Auditor Malta dipecat setelah usut dugaan korupsi pejabat

Selasa, 9 Januari 2018 10:48 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Jonathan Ferris. ©2018 BBC

Merdeka.com - Seorang mantan penyidik tindak pidana korupsi Malta, Jonathan Ferris, mengaku merasa keselamatannya terancam karena ikut mengusut latar belakang pembunuhan jurnalis setempat, Daphne Caruana Galizia. Ferris mengatakan ada dugaan kuat sejumlah pejabat yang tersinggung karena artikel ditulis mendiang soal korupsi mengutus pembunuh bayaran buat menghabisi Galizia.

Dilansir dari laman BBC, Selasa (9/1), menurut Ferris, mendiang Galizia pernah mengulas praktik korup dilakukan oleh Kepala Staf Perdana Menteri Malta, Keith Schembri, serta seorang menteri bernama Konrad Mizzi. Galizia menyatakan kalau keduanya memiliki perusahaan abal-abal di Panama bertujuan buat menampung uang dan menghindari pajak.

Nama Mizzi dan Schembri memang muncul dalam daftar Dokumen Panama (Panama Papers) dibocorkan tiga tahun lalu. Dokumen itu adalah daftar klien firma hukum Mossack Fonseca yang menyediakan jasa pembuatan perusahaan cangkang. Namun, keduanya menyangkal dan mengklaim perusahaan itu tidak pernah beroperasi.

Ferris sebelumnya menjadi penyidik di lembaga antipencucian uang Malta (FIAU) mengaku sempat membuka dokumen soal perusahaan cangkang Muzzi dan Schembri, dalam proses investigasi Juni tahun lalu. Namun, tak lama kemudian dia dipecat dengan alasan membuka dokumen yang sensitif.

"Saya meyakini ada alasan politis di balik itu," kata Ferris.

Ferris mengaku sudah berjaga-jaga jika pada akhirnya dia bakal bernasib sama seperti Galizia. Caranya adalah dia membagikan data penyelidikan itu ke enam kerabat dan rekan. Maka dari itu dia juga meminta perlindungan kepada aparat penegak hukum.

"Kalau saya dihabisi, maka informasi itu akan dibuka," ujar Ferris.

Walau demikian, FIAU menyangkal pernyataan Ferris. Menurut mereka, Ferris dipecat karena alasan kinerja.

Aparat penegak hukum Malta menyeret tiga tersangka diduga membunuh pewarta Daphne Caruana Galizia, ke meja hijau. Mereka adalah bagian dari sepuluh orang dibekuk dalam perkara itu Senin lalu.

Ketiga tersangka diadili itu adalah Vincent Muscat (55), serta kakak beradik George Degiorgio (54) dan Alfred Degiorgio (52). Mereka dibawa ke pengadilan dikawal ketat oleh polisi. Mereka disangka membunuh dan menyimpan bahan peledak. Namun, ketiganya menyatakan diri tidak bersalah.

Menurut paparan polisi, Vincent dan Alfred pernah dibui 13 tahun lalu karena kasus perampokan bersenjata. Vincent malah pernah nyaris tewas dalam baku tembak tiga tahun lalu. Sedangkan George dibekuk karena memiliki senjata api ilegal dan punya peralatan buat membuka kunci.

Sedangkan tujuh orang lainnya turut dibekuk Senin lalu dibebaskan dengan jaminan. Meski demikian, sangkaan terhadap mereka bukan berarti gugur. Sebab, proses penyelidikan terus dilakukan. Suami mendiang Caruana Galizia, Peter, hadir dalam sidang perdana para tersangka.

Caruana Galizia tewas dalam ledakan bom dipasang di mobil sewaannya pada 16 Oktober lalu. Insiden itu terjadi saat dia berkendara belum jauh dari rumahnya di Bidnija, Mosta.

Menurut salah satu anak Galizia, Matthew Caruana Galizia, dia melihat langsung mobil ibunya meledak dan berkitir di udara, kemudian jatuh. Matthew saat itu langsung berlari ke arah mobil ibunya yang masih membara dan klaksonnya menyalak, kemudian berusaha membuka pintunya. Dia meminta bantuan kepada dua polisi yang datang tidak lama kemudian buat memadamkan api.

"Mereka memandang saya dan mengatakan, 'tidak ada yang bisa kami lakukan'. Saya lalu melihat sekeliling, dan tubuh ibu saya berserakan," kata Matthew yang mengikuti jejak sang ibu menjadi pewarta.

Mulanya Kepolisian Malta menduga kuat pelaku memasang bom plastik Semtex buatan Israel dengan kendali jarak jauh di mobil Caruana Galizia. Namun, hal itu dikoreksi dan kini mereka menyatakan jenis bahan peledaknya adalah TNT.

Menurut Perdana Menteri Malta, Joseph Muscat, dalam proses penyelidikan kepolisian Malta dibantu oleh Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat (FBI), Kepolisian Uni Eropa, Belanda, dan Finlandia. Mereka dibantu buat menyadap arus komunikasi yang mengarah kepada para tersangka. Termasuk menganalisa sinyal dipakai buat memicu bom di mobil Caruana Galizia.

Matthew meyakini ibunya dibunuh karena pendiriannya yang selalu memerangi penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Apalagi menurut dia ibunya tidak memihak kepada kelompok politik manapun. Dia menuding pejabat dan penegak hukum Malta menyuburkan budaya kebal hukum. Sebab, dugaan korupsi membelit para petinggi negara seolah mudah menguap. Apalagi lembaga keuangan Malta dikenal abai soal asal-usul uang simpanan dan menjadi surga bagi penggelap pajak dan pencucian uang. Dia berharap dengan kejadian ini membikin mata rakyat Malta terbuka dan membawa perubahan.

"Jika seluruh lembaga bekerja, maka tidak perlu ada kasus pembunuhan yang diusut. Dan saya beserta adik masih mempunyai ibu," ujar Matthew.

Galizia membikin Malta terkejut setelah tahun lalu dia menulis laporan investigasi tentang daftar orang-orang menyembunyikan kekayaan mereka melalui perusahaan fiktif di Panama, dikenal dengan Panama Papers. Isinya menyebut istri Joseph Muscat, Michelle, diduga memiliki perusahaan cangkang di Panama, Egrant, buat menampung uang kiriman dari anak perempuan Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev. Azerbaijan memang terikat kontrak memasok gas ke Malta.

Muscat dan istrinya membantah memiliki perusahaan cangkang. Mereka juga menggugat Galizia karena tulisannya. Muscat menyangkal kalau negaranya dianggap sebagai surga pencucian uang dan penggelapan pajak. Namun, Muscat mengakui kalau dia menganggap Galizia adalah musuh besarnya karena hasil laporannya soal Panama Papers.

Keluarga mendiang Galizia juga menolak menerima uang santunan sebesar EUR 1 juta (sekitar Rp 16 miliar) dari negara. Mereka menuntut supaya aparat keamanan setempat membongkar siapa dalang di balik insiden itu.

Tiga anak Galizia, yaitu Andrew, Matthew, dan Paul, mendesak supaya Joseph Muscat mundur dari jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab politik. Mereka mengaku merasa dipaksa negara menerima uang santunan itu.

Dalam satu dasawarsa terakhir sudah terjadi 15 aksi pemboman diduga dilakukan oleh kelompok kejahatan mafia di Malta. Dari semuanya, belum ada satu pun yang terpecahkan hingga detik ini. Hal ini menimbulkan tanda tanya apakah pemerintah setempat serius buat mengungkap pembunuhan terhadap Galizia atau sekedar janji buat melegakan hati keluarga mendiang. [ary]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini