Cerita Barisan Putus Asa Para Pencari Obat Corona

Jumat, 7 Februari 2020 07:12 Reporter : Merdeka
Cerita Barisan Putus Asa Para Pencari Obat Corona warga mengantre masker wajah di tengah wabah virus corona. ©2020 REUTERS/Tyrone Siu

Merdeka.com - Virus corona yang menyebar dengan cepat di China serta kurangnya sumber daya medis, mendorong orang untuk menggunakan cara-cara yang tidak lazim agar bisa mendapatkan obat, salah satunya memesan obat-obatan HIV melalui importir yang tidak sah.

Otoritas kesehatan China mengatakan belum ada obat yang efektif untuk virus corona.

Meskipun tidak ada bukti dari uji klinis, Komisi Kesehatan Nasional China mengatakan obat HIV lopinavir/ritonavir dapat digunakan untuk pasien virus corona, tanpa menjelaskan bagaimana obat itu bisa menyembuhkan.

Hal itu memicu desakan permintaan, khususnya untuk Kaletra (juga dikenal sebagai Aluvia), yang merupakan obat terlarang versi paten dari lopinavir/ritonavir dari AbbVie dan satu-satunya jenis yang diizinkan untuk dijual di China.

Dikutip dari laman Reuters, Kamis (6/2), obat itu biasanya digunakan untuk mengobati dan mencegah HIV dan AIDS. AbbVie mengatakan bulan lalu China sedang menguji itu sebagai pengobatan untuk gejala virus corona.

1 dari 3 halaman

Devy, seorang pekerja lepas berusia 38 tahun di Provinsi Shandong mengatakan, dirinya termasuk satu di antara ratusan orang yang menghubungi pengidap HIV untuk meminta obat.

Meskipun belum lama ini dia tidak bepergian ke Provinsi Hubei atau Wuhan, dia khawatir tertular virus corona setelah dokter menemukan gejala pneumonia dalam dirinya. Dia juga memiliki gejala lain yang berhubungan dengan virus corona, seperti demam dan mual.

Karena putus asa dan cemas, dia mendengar dari seorang teman bahwa seorang pria pengidap HIV yang dijuluki "Brother Squirrel" menawarkan Kaletra secara gratis kepada orang-orang yang diduga terjangkit virus corona baru. Dia menerima sekitar 30 pil.

"Ketika Anda dibiarkan sendirian, melihat samar bayangan kematian di kejauhan , saya pikir tidak ada yang bisa merasa tenang," kata Devy kepada Reuters melalui telepon.

Bahkan setelah dia akhirnya dites negatif untuk virus, Devy masih percaya mendapatkan Kaletra adalah pilihan yang tepat. "Kita hanya berusaha dengan berbagai cara untuk menyelamatkan diri kan?"

2 dari 3 halaman

Penimbun Obat

rev2

Brother Squirrel, yang bernama asli Andy Li (30), mengatakan kepada Reuters bahwa dia memiliki nama julukan karena menimbun narkoba.

Setelah mendengar komentar otoritas kesehatan China tentang Kaletra, dia dan beberapa pasien HIV lain mengumpulkan sekitar 5.400 tablet Kaletra dalam waktu kurang dari seminggu. Mereka kemudian mengunggah penawaran mereka di platform Weibo (sebuah platform mirip Twitter di China).

"Kami merasa seperti kami diorganisir untuk misi militer," kata Li, mengingat bahwa ratusan pesan segera masuk, membuatnya hampir tidak ada waktu untuk tidur atau makan dalam tiga hari pertama sampai semua pil dikirimkan.

"Ada begitu banyak orang yang membutuhkan obat ini, dan saya tidak ingin membuang waktu," kata Li kepada Reuters.

"Waktu adalah hidup,"tambahnya.

Otoritas kesehatan China memperingatkan bahwa lopinavir / ritonavir, memiliki efek samping potensial seperti diare, mual, muntah, dan kerusakan hati.

3 dari 3 halaman

Keuntungan Besar

rev2

Serbuan permintaan ini juga membuka peluang menghasilkan uang.

Lebih dari 28.000 orang telah dipastikan terinfeksi di China, sebagian besar berasal dari di Wuhan dan Hubei. Tetapi kekurangan alat tes telah menyebabkan kecurigaan bahwa masih banyak lagi yang tidak terdiagnosis.

Gatsby Fang, agen pembelian lintas batas China, mengatakan dia memesan Kaletra versi generik dari India pada 23 Januari, tak lama setelah ia pertama kali mendengar bahwa obat itu mungkin berguna melawan virus corona baru.

Fang, yang pekerjaan utamanya di industri keuangan, mengatakan dia menjual masing-masing botol seharga 600 yuan (sekitar 1 juta rupiah), membawa untung masing-masing 200 yuan hingga 300 yuan (Rp400-600 ribu). Stoknya terjual habis pada 25 Januari. Bahkan Fang mengatakan beberapa klien memesan 600 tablet sekaligus.

Pembeli sendiri adalah seorang pasien yang terinfeksi, dokter di Hubei, dan mereka yang tidak membutuhkan obat tetapi berpikir itu mungkin menawarkan perlindungan. Fang mengatakan penjual narkoba lain juga mendekatinya, berpura-pura menjadi pasien.

Fang mengatakan harga di pasar gelap obat-obatan di India mulai naik pada 25 Januari.

"Untuk produk 60pil perbotol, harganya naik menjadi sekitar 300 yuan (600 ribu rupiah), naik 400 yuan dari yang semula 100 yuan (200 ribu rupiah)," kata Fang.

"Pada dasarnya, pasien yang menjangkau saya adalah mereka yang tidak memiliki tempat untuk perawatan, tidak ada tempat di mana mereka dapat memastikan 100 persen apakah mereka mengidap atau tidak mengidap virus," kata Fang. "Itulah inti masalahnya."

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan, belum ada pengobatan efektif untuk virus corona.

Beberapa pengobatan tradisional China juga mengalami peningkatan permintaan.

"Tidak ada bukti bahwa perawatan seperti itu membantu dalam memerangi virus corona," kata Gauden Galea, perwakilan WHO di China.

Reporter Magang : Roy Ridho [pan]

Baca juga:
Mengharukan, Begini Nasib Hewan Peliharaan di Wuhan Usai Virus Corona Menyerang
Kesaksian Korban Selamat Virus Corona, dari Terinfeksi Hingga Berhasil Disembuhkan
Jepang Karantina 3.700 Penumpang Kapal Pesiar, 20 Terinfeksi Virus Corona
Penjelasan Ahli, Mengapa Saat Dalam Pesawat Lebih Aman dari Paparan Virus Corona
Indonesia Punya Dua Alat Deteksi Virus Corona
CEK FAKTA: Benarkah Jumlah Pekerja Asing di Morowali Capai 40.000 Orang?
Pejabat Partai Komunis China Rela Dipecat Sebagai Permintaan Maaf Gagal Atasi Corona

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini