Cerita pekerja Korea bunuh diri karena tekanan kerja

Senin, 30 Juli 2018 07:15 Reporter : Pandasurya Wijaya
Cerita pekerja Korea bunuh diri karena tekanan kerja warga korea selatan. ©NYTimes

Merdeka.com - Lee Han adalah seorang produser sebuah serial televisi berjudul 'Mabuk Sendiri', bercerita tentang anak-anak muda yang mengikuti ujian untuk bisa jadi pegawai negeri. Mereka kerap mabuk-mabukan sendiri untuk melepaskan tekanan dari ujian yang sulit.

Tapi Lee Han rupanya punya kondisi tertekan tak kalah hebatnya. Dia harus bekerja 20 jam sehari sampai akhirnya memutuskan bunuh diri.

Beberapa hari sebelum produksi serial televisi itu selesai, Lee meninggalkan sebuah catatan pribadi yang menggambarkan budaya kerja di Korea Selatan yang begitu mengeksploitasi buruh atau karyawan macam Lee dan rekan-rekannya.

"Saya bukan apa-apa, hanya seorang buruh," tulis Lee, seperti dilansir laman the Straits Times, Minggu (29/7).

"Saya bukan siapa-siapa, tidak lebih dari seorang manajer yang memaksa anak buahnya bekerja lebih lama."

Pesan Lee menjadi peringatan bagi seantero Korea Selatan yang selama ini juga dikenal warganya pekerja keras.

Menurut data perburuhan, warga Korsel menjalani jam kerja lebih panjang ketimbang orang Jepang yang sudah terkenal dengan gila kerja dan bahkan ada yang meninggal karena terlalu bekerja keras.

Orang Korsel menjalani 240 jam kerja lebih lama per tahun ketimbang orang Amerika. Atau dengan kata lain sebulan penuh lebih lama untuk durasi kerja delapan jam.

Kepolisian Korsel mengatakan tekanan kerja ikut berperan terhadap 500 kasus bunuh diri per tahun atau sebanyak 14 ribu buruh saban tahun.

Para pejabat Korsel kini berupaya mengubah kondisi itu. Peraturan baru yang mulai berlaku bulan ini menyatakan jam kerja para buruh adalah 52 jam sepekan.

Pemerintah kini mendorong para perusahaan swasta untuk mengizinkan karyawannya pulang pada malam hari dan meliburkan mereka di akhir pekan.

"Masyarakat kita hancur karena terlalu banyak bekerja," begitu pesan otomatis yang berbunyi ketika seseorang menelepon kantor Kementerian Tenaga Kerja dan buruh Korsel.

Woo Su-jin, 26 tahun, bekerja sebagai desain grafis di sebuah media mengatakan kantornya kini membolehkan dia masuk siang jika sehari sebelumnya dia pulang hingga larut malam.

"Saya dan teman kerja lebih suka pulang lebih awal ketimbang harus lembur meski dibayar," kata Woo. [pan]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini