Bagaimana China Pengaruhi Opini Global Lewat Jaringan Media

Selasa, 5 Februari 2019 07:23 Reporter : Pandasurya Wijaya
Bagaimana China Pengaruhi Opini Global Lewat Jaringan Media Arus Mudik Imlek di China. ©2019 REUTERS/Stringer

Merdeka.com - Kementerian Pertahanan Amerika Serikat dalam laporan terbaru yang dirilis bulan lalu menyebut China menggunakan kekuatan investasi di sektor media, lembaga pendidikan asing, dan lembaga peneliti untuk mempengaruhi opini global sesuai kepentingannya.

Dalam laporan bertajuk Penilaian Dampak Pertahanan Amerika Serikat terhadap Akses Global China, Pentagon mengatakan China sudah melakukan investasi langsung dan tak langsung di kantor-kantor media asing di luar negeri.

Sebagai contoh, kantor berita pemerintah China, Xinhua, meluncurkan 40 kantor biro anyar di luar negeri dan melipat gandakan jumlah korespondennya di luar negeri antara tahun 2009 hingga 2011. Pada 2017 Xinhua memiliki 162 kantor biro di luar negeri dan mereka menargetkan menjadi 200 kantor biro pada 2020.

Laporan dari Pentagon juga menyatakan Presiden China Xi Jinping mendesak media-media China menceritakan kisah-kisah dari Negeri Tirai Bambu kepada dunia.

"Makin banyaknya berita-berita dari China menggambarkan upaya pemimpin mereka untuk membentuk opini dan mempromosikan cara pandang China terhadap topik-topik penting. Presiden Xi Jinping menyerukan Jaringan Televisi Global, bagian dari grup Xinhua, memberitakan kisah-kisah dari China dan menyebarkan suara dari China," kata laporan Pentagon, seperti dilansir laman Business Standard, bulan lalu.

Investasi resmi China di pasar media AS masih lebih banyak berfokus di perluasan kantor berita mereka.

pendiri huawei ren zhengfei dan xi jinping

pendiri huawei ren zhengfei dan xi jinping ©Reuters/Matthew Lloyd

Xinhua dan koran pemerintah, China Daily, diluncurkan di AS pada 2011 dan 2009. Pada 2012 China Central Television (CCTV) memperluas jaringannya dengan CCTV America.

Kendati demikian, China juga menyamarkan investasinya di AS di sektor media.

Pada 2015, Reuters mengungkapkan China Radio International (CRI), media pemerintah China, memakai strategi anak perusahaan untuk menutupi kendali atas 33 stasiun radio di 14 negara, termasuk AS.

Radio-radio ini menyebarluaskan konten pro-China tapi tidak terdaftar sebagai agen dari pemerintah asing seperti yang tercantum dalam Undang-undang Pendaftaran Agen Asing (FARA).

"Pemerintah China juga menjalin hubungan dengan para pemilik media dan jurnalis untuk mengajak mereka menggambarkan China dengan nada yang positif. Langkah ini memperlihatkan betapa China ingin membentuk opini publik di panggung internasional," kata Pentagon.

Dalam laporan itu juga Pentagon menyebut China ingin mempengaruhi opini publik lewat investasi di sejumlah institusi.

"China mendirikan Institut Konfusius yang masih terkait dengan Kementerian Pendidikan di lebih dari 500 kampus asing. Tujuan dari pendirian institut ini adalah untuk mempromosikan bahasa China dan gambaran positif tentang China."

"Lembaga-lembaga itu membuat para siswa ingin mempelajari lebih jauh tentang China, memberikan dukungan sumber daya bagi para pengajar dan sistem sekolah yang menggabungkan bahasa dan pengetahuan dalam kurikulum pelajaran serta memberi pengajaran kepada publik tentang budaya dan masyarakat China." [pan]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. China
  3. Industri Media
  4. Xi Jinping
  5. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini