Bom meledak di Bangkok, junta perpanjang darurat militer

Selasa, 3 Februari 2015 09:10 Reporter : Ardyan Mohamad
Bom meledak di Bangkok, junta perpanjang darurat militer Bom meledak di Mal Siam Paragon Bangkok. ©2015 Wichan Charoenkiartpakun/Bangkok Post

Merdeka.com - Sejak akhir pekan ini, Ibu Kota Bangkok Thailand dilanda terorisme. Dua bom rakitan meledak di trotoar samping Mal Siam Paragon, menyebabkan dua pengunjung luka parah.

Pemerintah Thailand tadi malam mengumumkan pemberlakuan kembali situasi darurat militer seperti dilansir Bangkok Post, Selasa (3/2).

Perdana Menteri Jenderal Prayuth Chan-Ocha memperpanjang status darurat militer yang sempat dijalankan pada Mei 2014 menyusul kudeta militer. "Kita masih membutuhkan darurat militer. Masih ada pihak-pihak bermaksud jahat ingin mengacau kedamaian Thailand," ujarnya.

Menteri Dalam Negeri Anupong Paochinda mengatakan insiden bom itu dilakukan pihak yang meneror internal Negeri Gajah Putih. "Dari ukurannya, pembuat bom memang tidak berniat membunuh orang. Hanya ingin menciptakan kepanikan," kata Paochinda.

Imbas lain dari situasi darurat militer adalah semakin tidak pastinya jadwal pemilihan umum. Pemerintah yang kini dikuasai tentara menolak transisi demokratis sampai proses reformasi menyeluruh dilakukan.

Seminar bertopik kritis pada pemerintah, mimbar bebas mahasiswa, unjuk rasa, hingga penerbitan media massa dua pekan terakhir diberangus oleh otoritas Thailand.

Kepolisian Thailand sedang menggelar penyelidikan intensif mengenai insiden peledakan bom di Bangkok. Labfor mengonfirmasi bahwa yang meledak adalah dua bom pipa dirakit manual.

"Kita hampir bisa pastikan ledakan itu bermotif politik," ungkap Jenderal Polisi Chakthip Chaichinda.

Tentara langsung cuci tangan. Panglima Tentara Thailand Jenderal Udomdej Sitabutr menegaskan pihaknya mustahil meledakkan bom demi memperpanjang darurat militer. "Kami ini jujur, kami tidak bikin plot seperti itu," tandasnya.

Bom di Mal Siam Paragon terjadi berselang dua kepan setelah Junta Militer resmi memakzulkan Yingluck Shinawatra, perdana menteri dari partai oposisi. Petinggi Faksi Kaos Merah itu sekaligus dilarang terjun ke panggung politik selama lima tahun.

Yingluck adalah adik kandung mantan PM Thaksin Shinawatra yang dulu juga dikudeta tentara pada 2006. Keluarga Shinawatra memiliki basis massa besar di wilayah utara, khususnya di kalangan petani.

Sedangkan Jenderal Chan-Ocha beserta junta yang berkuasa saat ini adalah loyalis Kerajaan Thailand. Thaksin diduga kuat dilengserkan akibat ingin menggerus kekuasaan Raja Bhumibol Adulyadej.

Massa di Thailand sampai sekarang masih terbelah. Sebelum ada darurat militer, pendukung keluarga Shinawatra atau kaos merah rutin berunjuk rasa di Bangkok. Sedangkan pendukung kerajaan yang banyak di perkotaan menggelar aksi tandingan memakai kaos kuning. [ard]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini