Hot Issue

Cerita Mereka yang Bertahan Hidup Hanya dengan Remahan Roti Basi

Jumat, 17 Juni 2022 07:27 Reporter : Hari Ariyanti
Cerita Mereka yang Bertahan Hidup Hanya dengan Remahan Roti Basi Pedagang roti di Afghanistan. ©AFP

Merdeka.com - Di sebuah kios di depan masjid berkubah biru di Kabul, Afghanistan, karung-karung jingga dipenuhi remahan roti naan sisa. Roti-roti sisa ini biasanya dijadikan pakan ternak, tapi sekarang, menurut penjualnya, roti ini dikonsumsi lebih banyak warga Afghanistan.

"Sebelumnya, lima orang membeli roti ini dalam sehari, sekarang lebih dari 20 orang (yang beli)," kata Shafi Mohammed, yang telah berjualan roti selama 30 tahun terakhir di pasar Pul-e-Kheshti, Kabul, dikutip dari BBC, Kamis (16/6).

Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan tahun lalu, perekonomian Afghanistan semakin merosot. Masyarakat mengeluhkan krisis ekonomi yang semakin parah. Pendapatan rata-rata berkurang sepertiga, sementara harga bahan makanan mengalami kenaikan pesat.

"Kehidupan orang Afghanistan saat ini seperti seekor burung yang terkurung dalam sangkar tanpa makanan ataupun air," ujarnya.

"Saya berdoa semoga Allah menghilangkan penderitaan dan kemiskinan ini dari negara kami."

Bantuan kemanusiaan telah dikirimkan ke Afghanistan karena takut terjadi kelaparan selama musim dingin, tapi ada kekhawatiran bantuan tersebut tidak cukup.

Hashmatullah, salah satu warga miskin Afghanistan yang menderita dibelit krisis berkepanjangan ini. Dia bekerja sebagai buruh pasar, tapi pendapatannya menurun sejak tahun lalu.

Dia membeli sekantong roti basi.

"Saya bekerja sejak pagi dan hanya ini yang mampu saya beli," ujarnya kepada BBC.

2 dari 2 halaman

Dimasak agar lunak

Ada industri kecil di belakang roti basi ini. Kolektor remahan roti mengumpulkannya dari restoran, rumah sakit, dan rumah warga dan membawanya ke perantara yang menjualnya ke pemilik kios atau lapak.

"Orang-orang kelaparan," kata salah satu pengumpul remahan roti, sembari menunjuk sekarung roti sisa yang dikumpulkan selama sepekan.

Di masa lalu, kata dia, mereka mengumpulkan satu karung per hari.

"Kalau kami menemukan roti yang bersih, kami biasanya memakannya sendiri," ujarnya.

Di rumahnya di lingkungan miskin di Kabul, Hashmatullah memasak roti tersebut agar lunak dan menambahkannya dengan tomat dan bawang.

"Saya merasa malu di depan keluarga saya, bahwa saya sangat miskin saya tidak mampu memberikan mereka makanan yang layak," ujarnya.

"Saya tidak bisa apa-apa. Bahkan kalau saya mencoba meminjam uang, tidak akan ada yang meminjamkannya pada saya. Putra-putraku sangat kurus karena mereka tidak makan dengan layak."

[pan]

Baca juga:
Taliban Perintahkan Presenter TV Pakai Cadar, "Bagaimana Bisa Saya Baca Berita?"
Cerita Perlawanan Perempuan Afghan,"Pendidikan Bisa Selamatkan Kami dari Kegelapan"
Taliban Larang Perempuan dan Laki-Laki Makan Bareng di Restoran
Jutaan Warga Afghanistan Rayakan Idulfitri di Tengah Bencana Kelaparan
Bondong-Bondong Warga Afghanistan Panggul Sekarung Beras Bantuan dari China
Di Afghanistan, Orang-Orang Menjual Bayi untuk Bertahan dari Kelaparan
Geruduk UNHCR, Pengungsi Afghanistan Minta Dipindah ke Negara Ketiga
Afghanistan Negara Paling Tidak Bahagia di Dunia

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini