AS Jatuhkan Sanksi ke Perusahaan Minyak Nasional Venezuela

Selasa, 29 Januari 2019 12:46 Reporter : Hari Ariyanti
AS Jatuhkan Sanksi ke Perusahaan Minyak Nasional Venezuela aksi protes maduro di venezuela. ©2019 AFP PHOTO/YURI CORTEZ

Merdeka.com - Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan minyak nasional Venezuela. Sanksi ini diberikan setelah hubungan kedua negara menegang di tengah krisis politik dalam negeri Venezuela. Presiden AS Donald Trump mengakui pemimpin oposisi Juan Guaido sebagai presiden sementara Venezuela yang berujung pada pemutusan hubungan diplomatik oleh Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Sanksi terhadap perusahaan Petroleos De Venezuela SA (PDVSA) bertujuan menekan Maduro agar menyerahkan kekuasaan kepada oposisi. AS berharap sanksi terhadap PDVSA dapat memblokir aset senilai USD 7 miliar dan menghilangkan USD 11 miliar pendapatan negara tersebut. Demikian disampaikan Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton kepada wartawan di Gedung Putih, Senin (28/1).

Sanksi ini menghentikan PDVSA mengumpulkan hasil minyak yang diekspor ke pelanggan AS, termasuk membekukan aset unit-unit PDVSA, termasuk Citgo, anak perusahaannya yang berbasis di AS. Demikian dilansir dari Al Jazeera, Selasa (29/1).

Sanksi ekonomi AS terhadap Venezuela ini atas koordinasi dengan Juan Guaido. Guaido pernah menyampaikan akan melakukan kontrol terhadap aset negara di luar negeri untuk mencegah Maduro menguasai aset-aset dan mengosongkan pundi keuangan Venezuela.

Menanggapi sanksi AS ini, Nicolas Maduro berjanji akan mengambil tindakan dan menyebut sanksi AS sebagai tindakan kriminal. Maduro juga menuduh AS merampok kekayaan minyak negaranya yang secara sah menjadi milik Venezuela.

"Saya telah memberikan instruksi khusus kepada Kepala PDVSA untuk mengambil tindakan secara politik dan hukum, di pengadilan AS dan internasional, untuk mempertahankan kekayaan dan aset Citgo," kata Maduro di televisi pemerintah.

Dalam sebuah pesan dalam bahasa Inggris yang kurang fasih, Maduro berkata dengan tegas kepada Donald Trump: "Lepaskan Venezuela!" Maduro telah lama menuduh AS dan negara-negara lain mengobarkan "perang ekonomi" yang bertujuan menyingkirkannya dari kekuasaan.

"Minyak adalah sumber pendapatan terbesar Venezuela dan AS adalah pelanggan terbesar Venezuela - 41 persen ekspor minyak mereka ke AS, dan aset asing terbesar mereka adalah Citgo, kilang minyak yang berbasis di AS," jelas Kristen Saloomey dari Al Jazeera, melaporkan dari Washington, DC.

"Dan yang terpenting, perusahaan minyak milik negara dikendalikan militer yang merupakan kunci bagi Maduro tetap berkuasa, jadi tujuan pemerintah AS adalah untuk menahan uang ini dari pemerintah Maduro dan mentransfernya ke pasukan yang setia ke Guaido," lanjutnya.

Venezuela, pernah menjadi negara makmur namun kemudian mengalami krisis ekonomi dan jutaan penduduknya melarikan diri ke negara-negara tetangga.

"Kami akan membongkar korupsi Maduro dan kroni-kroninya, dan tindakan hari ini memastikan mereka tidak bisa lagi menjarah aset rakyat Venezuela," kata Bolton.

Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin mengatakan pihaknya juga mengambil langkah untuk mengesahkan transaksi dan kegiatan tertentu dengan PDVSA. Aset Citgo di AS akan diizinkan tetap beroperasi - asalkan setiap dana hasil perusahaan minyak milik negara itu dikirim ke akun yang diblokir di AS.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo menekankan sanksi baru itu tidak menargetkan rakyat Venezuela dan tidak akan mempengaruhi bantuan kemanusiaan, termasuk obat-obatan dan peralatan medis.

"Itu yang sangat dibutuhkan setelah bertahun-tahun kehancuran ekonomi di bawah pemerintahan Maduro," kata dia.

Senator AS Marco Rubio, kritikus vokal Maduro yang menyerukan sanksi itu, menyambut baik langkah itu bahkan sebelum diumumkan. "Keluarga kriminal Maduro telah menggunakan PDVSA untuk membeli dan mempertahankan dukungan dari para pemimpin militer," kata Rubio. "Minyak itu milik rakyat Venezuela, dan karenanya uang yang didapat PDVSA dari ekspornya sekarang akan dikembalikan kepada rakyat melalui pemerintah konstitusional mereka yang sah," lanjutnya. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini