Hot Issue

Belakangan Makin Banyak Warga AS Ubah Sikap Jadi Anti-Vaksin, Alasannya Mengejutkan

Selasa, 5 Juli 2022 07:27 Reporter : Hari Ariyanti
Belakangan Makin Banyak Warga AS Ubah Sikap Jadi Anti-Vaksin, Alasannya Mengejutkan Seorang perawat menyuntikkan vaksin booster Covid-19 di sebuah klinik di Los Angeles, Amerika Serika. ©AFP via Getty Images/TNS

Merdeka.com - Semakin banyak orang tua di Amerika Serikat (AS) mempertanyakan perlunya vaksinasi rutin untuk anak-anak. Orang dewasa juga melewatkan vaksinasi, bahkan untuk vaksin yang memiliki perlindungan panjang.

Tren ini muncul di tengah gelombang misinformasi dan disinformasi terkait Covid-19 dan vaksin yang membantu membendung kematian saat pandemi. Politisasi penyuntikan vaksin Covid memperkuat gerakan anti-vaksin, berkontribusi pada penurunan tingkat imunisasi rutin untuk campak, polio, dan penyakit berbahaya lainnya.

"Mereka bertanya apakah ini benar-benar diperlukan, atau apakah kita bisa memberikannya nanti saja," jelas dokter anak di Texas dan juru bicara Akademi Pediatrik Amerika, Jason Terk.

"Ini bukan mayoritas orang tua, tapi kami melihat jumlahnya semakin banyak," lanjutnya, dikutip dari South China Morning Post, Senin (4/7).

Gerakan anti-vaksin di Amerika menjamur karena pesan-pesan di media sosial, lalu diperkuat oleh para tokoh politik konservatif juga pengaruh asing, yang upaya penyebaran disinformasi vaksinnya telah ada sebelum pandemi.

Dengan turunnya angka imunisasi rutin, kekhawatiran munculnya penyakit-penyakit tersebut meningkat yang sebagian besar berhasil diberantas di banyak negara di dunia.

Di AS, persentase anak-anak TK dengan imunisasi yang direkomendasikan turun menjadi 94 persen pada tahun ajaran 2020-2021, mewakili sekitar 35.000 anak yang tidak divaksinasi.

"Saya menyebutnya sebagai penularan paralel," kata Terk.

"Ini tampaknya berasal dari keraguan pada vaksinasi Covid-19 dan meningkatnya ketidakpercayaan terhadap vaksin dan tubuh yang kita andalkan untuk membuat kita tetap sehat dan sehat."

2 dari 3 halaman

Misinformasi vaksin

rev1

Perubahan dramatis terlihat di beberapa negara bagian, khususnya selama puncak pandemi: peneliti menemukan penurunan angka imunisasi sebanyak 47 persen di Texas di antara anak berusia lima bulan dan 58 persen penurunan di antara anak berusia 16 bulan antara 2019 dan 2020.

Para peneliti yang menulis di jurnal ilmiah Vaccine mengatakan penurunan itu salah satunya disebabkan "gerakan anti-vaksin yang agresif di Texas".

Negara bagian Washington melaporkan 13 persen penurunan angka imunisasi pada anak-anak di 2021 dibandingkan dengan saat sebelum pandemi. Sedangkan angka vaksinasi anak-anak di Michigan turun menjadi 69,9 persen tahun lalu, angka terendah dalam satu dekade.

Menurut konsultan kesehatan Avalere yang menganalisis klaim nasabah asuransi, tingkat imunisasi pada orang dewasa dan remaja juga turun, untuk vaksinasi terhadap penyakit seperti influenza, hepatitis, campak, tetanus, dan herpes.

Avalere menemukan, diperkirakan 37 juta dosis vaksinasi terlewatkan dari Januari 2020 sampai Juli 2021 untuk orang dewasa dan anak-anak usia tujuh tahun ke atas.

Managing director Avalere, Jason Hall mengatakan penurunan angka imunisasi di awal pandemi disebabkan perintah tinggal di rumah dan jarak sosial, tapi juga dipengaruhi misinformasi terkait vaksin Covid yang juga berdampak pada vaksin lainnya yang sejak lama dikenal aman.

Profesor David Broniatowski dari Universitas George Washington mengatakan media sosial membantu terbentuknya koalisi para kelompok anti-vaksin, libertarian, dan tokoh politik konservatif. Segmen ini diperkuat aktor disinformasi dari Rusia dan negara lainnya.

Menurutnya, orang telah lama menentang vaksin sejak vaksin diciptakan, tapi semakin populer dalam 10 tahun terakhit salah satunya karena media sosial yang bisa mengorganisir orang-orang dari berbagai negara.

"Salah satu perubahan utama yang kami lihat adalah pergeseran dari fokus pada vaksin itu sendiri sebagai masalah kesehatan menjadi hak-hak sipil dan masalah politik," jelasnya.

3 dari 3 halaman

Pengaruh buzzer

Dalam makalah tahun 2018 yang diterbitkan American Journal of Public Health yang salah satu penulisnya adalah Broniatowski menemukan aktivitas para anti-vaksin di Twitter diperkuat buzzer Rusia dari 2014 sampai 2017. Salah satu tujuannya untuk menghancurkan kepercayaan dalam sistem kesehatan.

Peneliti dari Pusat Analisis Kebijakan Eropa menunjukkan baik China dan Rusia menggalakkan misinformasi vaksin Covid-19, salah satu tujuannya ingin menunjukkan pemerintah Barat tidak kompeten dan tidak bisa dipercaya.

"Ada upaya bersama dari para aktor ini untuk mengurangi kedudukan sains karena itu sesuai tujuan politik mereka," kata Broniatowski.

Masalah ini marak secara global. Laporan PBB tahun lalu menemukan 23 juta anak-anak di seluruh dunia tidak divaksinasi rutin pada 2020. Di Amerika, persentase anak-anak yang telah divaksinasi lengkap turun menjadi 82 persen dari 91 persen pada 2016 karena sejumlah faktor kekurangan dana, misinformasi vaksin, dan stabilitas.

Hal ini kemungkinan akan menciptakan lebih banyak risiko kesehatan di kemudian hari.

"Semakin banyak orang yang menolak, semakin besar kemungkinan kita akan memiliki kantong-kantong kerentanan," pungkas Terk.

[pan]

Baca juga:
Imunisasi Anak di Aceh Terendah Se-Indonesia
Menkes: Imunisasi Anak Lebih Murah untuk Lindungi dari Penyakit
Subvarian Baru Virus Corona Kebal Antibodi yang Dipicu Vaksinasi & Infeksi Omicron
Reaksi Balita di Amerika Serikat Saat Terima Suntikan Vaksin Covid-19
Vaksin Covid-19 untuk Bayi Mulai Diluncurkan di AS

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini