Bom mobil tewaskan jurnalis Malta dipicu lewat SMS

Kamis, 7 Desember 2017 16:58 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Jurnalis Malta tewas dibom. ©REUTERS/Darrin Zammit Lupi

Merdeka.com - Aparat penegak hukum Malta menyeret tiga orang tersangka diduga membunuh pewarta Daphne Caruana Galizia ke meja hijau. Menurut jaksa penuntut umum, ledakan bom di mobil mendiang dipicu oleh tersangka dengan mengirimkan pesan pendek.

Ketiga tersangka diadili itu adalah Vincent Muscat (55), serta kakak beradik George Degiorgio (54) dan Alfred Degiorgio (52). Mereka didakwa membunuh dan menyimpan bahan peledak, anggota sindikat kejahtan, dan merakit bom. Namun, ketiganya menampik tuduhan itu dan menyatakan tidak bersalah.

Dilansir dari laman Sky News, Kamis (7/12), menurut sumber adalah George yang mengirim pesan singkat buat memicu ledakan bom dipasang di mobil Caruana Galizia. Dia mengirim pesan pendek setelah mendapat tanda dari Alfred diduga bertugas mengintai. Jaksa menyatakan sudah menyita sebuah kapal diduga digunakan tersangka di Pelabuhan Valetta, dan menyita sebuah ponsel.

Menurut paparan polisi, Vincent dan Alfred pernah dibui 13 tahun lalu karena kasus perampokan bersenjata. Vincent malah pernah nyaris tewas dalam baku tembak tiga tahun lalu. Sedangkan George dibekuk karena memiliki senjata api ilegal dan punya peralatan buat membuka kunci.

Sedangkan tujuh orang lainnya turut dibekuk Senin lalu dibebaskan dengan jaminan. Meski demikian, sangkaan terhadap mereka bukan berarti gugur. Sebab, proses penyelidikan terus dilakukan. Suami mendiang Caruana Galizia, Peter, hadir dalam sidang perdana para tersangka.

Keluarga mendiang masih meragukan kalau para tersangka diadili adalah pelaku pembunuhan Caruana Galizia. Sebab menurut mereka, mendiang Caruana Galizia tidak pernah mengulas sepak terjang ketiga terdakwa maupun tujuh tersangka dibebaskan dengan jaminan.

Caruana Galizia tewas dalam ledakan bom dipasang di mobil sewaannya pada 16 Oktober lalu. Insiden itu terjadi saat dia berkendara belum jauh dari rumahnya di Bidnija, Mosta. Diduga peledak itu ditempel ketika mendiang memarkir mobilnya di sebuah gang dekat rumahnya.

Menurut salah satu anak Galizia, Matthew Caruana Galizia, dia melihat langsung mobil ibunya meledak dan berkitir di udara, kemudian jatuh. Matthew saat itu langsung berlari ke arah mobil ibunya yang masih membara dan klaksonnya menyalak, kemudian berusaha membuka pintunya. Dia meminta bantuan kepada dua polisi yang datang tidak lama kemudian buat memadamkan api.

"Mereka memandang saya dan mengatakan, 'tidak ada yang bisa kami lakukan'. Saya lalu melihat sekeliling, dan tubuh ibu saya berceceran," kata Matthew yang mengikuti jejak sang ibu menjadi pewarta.

Mulanya Kepolisian Malta menduga kuat pelaku memasang bom plastik Semtex buatan Israel dengan kendali jarak jauh di mobil Caruana Galizia. Namun, hal itu dikoreksi dan kini mereka menyatakan jenis bahan peledaknya adalah TNT.

Menurut Perdana Menteri Malta, Joseph Muscat, dalam proses penyelidikan kepolisian Malta dibantu oleh Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat (FBI), Kepolisian Uni Eropa, Belanda, dan Finlandia. Mereka dibantu buat menyadap arus komunikasi yang mengarah kepada para tersangka. Termasuk menganalisa sinyal dipakai buat memicu bom di mobil Caruana Galizia.

Matthew meyakini ibunya dibunuh karena pendiriannya yang selalu memerangi penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Apalagi menurut dia ibunya tidak memihak kepada kelompok politik manapun. Dia menuding pejabat dan penegak hukum Malta menyuburkan budaya kebal hukum. Sebab, dugaan korupsi membelit para petinggi negara seolah mudah menguap. Apalagi lembaga keuangan Malta dikenal abai soal asal-usul uang simpanan dan menjadi surga bagi penggelap pajak dan pencucian uang. Dia berharap dengan kejadian ini membikin mata rakyat Malta terbuka dan membawa perubahan.

"Jika seluruh lembaga bekerja, maka tidak perlu ada kasus pembunuhan yang diusut. Dan saya beserta adik masih mempunyai ibu," ujar Matthew.

Galizia membikin Malta terkejut setelah tahun lalu dia menulis laporan investigasi tentang daftar orang-orang menyembunyikan kekayaan mereka melalui perusahaan fiktif di Panama, dikenal dengan Panama Papers. Isinya menyebut istri Joseph Muscat, Michelle, diduga memiliki perusahaan cangkang di Panama, Egrant, buat menampung uang kiriman dari anak perempuan Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev. Azerbaijan memang terikat kontrak memasok gas ke Malta.

Muscat dan istrinya membantah memiliki perusahaan cangkang. Mereka juga menggugat Galizia karena tulisannya. Muscat menyangkal kalau negaranya dianggap sebagai surga pencucian uang dan penggelapan pajak. Namun, Muscat mengakui kalau dia menganggap Galizia adalah musuh besarnya karena hasil laporannya soal Panama Papers.

Keluarga mendiang Galizia juga menolak menerima uang santunan sebesar EUR 1 juta (sekitar Rp 16 miliar) dari negara. Mereka menuntut supaya aparat keamanan setempat membongkar siapa dalang di balik insiden itu.

Tiga anak Galizia, yaitu Andrew, Matthew, dan Paul, mendesak supaya Joseph Muscat mundur dari jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab politik. Mereka mengaku merasa dipaksa negara menerima uang santunan itu.

Dalam satu dasawarsa terakhir sudah terjadi 15 aksi pemboman diduga dilakukan oleh kelompok kejahatan mafia di Malta. Dari semuanya, belum ada satu pun yang terpecahkan hingga detik ini. Hal ini menimbulkan tanda tanya apakah pemerintah setempat serius buat mengungkap pembunuhan terhadap Galizia atau sekedar janji buat melegakan hati keluarga mendiang. [ary]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.