirawat di rumah sakit sepekan yang lalu.

Tidak ada rencana komprehensif untuk distribusi yang dirilis untuk umum. Tetapi dokter dan apoteker di garis depan mengatakan kepada CNN, proses untuk mengakses obat itu tidak jelas.

"Apakah kita akan mendapatkannya? Ya, tidak? Berapa cepat kita akan mendapatkannya? Setiap hari Anda menunda membawa obat ke rumah sakit tertentu atau artinya masyarakat akan kehilangan nyawa," kata profesor kedokteran Fakultas Kedokteran San Fransisco Universitas California, Dr. Peter Chin-Hong, dilansir dari CNN, Jumat (8/5).

Sampai sekarang, tampaknya belum ada cara bagaimana mengajukan remdesivir, menurut enam dokter dan apoteker kepada CNN.

Chin-Hong mengatakan, seorang kolega menggambarkan proses itu sebagai: "Jangan hubungi kami, kami akan menghubungi Anda."

Dikonfirmasi perihal ini pada Minggu, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) AS meminta kepada CNN untuk menghubungi Badan Manajemen Darurat Federal (FEMA), yang mengatakan obat itu akan didistribusikan "berdasarkan rencana alokasi yang disetujui oleh Satgas Covid-19 Gedung Putih."

Pada Rabu, FEMA mengarahkan CNN kembali ke HHS, mengatakan bahwa agensi akan menangani distribusi obat. HHS dan Satgas Gedung Putih tidak menanggapi permintaan komentar CNN.

AmerisourceBergen, distributor remdesivir di AS di situs webnya menjelaskan: "Jika Anda adalah rumah sakit yang diidentifikasi pemerintah AS sebagai penerima sumbangan remdesivir, Anda akan secara proaktif dihubungi oleh perwakilan AmerisourceBergen."

Sumbangan itu mengacu pada 1,5 juta botol remdesivir yang disebut CEO Gilead Sciences, Daniel O'Day disediakan pemerintah AS untuk sekitar 100.000 dan 200.000 pengobatan.

Tetapi O'Day juga mengatakan perusahaan berencana mendistribusikan sumbangan itu secara global.

Diminta klarifikasi akhir pekan lalu, juru bicara Gilead, Sonia Choi mengatakan kepada CNN: "Kami bekerja dengan pihak berwenang di seluruh dunia dan ahli bioetika untuk membantu menginformasikan pendekatan alokasi global kami."

1 dari 2 halaman

Transpransi dan Potensi Munculnya Perlawanan

Chin-Hong mengatakan, pihaknya telah membahas akses remdesivir dengan dokter di seluruh AS. Dia mengatakan para dokter cemas karena menilai distribusi remdesivir kurang transparan. Dokter memahami pasokan obat terbatas dan sumber daya perlu dijatah. Namun proses pendistribusian penting dijelaskan sehingga para dokter bisa menyampaikan kepada masyarakat.

Analis medis CNN, Arthur Caplan mempelajari masalah ini sebelumnya.

"Satu hal yang kita ketahui tentang penjatahan adalah orang-orang akan menerimanya jika mereka memahami alasannya," katanya.

Penjatahan dan distribusi yang tidak transparan dapat menuai perlawanan dan kemarahan dari pasien dan keluarga pasien jika mereka tidak dapat mengakses obat tersebut tanpa tahu alasannya.

Profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Massachusetts, Dr. Nicole Theodoropoulos mengatakan, obat itu dijanjikan ke beberapa rumah sakit tanpa kriteria yang jelas.

"Sulit untuk mengetahui apa yang harus diberitahukan kepada pasien ketika tidak ada transparansi tentang prosesnya."

Gilead Sciences belum menanggapi permintaan konfirmasi dari CNN, meskipun perusahaan telah mengatakan "puluhan ribu" program remdesivir akan mulai dikirimkan pekan ini.

Dalam sebuah pernyataan, AmerisourceBergen, distributor obat, mengatakan: "Keputusan rumah sakit mana dan jumlah produk yang akan mereka terima ditetapkan pemerintah, AmerisourceBergen menggunakan infrastruktur dan keahlian kami untuk secara efisien menyalurkan produk apa pun yang kami terima dari Gilead agar tetap terjaga sesuai arahan pemerintah. "

Seorang profesor farmasi klinis di UCSF, Conan MacDougall mengatakan telah menyusun daftar tidak resmi rumah sakit yang tidak dijadwalkan menerima obat melalui survei apoteker dan dokter.

Menurutnya, beberapa pusat medis utama mungkin dapat menyediakan remdesivir kepada pasien di bawah program penelitian yang ada, tetapi tidak semua pasien memenuhi syarat untuk itu.

Uji klinis dan yang disebut program akses diperluas, yang telah lama tersedia, memiliki kriteria yang ketat. Saat Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS (FDA) mengeluarkan otorisasi penggunaan darurat remdesivir pekan lalu, ditetapkan langkah bagaimana meningkatkan akses ke obat tersebut.

2 dari 2 halaman

Harus Berdasar Data Bukti Penyebaran Virus

Cameron Wolfe, seorang profesor kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Duke, mengatakan dirinya memahami persediaan yang terbatas, tapi perlu didistribusikan ke seluruh wilayah.

"Mungkin hal yang bisa kita sampaikan, kita tidak punya (persediaan) cukup, dan disalurkan ke kota-kota yang paling terdampak. Saya pikir sebagian besar keluarga akan memahami hal itu. Ini adalah hal yang sulit, tetapi saya pikir mereka akan mengerti mengapa."

Pada hari Rabu, Asosiasi Masyarakat Penyakit Menular dan Pengobatan HIV AS menulis surat bersama kepada Wakil Presiden Mike Pence, mendesak pemerintah federal untuk memastikan "distribusi remdesivir yang adil dan merata."

Rencana untuk mengalokasikan obat, kata mereka, harus didasarkan pada bukti penyebaran virus.

"Data tentang distribusi remdesivir di bawah (otorisasi penggunaan darurat) harus tersedia untuk umum," jelas asosiasi ini dalam suratnya. [bal]

Baca juga:
Selain Curcumin, Ekstrak Daun Kelor Diklaim Mampu Tangkal Virus Corona
Abaikan Hak Paten, Bangladesh Segera Produksi Obat Covid-19 Remdesivir
WHO Peringatkan Hati-hati Klaim Obat Herbal Bisa Sembuhkan Covid-19
Dua BUMN Farmasi Produksi 3 Jenis Obat untuk Perawatan Pasien Covid-19
Madagaskar Ekspor Minuman Herbal Diklaim Sembuhkan Covid-19 ke Negara Afrika Barat

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini