Barack Obama Imbau Warga AS Tolak Pemimpin Rasial dan Umbar Ujaran Kebencian

Selasa, 6 Agustus 2019 12:19 Reporter : Merdeka
Barack Obama Imbau Warga AS Tolak Pemimpin Rasial dan Umbar Ujaran Kebencian Barack Obama. © Getty Images

Merdeka.com - Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama mengimbau warga Amerika untuk menolak segala bentuk perkataan pemimpin yang mengarah pada ujaran kebencian dan rasisme, Senin (5/8).

"Kita harus dengan tegas menyuarakan penolakan terhadap perkataan yang dikeluarkan para pemimpin kita yang menimbulkan ketakutan, dan kebencian, atau menormalkan sentimen rasisme," jelasnya mengomentari pidato Presiden Donald Trump tentang penembakan Texas dan Ohio baru-baru ini.

Lebih jelas Obama menyebut pemimpin yang membentuk pemikiran seolah-olah Amerika hanya milik satu golongan saja. "Pemimpin yang mengejek mereka yang berbeda dari kita, atau memengaruhi orang lain, termasuk para imigran, mengancam kehidupan kita, atau merendahkan orang lain," tegasnya.

Meski tidak menyebut secara jelas pihak yang dimaksud, namun diyakini ajakan tersebut mengarah pada Presiden Donald Trump. Pasalnya, pernyataan tersebut muncul setelah pidato Trump soal penembakan Texas dan Ohio.

Selama kampanye presidennya, Trump kerap menggambarkan imigran Meksiko sebagai pembunuh dan pemerkosa. Sementara belum lama ini, Trump sempat mendapat kecaman terhadap empat anggota kongres perempuan non kulit putih.

"Pulang dan bantu perbaiki kerusakan parah dan kejahatan penuh yang terjadi di tempat asal mereka," seru Trump.

Meski kerap mengeluarkan pernyataan kontroversial bernada rasisme, Donald Trump menolak berkomentar soal tuduhan bahwa penembakan massal di Texas dan Ohio adalah dampak dari penyataannya. Dirinya justru mengecam internet dan video gim yang dinilai mengajarkan kekerasan.

"Terlalu mudah saat ini bagi pemuda bermasalah untuk mengelilingi diri mereka dengan budaya yang mengunggulkan kekerasan," katanya di Gedung Putih, seperti yang dilansir dari laman BBC, Selasa (6/8).

Dalam pidatonya, Trump juga mengarahkan Departemen Kehakiman AS untuk merancang usulan undang-undang yang dapat mengatur hukuman mati bagi pelaku kekerasan dan penembakan massal. Selain itu menurutnya, lembaga pemerintah harus bekerja sama untuk mengidentifikasi orang-orang yang dinilai berpotensi melakukan kekerasan dan mencegah akses mereka mendapatkan senjata api. Bahkan, Trump menyarankan hukuman kurungan paksa bagi mereka.

Presiden Trump dijadwalkan akan mengunjungi lokasi penembakan di El Paso, Texas pada Rabu (7/8) esok.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita [pan]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini