Arab Saudi serbu Yaman, fase baru Sunni lawan Syiah

Jumat, 27 Maret 2015 09:10 Reporter : Ardyan Mohamad
Arab Saudi serbu Yaman, fase baru Sunni lawan Syiah Serangan udara jet tempur Arab Saudi gempur Yaman. ©REUTERS/Khaled Abdullah

Merdeka.com - Tanpa diduga siapapun, kemarin (25/3) Arab Saudi menginvasi Yaman. Tak tanggung-tanggung, Negeri Petro Dollar itu mengerahkan 100 jet tempur dan 150 ribu infantri yang sekarang berjaga di perbatasan kedua negara. Operasi militer ini digalang bersama 10 negara Timur Tengah lainnya.

Juru bicara Saudi, Adel al-Jubair, mengatakan negaranya berkepentingan melindungi pemerintahan sah Yaman, dipimpin oleh Presiden Abdurabuh Mansyur Hadi. Sang presiden itu sejak awal 2015 terpaksa menyingkir dari Ibu Kota Sanaa karena serangan pemberontak dari Suku Houthi yang bermazhab Islam Syiah.

Russian Times melaporkan, Jumat (27/3), dunia internasional mengecam tindakan sepihak Saudi. Rusia meminta Raja Salman sebagai pemimpin Saudi menghentikan operasi militer tersebut.

"Segala kekerasan dan kegiatan militer di Yaman harus dihentikan. Setiap pihak yang bertikai perlu mengupayakan solusi damai," kata Presiden Rusia Vladimir Putin.

Kementerian Luar Negeri China turut prihatin atas perkembangan di Yaman yang sejak dua tahun terakhir mengalami perang saudara.

"China mendesak semua pihak untuk bertindak sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai Yaman, dan untuk menyelesaikan sengketa melalui dialog," ungkap Juru bicara Kementerian China, Hua Chunying.

Analis militer CNN, Rick Francona, meyakini invasi Saudi merupakan babak baru perebutan pengaruh antara dua mazhab dalam Islam di Timur Tengah. Saudi dikenal sebagai negara yang memproklamirkan diri berlandaskan mazhab Sunni. Sementara pemberontak Houthi yang secara de facto menguasai Yaman sekarang berisikan militan Syiah.

"Saudi meyakini Houthi didukung oleh Iran yang juga merupakan negara mayoritas Syiah," kata Francona.

Saudi juga tidak malu-malu mengungkapkan alasan operasi militer itu. Jubair dalam jumpa pers menyatakan pasukan Houthi mendapat pasokan senjata dan dana dari "kekuatan di kawasan."

Presiden Mansyur Hadi yang tersingkir, kini bersembunyi di Kota Aden. Pekan lalu, militan Houthi sudah merangsek masuk ke wilayah tersebut. Dalam waktu kurang dari tiga hari, Saudi akhirnya menggelar operasi militer. Negara-negara di Teluk yang juga bermazhab Sunni ikut serta, semisal Qatar, Kuwait, Yordania, hingga Mesir.

Amerika Serikat dilaporkan belum mau terlibat. Sumber CNN di Pentagon menyatakan Presiden Barack Hussein Obama merestui invasi Saudi, tapi [ard] SELANJUTNYA

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini