Benarkah Putin Kian Terpojok karena Kerahkan 300.000 Tentara Tambahan ke Ukraina?

Kamis, 22 September 2022 11:15 Reporter : Merdeka
Benarkah Putin Kian Terpojok karena Kerahkan 300.000 Tentara Tambahan ke Ukraina? Presiden Rusia Vladimir Putin. ©REUTERS

Merdeka.com - Presiden Rusia Vladimir Putin kemarin memutuskan memobilisasi parsial (sebagian) 300 ribu angkatan bersenjatanya untuk berperang di Ukraina.

Keputusan ini diambil Putin sebab dia menganggap Rusia bukan lagi berperang dengan Ukraina, melainkan juga dengan Barat.

Sebelumnya Ukraina berhasil mengambil kembali Izyum, kota di timur Ukraina yang awalnya jatuh ke tangan Rusia.

Meski beberapa wilayah telah diambil kembali Ukraina, namun Rusia tidak tinggal diam. Rusia meluncurkan rudal yang meledak kurang lebih 274 meter dari reaktor nuklir Ukraina. Ini menunjukkan Rusia tetap bersikukuh dalam perangnya melawan Ukraina.

Untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat, Putin menyerukan Barat dan Ukraina adalah ancaman bagi ‘ibu pertiwi Rusia’, sama seperti istilah yang digunakan Uni Soviet dalam perang patriotik melawan Nazi Jerman.

Awalnya keputusan Rusia untuk melancarkan operasi militer ke Ukraina adalah de-militerisasi dan de-Nazifikasi Ukraina. Sebab bagi Putin, Ukraina adalah markas neo-Nazi, mesin Russophobia (Fobia Rusia), dan mesin militer kolektif Barat.

Namun keputusannya kemarin telah menunjukkan istilah ‘operasi militer khusus’ yang disuarakannya semenjak Februari lalu kini telah diganti dengan kata ‘perang’.

Kini Putin harus menghadapi kenyataan dan perlawanan dari Ukraina dan bantuan-bantuan Barat. Putin pun mengancam Rusia akan menggunakan senjata nuklir jika Barat berupaya untuk melemahkan dan mengalahkan negaranya.

Namun Barat sendirilah yang mendorong Putin untuk mengambil keputusan ini. Sebab sejak dikenakan berbagai sanksi, bantuan militer, finansial, dan lain-lain kepada Ukraina, serta isolasi Rusia dari Barat, Rusia semakin terpojok. Dan Putin yang terpojok adalah Putin yang berbahaya.

Sama seperti kelinci, jika kelinci imut semakin tersudut, maka kelinci itu akan melawan yang menyudutkannya.

Namun perlu diingat, Rusia telah menang berkali-kali melawan kekuatan besar Eropa, seperti serangan Napoleon Bonaparte dan Adolf Hitler.

“Rusia memenangkan perang defensifnya melawan Napoleon dan Hitler, dan hal terpenting yang dilakukan Putin di sini dari sudut pandang psikologis adalah mengklaim ini juga perang defensif,” kata penulis asal Prancis, Michel Eltchaninoff, seperti dikutip the New York Times, Rabu (21/9).

“Itu (perang Ukraina) adalah perang yang agresif. Sekarang ini adalah pertahanan dunia Rusia terhadap upaya Barat untuk memecah belah,” lanjutnya.

2 dari 2 halaman
benarkah putin kian terpojok karena kerahkan 300.000 tentara tambahan ke ukraina?

Putin kemarin juga mengumumkan empat wilayah di Ukraina akan melaksanakan referendum Jumat nanti. Jika empat wilayah itu ingin bergabung Rusia, maka segala serangan atas wilayah itu sama dengan serangan kepada Rusia.

“Jika integritas teritorial negara kita terancam, tentu saja kita akan menggunakan segala cara yang kita miliki untuk membela Rusia dan rakyat kita,” kata Putin.

Perkataan Putin menjadi dilema bagi Barat, sebab Baratlah yang mendorong Putin ke situasi seperti ini, yaitu ikut campur dalam perangnya dengan Ukraina. Kanselir Jerman, Olaf Scholz sendiri menyatakan dia dan sekutu Baratnya akan membantu Ukraina “tanpa membuat eskalasi yang tidak terkendali”.

Putin juga mengungkap beberapa petinggi NATO memperbolehkan untuk menyerang Rusia dengan nuklir. Akhirnya Putin mengancam balik menggunakan nuklir. Namun bagi beberapa pihak, perkataan Putin adalah gertakan belaka.

“Saya yakin ancaman nuklir adalah gertakan tetapi memberi Putin sarana untuk menakut-nakuti Barat, mungkin terlalu berbahaya,” kata Sylvie Bermann, mantan duta besar Prancis untuk Rusia.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengecam perkataan Putin yang baginya adalah “ancaman nuklir” bagi Eropa dan keputusan yang “ceroboh”.

Di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Biden mengatakan Barat tetap “jelas, tegas dan tak tergoyahkan” dalam tekadnya menghadapi “perang brutal dan tidak perlu” Rusia di Ukraina.

“Perang ini adalah membinasakan hak Ukraina untuk hidup sebagai negara,” kata Biden.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron juga menyuarakan hal yang sama. Bagi Macron, upaya Putin tidak jauh dari kata agresi imperialisme Rusia.

“Mereka yang diam hari ini, terlepas dari diri mereka sendiri, atau diam-diam, berarti tunduk dengan penyebab imperialisme baru,” kata Macron.

Kini perang yang memasuki waktu ke tujuh bulan itu semakin jauh dari kata usai.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]

Baca juga:
Putin Kerahkan 300.000 Pasukan ke Ukraina, Ancam Pakai Nuklir Jika Barat Ikut Campur
Erdogan Ungkap Kapan Putin akan Akhiri Perang di Ukraina
Rusia Sebut Ukraina Berbohong Soal Temuan Kuburan Massal
Vladimir Putin Ingin Perang di Ukraina Berakhir Secepatnya
Joe Biden Ancam Putin Jangan Gunakan Senjata Pemusnah Massal di Ukraina
Jerman Tolak Permintaan Ukraina Untuk Kiriman Tank Andalan
Rusia Masih Ingin Perundingan Damai dengan Ukraina
Ramzan Kadyrov Akui Pasukan Rusia Dipukul Mundur dari Kharkiv, Ukraina

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini