Arab Saudi tak suka Iran diizinkan punya teknologi nuklir

Rabu, 15 Juli 2015 16:26 Reporter : Ardyan Mohamad
Arab Saudi tak suka Iran diizinkan punya teknologi nuklir Reaktor Nuklir Iran di Kota Bushehr. ©2015 AFP/Atta Kenare

Merdeka.com - Bukan hanya Israel yang memprotes keputusan enam negara besar mengizinkan Republik Islam Iran memiliki teknologi nuklir. Kerajaan Arab Saudi, rival politik Iran di Timur Tengah, turut mengkhawatirkan masa depan stabilitas kawasan.

Pejabat pertahanan Saudi yang meminta namanya dirahasiakan, menilai Iran tidak bisa dipercaya begitu saja melepas ambisi mereka menciptakan roket berhulu ledak nuklir.

"Perjanjian ini membuat Timur Tengah menjadi wilayah yang lebih berbahaya," kata pejabat itu kepada Kantor Berita Reuters, Rabu (15/7).

Faktor lain yang dikhawatirkan Negeri Petro Dollar adalah pencabutan sanksi ekonomi Iran. Keuangan negara mayoritas Syiah itu akan membaik, sehingga punya kemampuan memasok dukungan finansial pada sekutu-sekutu mereka di kawasan. Misalnya Hizbullah, pemberontak Houthi di Yaman, serta pasukan Kurdi di Irak. Semua faksi militer tersebut berseberangan dengan kepentingan politik Saudi yang bermazhab Sunni.

"Selama 40 tahun menjalani hubungan diplomatik dengan Iran, yang kami pelajari adalah bersikap baik pada mereka tidak memberi imbal balik yang sepadan," kata pejabat Saudi itu saat diwawancara di Ibu Kota Riyadh.

Petinggi Kerajaan Saudi tidak memberi pernyataan resmi atas perjanjian nuklir antara Iran dan enam negara maju di Kota Wina, Austria, kemarin. Hanya ada pernyataan pers dimuat di koran-koran, meminta lembaga internasional serius memeriksa setiap reaktor nuklir Iran dari kemungkinan memproduksi senjata.

Opini di media massa Saudi tidak gembira mengetahui Iran mendapat kelonggaran memproduksi uranium. "Iran selama ini sudah mengacau di dunia Arab, dan sikap mereka bisa menjadi-jadi setelah perjanjian ini," kata Pembaca Berita Channel 1 Saudi, Mohammed al-Mohya.

Sebelumnya diberitakan, perundingan maraton 18 jam antara Iran dengan enam negara berpengaruh dunia, yakni Amerika Serikat, China, Inggris, Prancis, Jerman, dan Rusia, akhirnya membuahkan kesepakatan.

Iran bersedia mengurangi persediaan fasilitas pengayaan uranium hingga 98 persen. Dengan demikian, negara Syiah kaya minyak itu dipastikan tidak memiliki bahan baku senjata nuklir. Selain itu, pemerintah Iran juga bersedia diperiksa badan internasional Energi Atom (IAEA) saban tahun.

Sebagai imbalannya, sanksi ekonomi yang diberikan pada ekspor Iran selama 13 tahun terakhir dicabut. Di kota-kota besar Iran hari ini, warga bersuka cita. Kesepakatan itu diyakini akan menurunkan harga makanan pokok, memperkuat nilai mata uang Iran, serta membuka lapangan pekerjaan yang anjlok di masa pemerintahan Presiden Mahmud Ahmadinejad. [ard]

Topik berita Terkait:
  1. Nuklir
  2. Iran
  3. Timur Tengah
  4. Arab Saudi
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini