Campuran Vaksin AstraZeneca dan Pfizer Bisa Tingkatkan Level Antibodi Covid-19

Selasa, 27 Juli 2021 17:00 Reporter : Hari Ariyanti
Campuran Vaksin AstraZeneca dan Pfizer Bisa Tingkatkan Level Antibodi Covid-19 Ilustrasi vaksin Covid-19 AstraZeneca. ©2021 Merdeka.com/liputan6.com

Merdeka.com - Vaksinasi dengan campuran vaksin AstraZeneca pada suntikan pertama dan kemudian vaksin Pfizer pada suntikan dosis kedua meningkatkan level antibodi penetralisir sampai enam kali jika dibandingkan dengan dua dosis suntikan vaksin AstraZeneca. Kesimpulan ini berdasarkan hasil penelitian dari Korea Selatan.

Penelitian ini melibatkan 499 tenaga medis. Sebanyak 100 orang menerima dosis campuran, 200 orang menerima suntikan dua dosis vaksin Pfizer-BioNTech dan sisanya mendapatkan suntikan dua dosis AstraZeneca.

Dikutip dari Reuters, Selasa (27/7), semua menunjukkan antibodi penetralisir, yang mencegah virus memasuki sel dan berkembang biak, dan hasil campuran vaksin menunjukkan jumlah antibodi penetralisir yang sama dengan yang ditemukan dari kelompok yang menerima dua dosis suntikan Pfizer.

Sebuah penelitian Inggris bulan lalu menunjukkan hasil yang sama, satu dosis suntikan AstraZeneca disusul suntikan Pfizer memproduksi respons T-sel terbaik, dan respons antibodi yang lebih tinggi daripada suntikan Pfizer yang disusul AstraZeneca.

Data tersebut memberikan dukungan lebih lanjut atas keputusan beberapa negara menawarkan AstraZeneca sebagai alternatif suntikan dosis kedua setelah vaksin itu dikaitkan dengan kasus penggumpalan darah yang langka.

Penelitian Korea Selatan ini juga menganalisis aktivitas pentralisir terhadap sejumlah varian virus corona yang menjadi perhatian (variant of concern), seperti disampaikan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Korea Selatan (KDCA).

Tidak ada dari kelompok peserta penelitian yang menunjukkan pengurangan aktivitas penetralisir terhadap virus corona varian Alfa, yang pertama kali teridentifikasi di Inggris, tetapi titer netralisasi menurun 2,5 hingga 6 kali lipat terhadap varian Beta, Gamma dan Delta, yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan, Brasil, dan India. [pan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini