Balas kritik, Trump beri 4 alasan muslim wajib dilarang masuk AS

Kamis, 10 Desember 2015 06:15 Reporter : Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro
Balas kritik, Trump beri 4 alasan muslim wajib dilarang masuk AS Bakal Capres AS Donald Trump. ©businessinsider

Merdeka.com - Donald Trump. Nama ini dianggap lelucon oleh para pengamat politik Amerika Serikat, ketika pertengahan tahun ini mengumumkan niat serius maju dalam konvensi calon presiden Partai Republik. Kendati dikenal tajir berkat bisnis properti, tapi sosok Trump dianggap tak punya kemampuan politik mumpuni, bahkan di mata kalangan pemilih Republik. Dia sempat ingin maju pemilihan presiden 2011, tapi kemudian batal akibat rutin diolok-olok.

Setelah resmi maju, tak sampai setengah tahun jagat politik AS diobrak-abrik oleh Trump. Survei dilansir USA Today, Rabu (9/12), menunjukkan betapa Trump unggul jauh dibanding rival-rivalnya di internal Partai Republik. Hanya pengusaha kaya inilah yang menurut polling sanggup menyangi kandidat Partai Demokrat, Hillary Clinton, seandainya pemilu digelar saat ini juga.

Trump, yang punya pendukung loyal, terancam menjadi pemimpin Negeri Adi Daya itu. Dia menyalip sosok yang sebelumnya lebih populer seperti Jeb Bush, Ben Carson, atau Senator Marco Rubio. Di kalangan pendukung Partai Republik, Trump memperoleh dukungan 30 persen sejauh ini.

Popularitas Trump disokong komentarnya yang serampangan atas pelbagai isu. Pengusaha Arriana Huffington menilai kebijakan yang dia sodorkan pada publik AS lebih mirip ujaran kebencian dibanding buah pemikiran negarawan.

Trump pernah menyebut akan mengusir imigran Meksiko karena mereka biang onar. Pengusaha tajir ini juga kedapatan mengejek perempuan. Belakangan, Trump yang pernah bikin heboh karena menemui Ketua DPR RI Setya Novanto, menyudutkan Islam.

Dia mengatakan akan melarang orang Islam masuk wilayah Amerika Serikat, seandainya terpilih dalam pilpres tahun depan. Muslim yang dilarang masuk itu mencakup mahasiswa, turis, sampai pengusaha yang sedang ada urusan di AS. Gagasan ini adalah respon Trump terhadap penembakan massal di California, yang dilakukan pasangan suami istri muslim.

Sejak lama, sosok Trump dituding anti-Islam. Imam Besar Masjid New York, Shamsi Ali pernah menjabarkan tendensi Islamofobia itu ketika mengkritik pertemuan Setya Novanto dengan Trump pada September lalu.

Pernyataan Trump soal larangan masuk umat muslim mengundang kecaman. Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, mengatakan Trump tidak pantas menjadi bakal capres setelah melontarkan gagasan diskriminatif tersebut.

Sesama bakal capres dari Partai Republik ikut menyerang Trump. Salah satunya Mantan Gubernur Florida, Jeb Bush, lewat akun Twitternya. "Rencana kebijakan (Trump) tidak serius. Beliau memiliki persoalan mental," tulis Jeb.

Marco Rubio, senator Republik yang juga maju dalam pemilihan capres partainya, menuding Trump punya gagasan yang akan memecah belah warga AS. Komunitas muslim dari seluruh dunia juga mengecam pernyataan Trump.

Tapi, bukan Trump bila tak mampu bersilat lidah secara kontroversial. Berikut empat jawaban sang pengusaha tajir untuk mempertahankan ide kebijakan melarang muslim masuk ke Amerika Serikat, seperti dirangkum merdeka.com:

1 dari 4 halaman

Melarang muslim masuk cuma sementara

Donald Trump. ©businessinsider

Manajer Kampanye Trump, Corey Lewandowski, menegaskan maksud bosnya soal melarang muslim masuk ke wilayah AS. Yang akan ditolak masuk itu mencakup wisatawan beragama Islam, selain calon imigran.

"Semua orang Islam (dilarang masuk) dan ada pengawasan besar-besaran," kata Corey.

Dikonfirmasi terpisah,  Trump membayangkan kebijakan melarang muslim masuk ke wilayah AS bisa berlangsung sementara saja, asal sudah dipetakan secara jelas mana saja orang berpotensi melakukan teror. 

"Larangan ini bisa berlaku singkat, asal seluruh elemen bangsa kita bergerak cepat," kata Trump saat diwawancari Televisi ABC Selasa (8/12) malam waktu setempat.

"Kebijakan ini juga tidak akan berlaku bagi warga muslim yang sudah menjadi warga negara AS, tapi sedang berkunjung ke luar negeri."

2 dari 4 halaman

Meniru Kebijakan AS selama Perang Dunia II

Donald Trump. ©2012 Merdeka.com

Bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, membela diri dari serangan berbagai pihak terkait idenya melarang muslim masuk ke wilayah AS. Dia berdalih, gagasan itu hanya meniru apa yang pernah dilakukan pemerintah Negeri Paman Sam pada Perang Dunia ke-II.

Trump berkaca pada peristiwa penyerangan Pangkalan Pearl Harbour oleh militer Jepang pada 7 Desember 1941. Selang beberapa hari seusai insiden itu, Pemerintah AS menahan semua orang Jepang yang berada di wilayahnya. Begitu pula warga Jerman ataupun Italia yang menjadi musuh sekutu. Lebih dari 110 ribu orang ditahan.

"Apa yang saya usulkan tidak berbeda dari kebijakan Presiden Franklin Delano Roosevert pada masa itu," kata Trump, seperti dilansir Kantor Berita Reuters, Rabu (9/12).

3 dari 4 halaman

Larangan ini penting walau tak patut

Donald Trump. ©gawker

Beberapa jam setelah mengumumkan ide melarang umat muslim masuk wilayah AS, Donald Trump berpidato di  Mount Pleasant, South Carolina. Pengusaha akrab disapa DT itu mengaku tak peduli banyak pihak mengecamnya, termasuk Gedung Putih.

"Saya menyerukan sesuatu yang sangat penting, dan ide itu memang belum tentu benar secara politis, namun saya tidak peduli," tegasnya. 

Trump berkukuh tidak membenci umat Islam. Dia mengaku punya teman-teman sesama pengusaha yang beragama Islam. Masalahnya, menurut Trump, ajaran agama ini bermasalah sehingga penganutnya yang berbahaya harus dipantau dulu sebelum masuk ke AS. 

"Larangan (masuk) itu berlaku sampai kita bisa memutuskan dan mengerti permasalahan ideologi Islam dan ancamannya yang berbahaya. Negara ini tidak bisa menjadi korban serangan kaum percaya pada konsep Jihad dan tidak memiliki nalar untuk menghormati sesama manusia," ujarnya.

4 dari 4 halaman

Umat Islam menurut Trump tidak bisa dipercaya

Setya Novanto hadiri kampanye Bakal Capres AS Donald Trump. ©2015 REUTERS/Lucas Jackson

Trump menambahkan, dia mempunyai banyak teman Muslim yang baik dan hebat. Namun Trump mengklaim bahkan teman Muslimnya ini turut prihatin melihat banyak ekstremis mempunyai latar agama itu.

Oleh sebab itu, publik Amerika Serikat tidak bisa berdiam diri menunggu diserang oleh ekstremis Islam.

"Situasi ini sudah di luar kendali. Kita tidak punya gambaran siapa (orang Islam) yang datang ke negara ini, kita tidak tahu apakah mereka mencintai atau membenci kita. Kita juga tidak tahu apakah mereka akan mengebom kita,” kata sang taipan real estate dengan berapi-api saat berpidato awal pekan ini.

Trump punya rekam jejak buruk terkait Islamofobia. Pada Oktober lalu, bakal capres Partai Republik itu sudah melontarkan ide yang diskriminatif terhadap umat muslim di AS.

Trump menyatakan dia akan menerapkan aturan warga muslim harus memakai identitas khusus di Amerika Serikat.

Pernyataan itu mengingatkan orang pada zaman Perang Dunia Kedua ketika warga Yahudi di Eropa diharuskan memakai tanda kain berwarna kuning bergambang bintang daud di lengan kiri.

"Saya akan menerapkan itu. Tentu saja," ujar Trump dalam kampanyenya di Newton, Iowa. "Harusnya ada banyak cara untuk melakukan itu, selain mendata warga," kata dia. [ard]

Baca juga:
Sindir Trump, Mark Zuckerberg janji muslim tak dilarang pakai FB
Fahri komentari Donald Trump: Dia bodoh dan dangkal
Pengusaha ritel raksasa muslim larang penjualan produk Donald Trump
Ramai kecaman, Benjamin Netanyahu tetap akan temui Donald Trump
Bela muslim, Warga Inggris tolak Donald Trump masuk negaranya
Serang Islam, orang kaya Arab menyesal dukung Donald Trump
Taipan Dubai: Komentar Trump hancurkan bisnisnya di negara muslim

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini