Aung San Suu Kyi Minta Bertemu dengan Tim Kuasa Hukum Saat Hadapi Dakwaan Baru

Senin, 12 April 2021 17:00 Reporter : Hari Ariyanti
Aung San Suu Kyi Minta Bertemu dengan Tim Kuasa Hukum Saat Hadapi Dakwaan Baru Semangka berukir wajah Aung San Suu Kyi. ©2021 REUTERS

Merdeka.com - Pemimpin sipil Myanmar yang digulingkan, Aung San Suu Kyi dikenakan dakwaan pidana baru selama sidang pengadilan pada Senin (12/4), menurut pengacaranya. Sidang digelar ketika para penentang kudeta militer 1 Februari menyerukan unjuk rasa selama liburan Tahun Baru yang akan datang.

Pengacaranya, Min Min Soe menyampaikan, Suu Kyi hadir dalam persidangan melalui tautan video dan dikenakan dengan dakwaan tambahan terkait dengan undang-undang bencana alam.

“Dia didakwa dalam enam kasus secara keseluruhan, lima dakwaan di Naypyidaw dan satu di Yangon,” jelasnya kepada AFP, dilansir France 24.

Min Soe menambahkan, sidang berikutnya dijadwalkan pada 26 April.

Pada persidangan terakhirnya, Suu Kyi kembali meminta agar diizinkan bertemu langsung dengan pengacaranya.

Peraih Nobel berusia 75 tahun itu tidak terlihat di depan umum sejak ditahan pada 1 Februari dini hari, ketika militer Myanmar menggulingkan pemerintahnya dan merebut kekuasaan.

Dia hanya diizinkan untuk berbicara dengan pengacaranya melalui tautan video di hadapan petugas keamanan dan tidak diketahui apakah Suu Kyi menyadari kekacauan berdarah yang melanda negaranya sejak kudeta.

“Tidak, kami belum melakukannya, kami hanya bisa berbicara tentang masalah hukum,” jelas pengacaranya kepada Reuters ketika ditanya apakah tim hukumnya membahas unjuk rasa yang telah menewaskan lebih dari 700 orang itu.

2 dari 2 halaman

Tahun Baru tradisional

Sidang hari Senin digelar ketika para penentang kudeta menyerukan dilakukannya pertunjukan pembangkangan militer dengan kostum dan doa selama liburan Tahun Baru mendatang.

Tahun Baru tradisional, yang dikenal sebagai Thingyan di Myanmar, adalah hari libur paling penting dalam setahun dan biasanya dirayakan dengan doa, ritual pembersihan patung Buddha di kuil, dan semburan air ke jalanan.

"Dewan militer tidak memiliki Thingyan. Kekuasaan rakyat ada di tangan rakyat," tulis Ei Thinzar Maung, pemimpin kelompok unjuk Komite Kolaborasi Pemogokan Umum, di Facebook.

“Rakyat yang bersatu perlu mempertahankan Thingyan rakyat,” lanjutnya.

Dia meminta umat Buddha untuk memakai pakaian keagamaan dan membaca doa bersama. Anggota komunitas Kristen di negara itu disarankan memakai pakaian putih dan membaca mazmur. Dia mengatakan penganut agama lain harus mengikuti arahan pemimpinnya.

Liburan berlangsung dari 13 April hingga 17 April, yang merupakan Hari Tahun Baru.

Pasukan keamanan telah membunuh 706 pengunjuk rasa, termasuk 46 anak-anak, sejak kudeta, menurut penghitungan oleh kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP).

Angka ini termasuk 82 orang tewas di kota Bago, sekitar 70 kilometer (45 mil) timur laut Yangon, pada Jumat, yang disebut AAPP sebagai "ladang pembantaian". [pan]

Baca juga:
Militer Myanmar Minta Uang Tebusan kepada Keluarga yang Mau Ambil Jenazah Demonstran
CEK FAKTA: Hoaks Foto Wanita dan Bayi Tewas Akibat Ulah Militer Myanmar
Militer Myanmar Bunuh 82 Demonstran dalam Satu Hari
Kelompok Etnis Bersenjata Serang Junta Myanmar, 10 Polisi Tewas
Aktor Tampan Myanmar Diduga 'Hilang', Sempat Suarakan Aspirasi Ini di Media Sosialnya

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini